featured

Foto: Unsplash

Keuangan

24 Apr 2021

Nilainya Merosot, Inilah Sederet Risiko Mata Uang Kripto!

Awan

Di tengah euforia dari cryptocurrency atau uang kripto, nyatanya menyisakan sejumlah kabar yang kurang mengenakkan bagi para penggemarnya. Selain permasalahan klise dari turunnya nilai uang kripto, kasus penipuan juga ikut meramaikan pahitnya berinvestasi di mata uang yang sekilas begitu menggiurkan ini.

Pada perdagangan di sepanjang pekan kemarin, tercatat nilai dari uang kripto kompak anjlok. Uang kripto unggulan seperti Bitcoin, Ethereum, Binance Coin,  XRP, hingga Dogecoin yang sering jadi lelucon, tercatat mengalami penurunan yang cukup dalam. 

Tengok saja Bitcoin, hingga berita ini dibuat, dalam sepekan terakhir harga Bitcoin sudah anjlok hingga 19,31%. Sedangkan, Dogecoin yang sempat jadi primadona, nilainya anjlok hingga 13,91% dalam sepekan.

Baca juga: Awalnya Cuma Meme, Sekarang Dihargai 40 Milyar! Ini Cerita Dogecoin

Tekanan yang terjadi hampir di seluruh uang kripto membuat nilai uang kripto yang ada di dunia lenyap hingga ratusan miliar dolar Amerika Serikat. Mengutip CNBC, Sabtu (24/4) valuasi atau nilai dari seluruh mata uang kripto menyusut hingga USD 200 miliar, atau setara dengan Rp2.900 triliun rupiah. Angka tersebut bahkan melebihi pendapatan negara Indonesia dalam setahun yang mencapai Rp1.957 triliun pada tahun 2019 silam.

Tidak jelas apa penyebab rontoknya mata uang kripto, namun analis yang diwawancarai CNBC menyebut rencana Presiden Amerika Serikat, Joe Biden yang akan kerek pajak pendapatan investasi hingga 43,4% diduga menjadi biang kerok.

Kasus Penipuan Uang Kripto

Walaupun sering menjadi olok-olok hingga ‘meme’ lucu, tidak sedikit investor yang menjadikan uang kripto sebagai sumber pemasukan mereka. Tidak sedikit juga dari mereka yang justru terpeleset dan harus merugi atau tertipu.

Di Turki, setidaknya ada sekitar 390.000 investor yang tertipu dari investasi uang kripto. 

Mengutip AP, nilai dari hasil penipuan itu mencapai Rp29 triliun rupiah. Kasus bermula saat para investor tidak bisa mengakses aset digital uang kripto mereka yang disediakan oleh Thodex. Thodex sendiri adalah sebuah perusahaan penyedia jasa jual dan beli uang kripto atau biasa disebut exchanger.

Berbeda dengan bursa yang mempetemukan penjual dan pembeli, exchanger akan berperan seperti money changer yang siap menampung berapapun uang yang akan dijual dengan harga di bawah pasar. Pemilik Thodex, Faruk Fatih Ozer, diduga membawa kabur uang kripto milik investornya dan lari ke luar negeri. Tentu ini pekerjaan mudah, lantaran aset yang dibawa kabur adalah uang kripto yang notabene tidak ada bentuk fisiknya.

Kendati Ozer menyebut aksinya bukan untuk membawa kabur uang investornya, namun, tetap saja, investor yang ingin mengambil asetnya terhalang akses yang ditutup oleh Thodex.

Baca juga: Kevin Lehmann, Pemuda 18 Tahun yang Masuk Daftar Orang Terkaya Dunia

Penipuan Uang Kripto di Dalam Negeri

Aksi tipu-tipu uang kripto juga tercatat menghampiri Indonesia. Iming-iming cuan besar menjadi celah mudah bagi pihak yang tidak bertanggung jawab untuk mengelabui para korban. 

Mengutip CNN Indonesia, baru-baru ini Tim Bareskrim Polri menyelidiki perusahaan E-Dinar Coin Cash (EDCCash) yang diduga telah merugikan 57.000 nasabahnya dengan investasi bodong uang kripto.

EDCCash bahkan berhasil menghimpun dana masyarakat hingga Rp285 miliar. Padahal, mereka tidak memiliki izin dari Otoritas Jasa Keuangan untuk menghimpun dana masyarakat. Modusnya sederhana, investor diiming-iming imbalan hasil pasti hingga 15% per bulan dengan menyetorkan uang mereka ke EDCCash, yang dijanjikan akan disimpan pada instrumen uang kripto.

Merespon kejadian ini, Satuan Waspada Investasi Otoritas Jasa Keuangan (SWI-OJK) Tongam L Tobing mengingatkan masyarakat untuk jangan tergiur investasi yang menjanjikan imbal hasil pasti. Mengutip Detik, menurut Tongam tidak ada yang pasti dalam investasi, risiko nilai aset turun pasti ada.

OJK juga mengingatkan untuk gunakan penyedia jasa atau layanan uang kripto yang terdafatar otoritas terkait, adapun saat ini izin exchanger uang kripto berada di bawah Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti).

Share: Nilainya Merosot, Inilah Sederet Risiko Mata Uang Kripto!