Isu Terkini

Muhammadiyah dan NU Diminta Jaga Masjid dari Wahabi-Salafi

Manda Firmansyah — Asumsi.co

featured image
(ANTARA FOTO/Ampelsa).

Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Mahfud MD menyebut, aliran pemikiran wahabi dan salafi tidak cocok dengan ajaran Islam di Indonesia. Sebab, dua aliran pemikiran itu dinilai lebih cocok jika berkembang di luar Indonesia atau daerah asalnya. 

Jaga masjid: Mahfud meminta Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU) menjaga masjid-masjid yang menjadi basis pergerakan dakwahnya. Apalagi, saat ini sudah banyak orang Islam yang menganut aliran yang tidak sejalan dengan nilai-nilai keagamaan di Indonesia. 

“Jangan sampai Muhammadiyah dan NU juga kehilangan, masjid-masjid dan tempat peribadatan yang sudah kita bangun Wathiyah Islamiyah ini. Kalau dibangun dengan wahabi dan salafi tidak cocok dengan kita. Apakah itu boleh (dibangun dengan wahabi atau salafi)?, boleh disana, karena hukum itu sesuai dengan kebutuhan lokal, waktu, dan tempatnya kan gitu,” ucapnya dalam Seminar Pra Muktamar Muhammadiyah-Aisyiyah ke-48 yang digelar secara virtual di kanal YouTube Muhammadiyah Channel, dikutip Jumat (22/4/2022). 

Wahabi dan salafi: Diketahui, wahabi merupakan sebutan bagi pengikut Muhammad Bin Abdul Wahab, seorang teolog Muslim abad ke-18 yang berasal dari Najd, Arab Saudi. Gerakan wahabi dan salafi saat ini kerap dikaitkan dengan upaya memurnikan Islam dengan mengamalkan ajaran Rasulullah dan perintah Al-Qur’an secara literal. 

Sebelumnya, Mahfud MD bertemu Sekretaris Jenderal (Sekjen) Rabithah Alam Islami atau World Moslem Leage (WML), Abdul Karim al-Issa di Riyadh, Saudi Arabia, pada Selasa (8/12/2020). 

Wasathiyah Islam: Dalam pertemuan itu, Syech Abdul Karim al-Issa sepakat perlunya penerapan moderasi Islam (wasathiyah Islam) untuk kalangan kaum muslimin di seluruh dunia. Sebab, umat manusia di dunia memiliki agama dan keyakinan yang berbeda-beda, sehingga memerlukan inklusivisme dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. 

Ia meminta kaum muslimin di seluruh dunia tidak terjebak dalam sikap ekstremisme-radikal atau liberalisme. Namun, justru harus menjadi agen perdamaian dengan menggaungkan Islam jalan tengah itu. 

Menurut Mahfud, konsep wasathiyah Islam sangat cocok untuk umat Islam di Indonesia. Apalagi, warga negara di Indonesia menganut berbagai agama dan keyakinan. 

“Indonesia adalah laboratorium pluralisme dan toleransi yang paling efektif di dunia karena merupakan negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia dan dengan berbagai agama dan madzhab keagamaan yang sangat lengkap. Semua bisa hidup berdampingan,” ujar Mahfud dalam keterangan tertulis, Rabu (9/12/2020). 

Baca Juga:

Reaksi Mahfud MD Ketika Lili Pintauli Jadi Sorotan AS 

Mahfud MD Sebut UU di RI Korup Sejak Tahap Pembuatan 

MK: Prajurit TNI Aktif Tak Bisa jadi Penjabat Kepala Daerah

Share: Muhammadiyah dan NU Diminta Jaga Masjid dari Wahabi-Salafi