Via Vallen Melawan Pelecehan Seksual, Kok Malah Dibully?

Pedangdut muda yang lagi naik daun, Via Vallen, marah-marah di postingan Instagram Story-nya, beberapa hari lalu, 4 Juni. Pasalnya, dia baru saja dapat pesan berisi dugaan pelecehan seksual dari seorang pesepakbola asing yang bermain di Indonesia, yang tidak disebutkan namanya, yang memintanya bernyanyi dengan berpakaian seksi di kamar hotelnya.

Dunia maya pun berguncang. Sebagian mengapresiasi keberanian Via, tapi sebagian lainnya memilih menjadi pelaku pasif. Yup, saya bilang pelaku pasif, karena ketika orang-orang memilih untuk balik menyerang korban yang sudah berusaha speak up, saat itulah mereka menjadi pelaku pasif.

Coba saja mampir ke dua postingan terbaru di akun Instagram Via, dan lihat komentarnya. Meski ada juga yang mendukung, enggak bisa dipungkiri kalau sebagian besar lainnya justru menghina. Kalau mau dikompilasi, kira-kira seperti ini komentar yang ada:

‘Wajarlah…’

Atau lengkapnya, “Wajarlah, namanya juga bule”, “Wajarlah, namanya juga jadi artis/public figure, “Wajarlah, namanya juga cowok”.

Hmm, memangnya kalau pelakunya bule, lantas tindakan pelecehan ini jadi wajar? Hanya karena dibilang budaya para bule ini berbeda dengan budaya Indonesia, lantas jadi enggak apa-apa? Pada banyak kasus pelecehan seksual, korban tidak suka pada tindakannya, tidak peduli siapa pelakunya. 

Kasus pelecehan seksual oleh produser film Hollywood, Harvey Weinstein, yang dikecam banyak orang, termasuk para aktris Hollywood sendiri, menunjukkan bahwa enggak peduli siapa pelakunya, pelecehan adalah pelecehan. Mereka sama-sama bule, lo…

Lalu, apakah karena artis berarti boleh dilecehkan? Artis itu hanya profesi. Di luar profesinya, mereka adalah manusia yang punya otoritas penuh atas tubuhnya.

Dan hei, laki-laki, memangnya kalian mau diberikan label sebagai pelaku pelecehan seksual, alias penjahat?

Pelecehan seksual bisa terjadi pada siapa saja, perempuan maupun laki-laki, dan bisa dilakukan oleh siapa saja, perempuan atau pun laki-laki. Permasalahannya adalah tindakannya, bukan siapa pelakunya. Dan tindakan pelecehan seksual, tidak pernah menjadi kewajaran. 

‘Makanya Pakai Baju yang Tertutup,’ dan Sejenisnya

Kembali lagi dengan kalimat-kalimat klise ini. Entah harus berapa kali disebutkan, pakaian enggak pernah seharusnya menjadi alasan untuk melakukan pelecehan seksual. Pameran pakaian korban pemerkosaan di Belgia sudah menunjukkan bahwa pelecehan seksual bisa terjadi pada siapa saja, tanpa pandang pakaiannya.

Atau pernah dengar kelompok yang menamakan dirinya Akhwat Hunter? Yup, sesuai namanya, mereka justru menganggap wanita yang menggunakan pakaian tertutup lebih menggairahkan.

Jadi, masih mau bilang kalau pelecehan seksual itu dikarenakan pakaian yang dikenakan korban?

‘Lebay Lo! Cuekin Aja, Lah! Cari Sensasi Banget!’

Hadeuh, ternyata bagi banyak netizen ini, biarkan saja para pelaku terus melakukan pelecehan seksual pada orang lain. Toh, mendiamkan mereka artinya terus memberikan ruang dan tidak memberikan efek jera bagi pelaku. Apalagi, saat kita sering dibilang kalau diam artinya iya atau setuju.

Dan kalau hal seperti ini terus didiamkan, artinya secara tidak langsung, kita sudah mendukung pemerkosaan untuk terus terjadi. Kenapa? Ya, karena pemerkosaan ada dimulai dari pelecehan seksual yang terus diberi ruang untuk terjadi.

Lagi pula, buat apa lagi Via Vallen cari sensasi? Dia sudah termasuk salah satu artis terkenal dan tengah naik daun saat ini, apalagi kalau dibandingkan dengan hidupmu yang begitu-begitu saja, ya kan, netizen?

‘Kenapa Di-posting Sih? Kan Kasihan Kariernya … (pelaku)!’

