Keuangan

Binance: Dicap Ilegal OJK, Digandrungi "Crypto Trader"

Irfan Muhammad– Asumsi.co

featured image
Tangkapan layar situs Binance

Binance baru-baru ini disebut sebagai salah satu platform perdagangan uang kripto ilegal. Berdasarkan pernyataan Ketua Satgas Waspada Investasi (SWI), Togam L Tobing, status ilegal Binance disematkan karena platform tersebut belum terdaftar dan berizin di Badan Pengawas Berjangka Komiditi (Bappebti).

Pernyataan ini lantas menuai komentar pedas dari warganet. Paling kentara dilayangkan kepada kanal berita CNBC Indonesia. Penggunaan kata "investasi bodong" dalam judul berita CNBC dinilai oleh komunitas crypto trader menyudutkan Binance. Padahal, Binance adalah salah satu toko crypto terbesar di dunia.

Di Indonesia sendiri, pemain uang kripto ini memang menunjukkan peningkatan yang cukup pesat. Pada April 2021, mengutip Antara, CEO Indodax Oscar Darmawan di Jakarta menyatakan jumlah anggota Indonesia Bitcoin dan crypto exchanges saat ini mencapai 3 juta anggota aktif.

Baca juga: Nilainya Merosot, Inilah Sederet Risiko Mata Uang Kripto! | Asumsi

Akses Cepat, Biaya Murah

Untuk mengetahui tentang apa itu Binance, Asumsi mencoba masuk ke lamannya. Namun, untuk mengaksesnya, Asumsi perlu menggunakan VPN karena tanpanya, laman hanya menunjukkan lambang segitiga merah dengan tanda seru putih di dalamnya, tanda tak bisa diakses.

Berdasarkan informasi yang ditaruh di laman tersebut, Binance memang banyak diakses. Tercatat lebih dari 1.400.000 transaksi per detik dengan layanan setiap hari 24 jam. Dia juga mengklaim sebagai platform pertukaran uang kripto dengan volume perdagangan tercepat dan terbesar di dunia.

Mengutip laman Cryptoharian, Binance unggul karena menawarkan trader 50 macam uang kripto. Sementara platform lain hanya memberi sembilan macam. Binance juga mempermudah trader dalam membaca grafik koin.

Platform ini juga unggul karena biaya waktu menukarkan koin yang relatif murah yakni hanya 0.1 persen. Nilai ini bahkan diklaim sebagai biaya yang sangat murah bila dibandingkan dengan berbagai layanan lain seperti Bittrex, misalnya. Tidak hanya memfasilitasi dengan menukarkan koin atau menjual koin tapi Binance juga memiliki koin Crypto yang dinamakan BNB, yang memungkinkan trader mendapat diskon saat bertransaksi dengan koin ini.

Namun, kekurangan Binance tidak mengizinkan trader membeli dengan fiat/rupiah. Untuk membeli dengan rupiah, trader harus membeli koin di Indodax atau coinbase sebelum kemudian mengalihkannya ke Binance.

Baca juga: Susul Popularitas Bitcoin, Ini Alasan Banyak Investor Pilih Ether Jadi Mata Uang Digital | Asumsi

Binance juga cukup tertib dalam hal mengamankan aset penggunanya. Dalam lamannya, Binance bahkan mengklaim sebagai bursa cryptocurrency yang paling aman di dunia.

Demi memastikan dana penggunanya tetap aman, Binance menyebut pihaknya menggunakan pendekatan keamanan dari berbagai bidang, dari teknologi dan investasi ke masyarakat dan edukasi. Pihaknya juga bahkan meluncurkan Binance Academy untuk mengedukasi publik tentang keamanan Kripto.

Belum Ada Izin

Mengutip CNN Indonesia, dalih Otoritas Jasa Keuangan mengecap Binance sebagai platform ilegal karena Binance hingga saat ini tak mengantongi izin dari otoritas yang berwenang. Dalam hal ini, pengawas dan regulator perdagangan aset kripto adalah Badan Pengawas Berjangka Komoditi (Bappebti).

Ketua Satgas Waspada Investasi (SWI) OJK, Tongam L Tobing mengatakan, pihaknya telah memanggil perwakilan Binance pada Oktober 2020 lalu dan menutup kantor perwakilannya di Indonesia. Ia menyatakan Binance akan terus dilarang selama tidak ada izin dari Bappebti.

"Informasi mengenai daftar perusahaan investasi ilegal dapat dilihat di website OJK," kata Tongam.

Baca juga: Beda Kiblat, Ini Pendapat Elon dan Warren Tentang Uang Kripto! | Asumsi

Diketahui, mata uang kripto semakin diminati oleh pasar saat ini, termasuk Indonesia. Bappebti mencatat nilai transaksi uang kripto mencapai Rp126 triliun.

Masih dari CNN Indonesia, Ketua Bappebti Sidharta Utama menilai, angka itu akan terus bertambah seiring dengan pesatnya pertumbuhan nilai aset kripto. Terlebih, masyarakat juga semakin antusias terhadap investasi tersebut.

Sebagai gambaran, harga bitcoin dari 1 Januari 2021 hingga 20 April 2021 naik sebesar 96,87 persen atau dari harga Rp412.280.080 naik menjadi Rp811.672.919. Kenaikan inilah yang membuat masyarakat tergiur menjadi pelanggan aset kripto melakukan transaksi dan/atau investasi aset kripto.

Share: Binance: Dicap Ilegal OJK, Digandrungi "Crypto Trader"