featured

Foto: Unsplash

Covid-19

21 Jul 2021

Olimpiade Tokyo 2020 Dikhawatirkan Jadi Klaster Global Covid-19

Ray

Olimpiade Tokyo 2020 dinilai sejumlah pihak akan berpotensi menjadi klaster baru Covid-19, menyusul laporan terkini sudah ada 71 kasus. Padahal, upacara pembukaan ajang internasional itu tinggal hitungan hari. 

Dikhawatirkan Muncul Klaster Kamp Atlet dan Pengunjung

Melansir Bloomberg, adanya kasus Covid-19 di tengah persiapan perhelatan Olimpiade Tokyo 2020, mulai dilaporkan otoritas setempat sejak 2 Juli lalu. Hingga Senin (19/7/21), sejumlah atlet dari berbagai negara, dilaporkan terpapar virus ini. 

Atlet yang terkonfirmasi positif virus corona di antaranya salah seorang atlet senam wanita AS, dan dua pemain sepak bola asal Afrika Selatan. Para atlet tersebut diketahui tinggal di kamp pelatihan pra-Olimpiade yang terletak di Inzai, kota timur laut Tokyo. 

Kekhawatiran kamp atlet menjadi klaster Covid-19 pun mengemuka, meski pihak penyelenggara Olimpiade Tokyo 2020 memastikan sudah 85 persen staf dan atlet divaksinasi. Ada atlet yang saat ini belum menerima vaksin. Sebab, tidak semua atlet diwajibkan untuk melakukan vaksinasi saat berlaga.

Baca Juga: Euro 2020 Jadi Klaster Corona Varian Delta, Haruskah Disetop Penyelenggaraannya? | Asumsi

Sementara itu, penonton pun sudah resmi dilarang datang ke venue Olimpiade Tokyo 2020. Pengumuman larangan ini disampaikan Gubernur Tokyo Yuriko Koike setelah menggelar rapat dengan Komite Olimpiade Internasional (IOC), dan Panitia Lokal Olimpiade Tokyo (TOCOG), pada Kamis (8/7/2021) lalu. 

Larangan bagi penonton datang ke venue pertandingan tersebut, baru diketahui beberapa jam setelah pengumuman keadaan darurat di ibu kota Jepang, yang dimulai Senin (12/7). 

Hingga Selasa (20/7/2021) kemarin, lonjakan Covid-19 di Tokyo sudah mencapai 1.387 kasus baru.

Ketua Panitia Penyelenggara Olimpiade Tokyo Toshiro Muto, seperti dilaporkan NPR, memastikan terjadinya penularan virus corona di tengah persiapan acaranya terus diawasi. Dia mengatakan, semua orang yang dinyatakan positif Covid-19 di tengah pertandingan, dipastikan bakal langsung diisolasi selama 14 hari.

"Soal terjadinya penularan dan infeksi cepat ini, tentu kami akan terus mengawasinya dengan langkah kontrol yang terbaik," tegas Toshiro. 

Berpotensi Jadi Klaster Global

Toshiro Muto menegaskan, pihaknya menolak pembatalan acara dan tetap akan berlangsung sesuai rencana. Mulai dari upacara pembukaan, yang berlangsung dari 23 Juli hingga 8 Agustus 2021.

"Penularan mungkin terus terjadi dan bakal sulit dikendalikan. Namun, kami tetap melanjutkan situasi ini, dengan tentunya mempertimbangkan sejumlah hal yang menjadi masalah," imbuhnya.

Kepala Departemen Epidemiologi FKM Universitas Indonesia (UI), Tri Yunis Miko, mengatakan, sudah semestinya ajang Olimpiade Tokyo 2020 sejak awal tidak menghadirkan penonton selama berlangsungnya pertandingan.

Baca Juga: Indonesia Harapkan Dua Medali Emas Olimpiade dari 28 Atlet | Asumsi

Hal ini belajar dari ajang Piala Eropa 2020 yang beberapa waktu lalu dikecam Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), karena menghadirkan kerumunan pengunjung yang sebagian besar, tidak mengenakan masker hingga terjadi penularan masif.