Eh, gimana, gimana? Jadi yang kasihan itu pelakunya, karena nama baiknya tercoreng, reputasinya hancur, dan kariernya terancam?

Wahai netizen, seperti yang iya tulis dalam unggahannya tersebut, ia berjanji tidak akan menyebarkan nama pelakunya. Dan dia melakukannya dengan menutup nama pengirim pesan tersebut. Jika memang netizen bisa menduga siapa pelakunya (karena memang dicari tahu dengan segala cara), bukan karena Via yang menyebarkannya, kan? 

Baca Juga: Wajib Tahu! Jenis Pelecehan Seksual dan Hukumannya di Berbagai Negara

Jadi masih salah Via?

Seandainya Via menyebutkan namanya pun, kalau kata pepatah, berani melakukan artinya harus berani bertanggung jawab. Jadi kalau memang reputasi pelaku hancur karena ulah sendiri, bukan kah adalah memang sebagaimana mestinya?

‘Bahasa Inggrisnya Jelek’

Ya, oke, komentar kalian enggak nyambung. Ada orang protes soal pelecehan seksual yang diterimanya, malah dikomentarin soal grammar bahasa Inggrisnya. Hadeuh.

Miris enggak sih, ketika korban mau speak up, tapi malah diserang balik. Aneh-aneh pula serangannya. Victim blaming tidak pernah jadi cara yang tepat untuk menghadapi korban pelecehan seksual, apalagi pemerkosaan. 

Baca Juga: Via Vallen dan Gita Savitri Mengalami Pelecehan Seksual, Bagaimana Mereka Menyikapinya?

Via bukan satu-satunya korban. Beberapa hari yang lalu, seorang selebgram dan Youtuber Indonesia, Gita Savitri, juga mengalami hal serupa. Ia mendapat pesan dari seseorang yang memintanya menjual diri dan berhubungan intim dengan pelaku.

Meski kasus Gita sedikit ruwet dan berbuntut panjang, karena ternyata pengirim pesan itu adalah akun palsu dengan menggunakan foto orang lain, tapi intinya kasus pelecehan seperti ini nyata dan banyak terjadi. Gita juga menceritakan kasusnya ini ke Instagram Story, dan malah mendapat banyak cercaan, yang mana serupa dengan yang diterima Via.

Buka suara saat menjadi korban pelecehan seksual tidak pernah mudah. Takut tidak dipercaya, takut disalahkan balik, dan takut pandang menjijikan, takut diintimidasi, takut jadi korban lagi, dan lainnya. Apalagi kalau pelakunya orang terkenal, pasti lebih banyak ketakutan lainnya. Ketakutan pada hal-hal persis seperti yang dilakukan kebanyakan netizen saat ini.

Sumber: SGRC UI

Perlu diingat, saat kalian melakukan victim blaming, dengan menutup ruang bersuara korban, artinya kalian sudah menjadi pelaku pasif. Tindakan-tindakan ini juga membuat 93 persen korban tidak mau melaporkan kasus pelecehan seksual, menurut survei Lentera Sintas Indonesia tahun 2016. Senang?

Serius, deh, mendukung korban pelecehan seksual itu enggak susah. Yang perlu dilakukan, berdasarkan menurut Support Group and Resource Center on Sexuality Studies Universitas Indonesia (SGRC UI), cukup dengan mendengarkan kisah korban, berpihak dengan tidak menyalahkan atau menghakimi korban, dan percaya pada ceritanya.

Lebih lanjutnya, kamu juga bisa bantu korban untuk mencari informasi penting, misalnya tentang layanan pendampingan dan lainnya, atau pihak-pihak yang bisa mendukung korban secara lebih profesional. 

Dengan langkah semudah itu, kita memang tidak akan bisa meyakinkan bahwa pelecehan seksual akan benar-benar musnah dan hilang, atau bahwa seseorang pasti tidak akan mendapatkan pelecehan seksual. Tapi setidaknya, kita bisa menolong korban dengan menciptakan lingkungan yang lebih ramah bagi korban, dan mendukung serta memberikan ruang bicara.

Sekarang, hanya perkara mau atau tidak.

Rosa Cindy adalah penyuka isu sosial dan jalan-jalan. Seperti banyak perempuan lain, dia pernah mendapat pelecehan seksual dalam banyak bentuk, secara sadar atau tidak. Dia bukan feminis, tapi dia mengerti rasanya mendapat victim blaming. Sapa dia melalui akun media sosialnya, @rosacindys.

Related Article