Pemimpin Dunia Menggalang Dana Pengembangan Vaksin COVID-19 Senilai 122 Triliun Rupiah

Para pemimpin dunia berkomitmen mengalokasikan dana sekitar 7,4 miliar euro atau setara Rp122 triliun untuk mengembangkan vaksin dan penanganan medis COVID-19. Hal itu diumumkan dalam konferensi video yang digelar Uni Eropa bersama setidaknya pemimpin 40 negara di seluruh dunia, Senin (4/5).

Amerika Serikat dan Rusia tidak ikut ambil bagian dalam konferensi tersebut tanpa alasan yang jelas. Pada bulan lalu, Presiden AS Donald Trump bahkan membekukan sumbangan mereka untuk WHO. 

Perdana Menteri Norwegia Erna Solberg berkata, "Sangat disayangkan AS bukan bagian dari inisiatif ini. Anda seharusnya menghadapi krisis ini bersama-sama dengan orang lain," kata Solberg, dikutip Reuters.

Baca Juga: Uji Coba pada Monyet Berhasil, Vaksin COVID-19 Oxford Segera Diproduksi Massal?

Sementara Cina, yang merupakan tempat penemuan COVID-19, memberikan dukungan lewat duta besarnya untuk Uni Eropa. Beberapa negara non-Uni Eropa lain yang ikut hadir dalam konferensi virtual itu di antaranya Inggris, Norwegia, Jepang, Kanada, dan Arab Saudi. 

Target dana penggalangan ini mencapai 7,5 miliar euro, lebih tinggi dari capaian saat ini. Menurut Komisi Eropa, dari dana 7,5 miliar euro yang awalnya dicari, sebanyak 4,4 miliar euro (Rp66 triliun) akan dialokasikan untuk pengembangan vaksin, sementara dua miliar euro (Rp30 triliun) dipakai untuk penelitian pengobatan, dan sisanya 1,6 miliar euro (Rp24 triliun) digunakan untuk memproduksi alat tes.

Dana itu juga akan digunakan untuk mendistribusikan vaksin ke negara-negara miskin secara merata dan tepat waktu. Secara keseluruhan, lebih dari 30 negara, ditambah PBB serta berbagai badan filantropi dan lembaga penelitian turut berkontribusi.

Prancis menyumbang 510 juta euro, Jerman 525 juta euro, Jepang 762 juta euro, Spanyol 125 juta euro, Kanada 551 juta euro, Norwegia 188 juta euro, Inggris 441 juta euro, dan Italia 71,5 juta euro.

Baca Juga: Perang di Yaman Tak Berhenti Karena COVID-19

Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Tedros Adhanom, mengatakan bahwa aksi ini merupakan demonstrasi solidaritas global yang kuat dan menginspirasi. Meski begitu, ia mengingatkan, jumlah tersebut mungkin hanya memadai untuk tahap awal penelitian.

"Acara hari ini hanya mencakup satu bagian dari respons untuk penelitian dan pengembangan dalam vaksin, diagnostik dan terapi. Dalam beberapa minggu dan bulan ke depan, kita akan membutuhkan dana lebih banyak lagi untuk memenuhi permintaan peralatan pelindung pribadi, oksigen medis, dan pasokan penting lainnya, " kata Tedros.

Sementara itu, Presiden Komisi Uni Eropa, Ursula von der Leyen, selaku tuan rumah, mengatakan dana yang dijanjikan tersebut tentu saja akan membantu memacu kerja sama global yang belum pernah terjadi sebelumnya. Ia menyebut aksi negara-negara itu menunjukkan nilai sejati dari persatuan dan kemanusiaan. 

"Saya percaya 4 Mei akan menandai titik balik dalam perjuangan kita melawan virus Corona karena hari ini seluruh dunia berkumpul,” kata von der Leyen. “Mitranya banyak, tujuannya satu: untuk mengalahkan virus ini.”

Sejumlah kepala negara pun ikut buka suara terkait penggalangan dana yang baru pertama kali diadakan, sejak wabah COVID-19 dinyatakan WHO sebagai pandemi pada Januari 2020. Perdana Menteri Inggris, Boris Johnson, mengatakan, "Semakin kita bersama" dalam berbagi keahlian, "semakin cepat ilmuwan kita akan berhasil" dalam mengembangkan vaksin.

Johnson menegaskan bahwa pencarian vaksin bukanlah persaingan antarnegara. “Kita akan membutuhkan upaya global yang sesungguhnya karena tidak ada satu negara, dan tidak ada satu pun perusahaan farmasi, yang bisa melakukan ini sendirian,” kata Johnson.

Baca Juga: Bagaimana Irak Menghadapi COVID-19?

Sementara itu, Presiden Prancis, Emmanuel Macron, mengatakan setiap vaksin yang didistribusikan tidak akan menjadi milik siapa pun atau negara tertentu. “Mereka yang menciptakannya tentu saja akan dibayar secara adil, tetapi akses akan diberikan kepada orang-orang di seluruh dunia oleh organisasi yang kami pilih," kata Macron.

Pejabat Uni Eropa mengatakan perusahaan farmasi yang akan menerima dana tidak akan diminta untuk melepaskan hak kekayaan intelektual mereka atas vaksin, namun mereka harus berkomitmen untuk membuatnya tersedia di seluruh dunia dengan harga terjangkau.

Pada saat yang sama, para pemimpin dunia yang ikut serta dalam konferensi virtual tersebut juga memberikan dukungan kepada WHO, yang belakangan harus menghadapi kritik AS terkait penanganan COVID-19. 

Di sisi lain, PBB mengatakan kembalinya kehidupan normal hanya akan mungkin terjadi dengan adanya vaksin. Bahkan, sampai hari ini, puluhan proyek penelitian yang berusaha menemukan vaksin saat ini sedang berlangsung di seluruh dunia.

Dengan komitmen finansial yang lebih besar sekalipun, perlu waktu untuk mengetahui mana vaksin terbaik. Sebagian besar ahli berpikir mungkin kita harus menanti hingga pertengahan 2021, sekitar 12-18 bulan setelah kemunculan virus.

Hingga Selasa (05/04), berdasarkan data real time Worldometers, jumlah kasus positif COVID-19 di seluruh dunia sudah mencapai 3.660.055 orang. Dari jumlah itu, yang sembuh ialah 1.203.850 orang dan yang meninggal dunia 252.675 orang.

Related Article