"Ya semestinya, Olimpiade Tokyo ini belajar dari Piala Eropa. Tadinya ngotot mau ada penonton itu kan, berbahaya klaster pengunjung itu yang paling berpotensi bikin penyebaran Covid-19," jelas Yunis kepada Asumsi.co, Rabu (21/7/2021).

Ia mengharapkan, pihak penyelenggara Olimpiade benar-benar bersikap proaktif dalam memantau penularan virus yang terjadi di tengah para atletnya. Sehingga, tidak terjadi peningkatan kasus dan kekhawatiran klaster benar-benar terjadi. 

"Pemantauannya harus maksimal. Tracing-nya harus tegas dan jangan sampai ada terlewat. Si atlet ini pernah kontak dengan siapa saja, supaya tidak memicu penularan masif ini berlanjut," ungkapnya.

Sementara itu, epidemiologi dari Universitas Griffith di Australia, Dicky Budiman, menilai klaster Olimpiade Tokyo 2020 ini, sangat berpotensi memicu klaster Covid-19 berskala global.

"Tentu sangat berpotensi jadi klaster global kalau pihak penyelenggara tidak melakukan pemantauan dengan baik. Misalnya, atlet yang positif Covid-19 dibiarkan, tidak tuntas melakukan isolasi. Kemudian pengunjung yang positif sebelum pulang ke negara asalnya, diam-diam enggak bilang masih positif Covid-19," jelas Dicky saat dihubungi terpisah.

Maka, ia menegaskan setiap pengunjung internasional yang dilaporkan terjangkit Covid-19, sebelum pulang ke negara asalnya harus dinyatakan negatif dulu lewat tes PCR. 

"Kalau dia pulang masih positif, tentu akan jadi klaster baru di negaranya. Olimpiade ini memang menurut saya terlalu dipaksakan tetap digelar di tengah situasi pandemi," katanya.

Olimpiade Disarankan Batal Digelar

Dicky Budiman menambahkan, Olimpiade Tokyo 2020 sebaiknya tidak jadi digelar daripada membuat situasi pandemi di negara tersebut memburuk. 

Hal ini disebabkan tingkat penularan COVID-19 di Jepang, khususnya Tokyo memang tengah agresif, akibat berbagai varian virus ada di sana. Misal, varian E484K dan B.1.617.2 atau yang dikenal dengan sebutan Eek dan Delta.

"Memang tahu mereka sudah banyak komitmen yang ditandatangani dan disepakati oleh penyelenggara dengan berbagai pihak, hingga akhirnya terpaksa dilaksanakan. Cuma di sisi lain, ini berisiko karena di Jepang varian virus coronanya banyak, ada Delta, Eek juga. Idealnya jangan dilaksanakan atau dibatalkan, mumpung belum dimulai," tuturnya.

Baca Juga: 10.000 Volunteer Mundur, Olimpiade Tokyo 2020 Maju Terus! | Asumsi

Sedangkan, Ketua Asosiasi Profesor Keolahragaan Indonesia (APKORI) Djoko Pekik Irianto, mengatakan ajang Olimpiade ini sebaiknya jangan disetop.

"Jangan disetop karena berdampak pada banyak hal, bisa bikin kepercayaan publik terhadap penyelenggaraannya semakin menurun, terlebih banyak sponsor mundur. Tetap saja jalan pertandingan berlanjut tanpa penonton," kata Djoko saat dihubungi terpisah.

Ia juga mengharapkan, seluruh atlet yang ada di sana, menjaga diri dengan tidak banyak berinteraksi dengan orang lain, terutama para atlet yang berbeda negara selama berada di kamp.

"Kita semua berharap pastinya atlet Indonesia yang sudah ada di sana aman selalu, dan bisa membawa nama baik bangsa," imbuh Djoko.


Share: Olimpiade Tokyo 2020 Dikhawatirkan Jadi Klaster Global Covid-19