Bisnis

Tertarik Berkebun Emas? Kenali Dulu Risikonya

OlehIlham Anugrah

featured image
unsplash

Berkebun emas merupakan teknik investasi emas yang sempat viral di tahun 2011-2013. Saat itu, tren harga emas sempat meningkat. Pada tahun 2011, harga emas Rp400 ribu per gram, meningkat ke angka Rp500 ribu per gram pada tahun 2012. Kemudian, harga emas naik lagi menjadi Rp550 ribu per gram pada kuartal pertama tahun 2013.

Teknik berkebun emas pada prinsipnya menggadaikan emas dengan tujuan untuk membeli emas-emas baru. Biasanya bank atau pegadaian akan memberikan pinjaman sekitar 80 persen dari harga emas.

Misalnya, 100 gram emas seharga Rp100 juta, maka kita akan mendapat pinjaman sebesar Rp80 juta. Dengan uang tersebut, kita bisa membeli beberapa gram emas dan ketika harga tinggi emas itu kita jual.

Baca juga: Naik Turun Harga Emas, Bagaimana Prospek Investasinya? | Asumsi

Berkebun Emas Hanya Untuk Profesional

Perencana Keuangan Gita Bagia Romadhoni berpendapat bahwa berinvestasi dengan cara berkebun emas hanya untuk profesional. Ia tidak menyarankan hal itu untuk kalangan pemula.

“Kalau sudah paham enggak apa. Investasi pakai utang untuk mereka yang profesional dan sudah biasa itu enggak masalah menurut saya,” katanya.

Menurut pria yang biasa disapa Dhoni ini, mereka (profesional) sudah mengetahui celah kapan harga menurun dan harga naik.

“Buat yang masih belajar, alangkah baiknya jangan dilakukan karena akan membebankan pikiran dengan utang. Ditambah lagi ada bunga yang harus dibayar,” katanya.

Ia menjelaskan, harga emas memang cenderung naik. Namun, tidak ada yang tahu apakah tahun depan harga emas akan naik atau tidak.

“Harga emas dunia juga kenaikannya enggak signifikan, tapi kalau dikonversi ke harga rupiah kecenderungannya naik,” katanya.

Baca juga: Lima Tips Investasi Semasa Pandemi | Asumsi

Berkebun Emas Hanya Bisa Dilakukan Saat Harga Emas Meningkat 20 persen

Tejasari CFP dari Tatadana Consulting menjelaskan fenomena berkebun emas saat itu dikarenakan harga emas sempat naik 20 persen. Jika harga naik minimal 20 persen, menurut Teja, berkebun emas bisa dilakukan.

“Misal kita punya punya 100 gram, kita gadaikan dan mendapat uang Rp80 juta. Dari uang yang kita dapat, kita beli lagi emas. Nanti harga emas naik, kita gadaikan lagi, gitu terus. Emasnya jadi banyak, tapi jangan lupa bayarnya,” katanya.

Berkebun emas, kata dia, sebetulnya mengambil selisih dari kenaikan harga emas. Itu bisa dilakukan apabila harga emasnya di atas 20 persen.

“Kalau sekarang kan hanya 5 persen, jadi enggak bisa bayar bunganya. Jadi tidak bisa dilakukan kalau harga emas stabil,” katanya.

Baca juga: Gencarnya Milenial Investasi Saham | Asumsi

Berkebun Emas Lebih Banyak Risiko Ketimbang Untung

Selain untuk profesional, ternyata berkebun emas lebih banyak risiko ketimbang untung. Hal ini diungkapkan Direktur dari PT TRFX Garuda Berjangka, Ibrahim. Ia mengetahui teknik berkebun emas karena sempat mengalami masa-masa orang melakukan teknik itu.

“Kebun emas zamannya SBY sempat mengalami rontok karena harga emas di level 1.900. Ada informasi ke angka 2.000 atau 2.200, ternyata harga anjlok. Banyak masyarakat saat itu mengalami kerugian,” katanya.

Ia mewanti-wanti bahwa kebun emas tidak baik untuk investasi. Sebaiknya masyarakat memilih menabung dan melakukannya secara sendiri.

“Berkebun emas jangan dijadikan alasan atau strategi atau investasi. Apalagi jika ada yang menawarkan dengan sistem Ponzi,” katanya.

Ibrahim mengatakan, masyarakat lebih baik langsung membeli emas sendiri saat memiliki uang. Ia tidak menyarankan untuk menggunakan pihak lain.

“Karena banyak kejadian, emasnya enggak ada, emasnya hilang. Kondisi saat ini berbeda dari sebelumnya, untuk itu sebaiknya memilah-milah dalam berinvestasi,” katanya.

Share: Tertarik Berkebun Emas? Kenali Dulu Risikonya