Budaya Pop

Dosen-Mahasiswa Harus Profesional, Boleh Bersahabat Asal Jangan Kebablasan

OlehTesa

featured image
Ilustrasi/ANTARA/Firman

Di dunia perkuliahan, mahasiswa tentu bebas menjalin pertemanan atau persahabatan dengan siapa pun. Termasuk dengan para dosen atau pengajar.

Namun, dalam menjalin relasi tersebut mahasiswa perlu untuk memiliki etika yang baik. Salah satunya bersikap sopan. Selain itu, dosen juga harus lebih profesional dalam menjalin persahabatan.

Dosen harus mengingat perannya sebagai pendidik, supaya persahabatan antara mahasiswa dan dosen tidak kebablasan. Pasalnya, tidak jarang persahabatan yang kebablasan justru cenderung mengarah ke hal yang negatif, seperti pelecehan dan kekerasan seksual.

Persahabatan Harus Manusiawi

Mahasiswa juga diminta untuk lebih peka dan paham situasi sekitar. Founder Pendidikan Karakter Education Consulting, Doni Koesoema mengatakan lingkungan kampus diisi dengan mahasiswa yang berusia di atas 17 tahun, sehingga mereka dan dosen dipastikan memiliki kebebasan untuk mengambil sikap sebagai subyek hukum.

Hanya saja, dosen dan mahasiswa harus ingat peran mereka masing-masing. Khususnya di era modern ini, dimana dosen dan mahasiswa relatif tidak memiliki selisih usia yang jauh.

Dosen harus mengingat mereka harus menjadi pembimbing bagi mahasiswanya untuk mengajarkan bagaimana memiliki perilaku dan pendidikan yang baik.

“Relasi dosen dan mahasiswa di kampus harus didefinisikan kembali seperti apa karena jarak usia mereka yang tidak jauh. Namun, kita tetap tidak boleh membuat aturan yang membatasi hak asasi manusia,” ujar Doni kepada Asumsi.co, beberapa hari yang lalu.

Otoritas kampus perlu memberi aturan yang tegas dan wajar dengan dukungan sistem. Lebih lanjut, Doni memberikan tips untuk menjalin relasi dengan dosen tanpa kebablasan.

Mahasiswa harus bersikap dewasa mengartikan definisi relasi persahabatan dengan dosen. Selain itu, lingkungan yang profesional akan membantu mahasiswa dalam bersahabat dengan dosen. 

Doni kembali mengingatkan persahabatannya harus manusiawi atau wajar. Sehingga, hubungan tersebut tidak tidak mengarah kebablasan, sehingga berpotensi menimbulkan unsur-unsur kekerasan atau pelecehan seksual.

“Persahabatan atau pertemanan antar dosen dan mahasiswa secara baik dapat dibangun melalui aturan otoritas kampus yang ramah secara moralitas,” kata Doni.

Berlaku Dewasa dalam Melihat Kondisi Sekitar

Secara terpisah, Pengamat Sosial Devie Rahmawati menilai sebagai masyarakat timur tentu saja perilaku mahasiswa terhadap dosen harus berlandaskan etika “ketimuran”. Hal ini berangkat dengan sikap mahasiswa dalam menghormati dosen yang lebih tua.

Namun, Devie mengatakan konteks tersebut bukan berarti segala sesuatu yang dilakukan dosen seluruhnya tepat. Sehingga, mahasiswa dapat melaporkan tindakan tersebut kepada pihak berwajib atau otoritas kampus apabila dosen terlihat tidak sesuai aturan.

“Hal itu menjadi hak mahasiswa untuk mendapatkan perlakukan yang setara dan berlandaskan hak asasi manusia. Jika merasa ada hal yang kurang pantas dan tidak dihormati sebagai manusia, jangan diam atau berlaku agresif dengan mengomel di media sosial. Mahasiswa perlu melaporkan kasus langsung ke pihak berwenang,” kata Devie kepada Asumsi.co.

Sehingga, mahasiswa jangan sekedar membangun relasi tanpa memikirkan keadaan atau situasi sekitar yang malah mendorong mereka masuk dalam lingkaran yang tidak seharusnya. Otoritas kampus harus dengan tegas menempatkan aturan yang berlaku dalam konteks relasi antar dosen dan mahasiswa secara profesional.

"Kecuali, adanya hubungan pribadi dosen dengan mahasiswa di luar kampus dan itu sudah menjadi tanggung jawab sendiri. Mahasiswa perlu tegas dalam mengambil sikap untuk kemungkinan-kemungkinan yang tidak mengenakan terjadi," pungkasnya.

Manfaat Persahabatan yang Sehat

Relasi persahabatan yang sehat antara mahasiswa dan dosen sebenarnya akan bermanfaat untuk mahasiswa itu sendiri.

Para dosen biasanya memiliki koneksi atau relasi yang lebih banyak dibanding mahasiswanya, lantaran dosen lebih dulu pernah menjadi seorang mahasiswa yang juga memiliki niat untuk membangun relasi dengan sesama.

Dengan demikian, dosen akan lebih mudah memperkenalkan mahasiswanya ke berbagai koneksi yang dimilikinya karena mahasiswa tersebut telah membangun relasi dengannya.

Manfaat ini berdampak bagi proses penelitian skripsi mahasiswa untuk mendapat narasumber yang kredibel, hingga nantinya ketika menyiapkan diri di dunia kerja. Lebih lanjut, mahasiswa juga memperoleh ilmu pengetahuan yang lebih dalam.

Kemungkinan, dosen akan terasa lebih terbuka dan tidak terbatas dalam memberikan pengetahun tambahan kepada mahasiswa yang dekat dengannya. Bahkan, tidak hanya konteks materi kuliah, namun dosen juga akan memberikan pengetahuan seputar kehidupan dan pengalamannya yang beragam.

Tidak hanya itu, mahasiswa juga lebih mudah mengasah kemampuannya dalam berkomunikasi dengan baik. Mahasiswa akan dituntut untuk mengajak dosen berbicara secara sopan, namun tetap santai layaknya teman atau sahabat.

Sehingga, perbincangan hangat dan sopan yang dibangun oleh mahasiswa terhadap dosen akan bermanfaat di lingkungan kerja nantinya. Selain itu, membantu mahasiswa untuk lebih percaya diri.

Mahasiswa akan lebih percaya diri dalam menjalankan perkuliahan karena telah membangun relasi yang baik dengan dosennya. Mereka dinilai memiliki ilmu yang lebih banyak dibandingkan dengan mahasiswa yang tidak menjalin relasi dengan dosen. (zal)

Baca Juga:

Share: Dosen-Mahasiswa Harus Profesional, Boleh Bersahabat Asal Jangan Kebablasan