featured

Foto: AFP

Olahraga

2 Jul 2021

Euro 2020 Jadi Klaster Corona Varian Delta, Haruskah Disetop Penyelenggaraannya?

Ray

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) murka karena ajang pertandingan sepak bola Euro 2020 menyebabkan munculnya klaster COVID-19. Hal itu berimbas pada meningkatnya  kasus Corona varian Delta di Eropa.

Banyak Penonton Terinfeksi Varian Delta

Melansir AFP, ratusan kasus COVID-19 terdeteksi di antara penonton yang menghadiri pertandingan Euro 2020 yang digelar di benua tersebut. Dilaporkan banyak penonton yang terpapar varian Delta terdeteksi di Kopenhagen, Denmark. Selain itu, sejumlah warga Skotlandia dan Finlandia terinfeksi virus mematikan ini usai pulang dari menonton Euro 2020 di lokasi pertandingan.

Mereka sengaja datang ke lokasi pertandingan untuk menyemangati tim di London, Inggris dan Saint Petersburg, Rusia. Direktur Badan Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) Eropa Hans Kluge menyampaikan pesan murka dari WHO yang meminta semua pihak berwenang untuk memantau secara ketat terhadap pelaksanaan ajang olahraga ini. 

Ia juga meminta masyarakat Eropa untuk meningkatkan kedisiplinan dan menahan diri untuk tidak berkerumun jika tidak mau gelombang baru COVID-19 melanda benua tersebut. "Akan ada gelombang baru di kawasan Eropa, kecuali kita tetap disiplin. Saya harap tidak, tapi ini tidak terhindarkan," kata Kluge.

Baca juga: Dominasi Sponsor Euro 2020, Tiongkok Mau Geser Coca-Cola? | Asumsi

Merespons peringatan WHO, badan sepak bola Eropa UEFA selaku penyelenggara, memutuskan untuk membatalkan seluruh tiket kepada warga Inggris untuk pertandingan perempat final. Pertandingan ini bakal mempertemukan Inggris melawan Ukraina di Roma akhir pekan ini.

Rusia yang bakal menjadi tuan rumah perempat final Euro 2020 Spanyol-Swiss pada Jumat, sejauh ini telah mencatat rekor kematian akibat virus untuk hari tiga hari berturut-turut pada Kamis (1/7/21) lalu. Dilaporkan, terdapat  672 kematian selama 24 jam terakhir, dengan Saint Petersburg sebagai kawasan terbanyak dengan jumlah kematian sebanyak 115 orang akibat terinfeksi Corona.

Sedangkan Portugal yang dilaporkan mengalami peningkatan kasus Corona sebesar 10% akibat varian Delta, memutuskan untuk memberlakukan kembali jam malam di 45 kota termasuk ibu kota Lisbon sejak akhir pekan lalu.

Saat ini, Eropa pun memberlakukan aturan sertifikat vaksin COVID-19 sebagai syarat perjalanan bagi warga yang tinggal di 27 negara anggota benua biru. Badan Pengawas Obat Eropa pun menyerukan agar seluruh warga segera mengikuti program vaksinasi yang digagas pemerintah. 

Mereka meyakini, pemberian dua dosis vaksin COVID-19 mampu memberikan perlindungan secara maksimal dari terpapar Corona varian Delta, berdasarkan bukti-bukti global.

Haruskah Disetop di Tengah Jalan?

Epidemiolog Universitas Griffith di Australia, Dicky Budiman mengaku tak heran banyak penonton yang terinfeksi COVID-19 usai menyaksikan langsung pertandingan Euro 2020 di London, Inggris. Ia menyebut kasus Corona di Inggris saat ini memang sedang tidak terkendali dibandingkan negara-negara Eropa lainnya.

"Memang COVID-19 di Inggris belum terkendali, bahkan bisa dibilang rawan dibadningkan negara-negara Eropa lainnya yang rata-rata di bawah 1% positivity rate-nya. Di Inggris memang lagi naik parah kasusnya, apalagi di Skotlandia," jelas Dicky kepada Asumsi melalui sambungan telepon, Jumat (2/7/21).

Baca juga: Eriksen Pingsan di Laga EURO, Ini Risiko Jantung Pada Pesepakbola | Asumsi

Dirinya menyayangkan adanya pelonggaran keramaian dengan digelarnya pertandingan Euro di Inggris, sehingga menjadi pemicu penularan virus Corona.

"Apalagi kalau bicara varian Delta ini luar biasa. Ketika ada pertandingan di Inggris sebenarnya yang juga bikin jadi klaster karena kan, yang boleh nonton di dalam stadion itu cuma yang punya tiket dan jumlahnya terbatas, tapi pengiringnya puluhan ribu. Meski enggak bisa masuk stadion, tapi malah bikin kerumunan karena menunggu di luar. Nah ini juga yang menyebabkan terjadinya klaster itu," ungkapnya. 

Soal kemungkinan Euro 2020 bakal berhenti di tengah jalan, menurutnya pihak penyelenggara belum tentu melakukannya. Ia hanya mengharapkan, ke depan pihak penyelenggara Euro 2020 tak perlu lagi menghadirkan penonton saat berlangsungnya pertandingan dan melarang suporter hadir di lokasi.

"Event seperti ini memang kepentingannya bisnis, jadinya dipaksakan. Meski ada pengaman-pengaman dan mulai terkendali, semestinya mereka juga bisa mengantisipasi kasus Corona bisa meledak lagi. WHO pun sebenarnya dari awal terkesan memberikan toleransi ya, meski sebenarnya memang mereka tidak bisa melarang dan cuma bisa mengeluarkan panduan. Kalaupun mau ada penonton, karantina dulu penotonnya. Nah, ini tidak diterapkan sehingga penularan terjadi," tuturnya. 

Pengamat olahraga nasional, Budiarto Shambazy menimpali Euro 2020 tidak harus dihentikan sejauh ini. Adapun bila kasus Corona semakin parah di negara-negara Eropa yang menjadi tempat pertandingan Euro 2020, mungkin bisa memindahkannya ke negara yang lebih aman tanpa melibatkan penonton. 

"Sebenarnya ini ujian konsistensi dan keteguhan dari setiap negara mengendalikan pandeminya. Ya, menurut saya setelah jadi klaster COVID-19 ini enggak usah lagi ada penonton on the spot. Pindahkan lokasi pertandingan kalau memang berisiko banyak orang ketularan virus. Para pemainnya juga harus ketat diperiksa untuk memastika mereka yang bertanding ini juga sehat. Intinya lebih ketat lagi saja, nanggung sudah di tengah jalan gini masa mau disetop," kata dia. 

Share: Euro 2020 Jadi Klaster Corona Varian Delta, Haruskah Disetop Penyelenggaraannya?