Uji Coba pada Monyet Berhasil, Vaksin COVID-19 Oxford Segera Diproduksi Massal?

Para ilmuwan di segala penjuru dunia berlomba-lomba menciptakan vaksin untuk virus SARS-CoV-2. Kabar terbaru, para peneliti di Universitas Oxford, Inggris, selangkah lebih maju dalam pengembangan vaksin COVID-19.

Dalam uji cobanya di Rocky Mountain Laboratory, Montana, Amerika Serikat, pada bulan lalu, enam ekor monyet macaque rhesus (Macaca mulatta) disuntik dengan satu dosis vaksin tersebut. Meski kemudian dipaparkan dengan virus SARS-CoV-2 dalam kadar tinggi, hewan-hewan itu sehat selama lebih dari 28 hari.

Keberhasilan tersebut merupakan perkembangan baik meski memang belum ada jaminan vaksin serupa bisa efektif bekerja pada manusia. Setidaknya, ini titik terang bahwa virus Corona bisa ditangani menggunakan vaksin.

“Monyet-monyet ini kurang lebih merupakan makhluk terdekat dengan manusia,” kata Vincent Muster, peneliti yang menguji coba vaksin tersebut, dikutip dari The New York Times, Senin (27/04/20). Ia menyatakan analisis hasil uji coba masih diproses, dan akan membagikannya dengan ilmuwan lain pada pekan depan. Kemudian, ia akan mengirimkan hasil itu ke jurnal ilmiah yang telah "peer-reviewed." 

Para pengembang vaksin berencana menjadwalkan uji coba kepada manusia pada akhir bulan depan. Nantinya, kalau pengujian berhasil di semua tahap dan disetujui oleh regulator, kemungkinan pada bulan September mendatang beberapa juta dosis vaksin sudah tersedia.

Dikutip dari Reuters, The Serum Institute of India, produsen vaksin terbesar di dunia berdasarkan jumlah, mengatakan pada hari Selasa (28/04), bahwa mereka hendak memproduksi hingga 60 juta dosis vaksin potensial yang dikembangkan oleh Oxford University, yang sedang dalam uji klinis.

Chief Executive Serum Adar Poonawalla menjelaskan, "Mereka adalah sekelompok ilmuwan hebat yang sangat memiliki kualifikasi tinggi. Itulah sebabnya kami akan mengikuti mereka dengan percaya diri," kata Poonawalla kepada Reuters dalam wawancara telepon.

Sebelumnya, para peneliti dari Sinovac Biotech, sebuah perusahaan swasta yang berbasis di Beijing, Cina, juga mengatakan bahwa vaksin mereka efektif pada monyet rhesus. Dalam laporan ScienceMag, Kamis (23/04), mereka memberikan dua dosis vaksin COVID-19 yang berbeda kepada delapan monyet rhesus.

Setelah itu, mereka memaparkan virus SARS-CoV-2 ke paru-paru monyet tersebut melalui saluran trakea. Hasilnya? Monyet-monyet yang divaksin dengan dosis tertinggi memiliki respons paling bagus. Tujuh hari setelah dipaparkan virus Corona, para peneliti tak mendeteksi virus apa pun di paru-paru monyet-monyet itu.

“Hasilnya membuat kami semakin percaya diri bahwa vaksin tersebut akan bekerja pada manusia,” kata Meng Weining, Direktur Senior Sinovac untuk Urusan Luar Negeri. Sinovac sendiri dikenal sebagai perusahaan pembuat vaksin berpengalaman.

Meng menyebut, kalau vaksin racikan perusahaannya terbukti aman dan efektif saat diuji coba kepada manusia, bukan tidak mungkin untuk memproduksi massal vaksin tersebut dengan jumlah maksimum 100 juta dosis. Untuk memproduksi sebanyak itu, mereka mungkin saja perlu bermitra dengan perusahan pembuat vaksin lainnya.

Adrian Hill, Kepala The Jenner Institute di Oxford University, menjelaskan bahwa satu-satunya cara untuk membuktikan bahwa vaksin yang mereka kembangkan berfungsi adalah dengan cara menyuntik orang yang tinggal di wilayah dengan tingkat penyebaran COVID-19 yang tinggi. Sebab, cara lain seperti upaya sengaja memaparkan atau menginfeksi manusia peserta tes dengan penyakit serius tentu saja dilarang keras oleh etika. 

Seandainya laju kasus baru COVID-19 di Inggris melambat dan terlalu sedikit peserta uji coba yang terinfeksi, para ilmuwan harus mencobanya di tempat lain dengan kasus COVID-19 yang besar, mungkin di Afrika atau India.

"Kami harus mengejar epidemi,” ujar Hill.

Related Article