Kesehatan

Bingung Kelola Depresi Berat? Psikolog: Kenali Fasenya Lewat Aplikasi

OlehNadia

featured image
Foto: istochkphoto.com

Terjadinya dua kasus bunuh diri dengan waktu berdekatan bebeberapa waktu lalu, bisa menjadi indikasi tingkat pengelolaan depresi warga kita yang masih cukup lemah. Banyak aspek yang bisa menjadi pemicu depresi, akan tetapi banyak juga hal yang bisa dilakukan untuk sembuh darinya.

Sebelumnya netizen sempat ramai membincangkan cuitan dr.Tirta di Twitter yang menceritakan tentang orang bunuh diri di apartemen tempat tinggalnya. Ia menyatakan bahwa orang yang loncat dari lantai 25 melewati lantai apartemennya yang berada di lantai 8. Orang tersebut akhirnya meninggal dunia.

“Kejadian berlangsung cepat. Tim saya lagi rokokan di balkon. Baru ditinggal bentar. Bunyi bruk. Dan orang teriak2. Ternyata orang tsb sudah jatuh dengan kepala dahulu. Pria.“ Tulis Dokter Tirta di akun Twitter @tirta_hudhi (2/6/21).

Dalam lanjutan tulisannya, dr.Tirta juga mengungkapkan bahwa seseorang bisa melakukan bunuh diri karena memiliki masalah yang tidak diceritakan ke orang lain.

“Tim saya masih shock. Soalnya kejadian itu melewati lantai kami. Tapi ini membuat kita sadar. Bahwa banyak orang yg sebenarnya memiliki masalah besar tapi dipendam.” tulisnya.

Baca juga: ​Kwon Mina Diduga Coba Bunuh Diri Lagi, Kenapa Terus Berulang?

Dua hari sebelum kejadian bunuh diri yang diviralkan oleh dr.Tirta, terdapat juga beberapa kasus bunuh diri lainnya. Pada hari Senin (31/5/21) terdapat kasus percobaan bunuh diri di apartemen Jakarta yang dilakukan oleh korban berinisial D (18). Korban melakukan percobaan bunuh diri dengan melompat dari lantai 5, dan jatuh di Balkon lantai 1.

Alasan korban berniat bunuh diri diduga karena mengalami depresi akibat terhimpit banyak masalah di lingkungan kerja dan pergaulan.

"Motif korban loncat dari tower lantai 5 dikarenakan kesal masalah pribadi dan tertekan setelah dimarahi oleh atasannya dan teman kerjanya," ujar Kapolsek Pancoran, Kompol Rudiyanto dalam keterangan tertulis yang dilansir dari Liputan6 (1/6/21). Menurut keterangan Rudiyanto, sampai saat ini korban masih menjalani perawatan di rumah sakit

Pada umumnya, penyebab utama seseorang melakukan bunuh diri adalah karena depresi. Biasanya, seseorang melakukan bunuh diri karena merasa sangat tertekan dan tidak ada pihak yang membantu.

Risiko merebaknya penderita depresi pun meningkat dengan adanya tekanan dari situasi pandemi Covid-19. Pandemi telah meluluhlantakkan berbagai aspek kehidupan dunia sejak awal tahun 2020. 

Menurut data World Health Organization (WHO), setidaknya ada satu orang yang meninggal karena bunuh diri setiap 40 detik pada tahun 2018.

"Dampak psikologis akibat pandemik Covid-19 ini sangat mengkhawatirkan. Berdasarkan data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada 2018, setiap 40 detik seseorang meninggal karena bunuh diri. Diperkirakan 800 ribu orang meninggal karena bunuh diri dalam waktu setahun," kata Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Achmad Yurianto seperti dikutip dari IDNtimes.

Pada data yang sama juga ditemukan kalau kecenderungan bunuh diri terjadi di rentang usia 19 hingga 25 tahun.

Menurut Psikolog Tika Bisono MPsiT, kondisi depresi diawali dari stres. Jika stres tidak terselesaikan dalam diri seseorang dan terus bertumpuk, maka akan terakumulasi dan masuk ke ranah depresi.

“Orang tiba-tiba depresi kan nggak yah. Awalnya dimulai dari stres. Stres itu tekanan yang tidak menyenangkan tapi sifatnya harian. Jadi setiap orang pasti punya stres, nggak mungkin nggak. Tapi di tahap stres aja, itu harusnya bisa diselesaikan. Jangan sampai bertumpuk-tumpuk. Kalau stres yang sehari-hari ini gak selesai, dia akan terakumulasi . Artinya penumpukan demi penumpukan. Nah dia akan masuk ke ranah yang namanya depresi”, jelasnya saat dihubungi Asumsi.co.

Tika juga menjelaskan bahwa seseorang yang mengalami depresi bisa mengalami gangguan dalam siklus pekerjaan. Ia juga bisa tidak menikmati lagi situasi pekerjaan yang biasanya rutin dilakukan. Depresi inilah yang memungkinkan seseorang ingin melakukan bunuh diri.

Untuk melihat kasus depresi, hal tersebut bisa dilihat sejauh mana orang tersebut bisa dikatakan mengalami kondisi depresi. Psikolog Tiara Puspita Sari, M.Psi, menjelaskan bahwa butuh waktu untuk mengkategorikan seseorang mengalami kondisi depresi.

“Tentunya kalau untuk kasus depresi, kita harus melihat dulu sejauh mana orang tersebut bisa dikatakan depresi, dan itu butuh waktu minimal dua minggu dia merasa depresi baru bisa dikatakan/dikategorikan sebagai depresi atau yang bisa disebut sebagai Major Depressive Disorder” ujar Tiara saat dihubungi oleh Asumsi.

Tiara menjelaskan bahwa depresi memiliki tiga tingkatan, yaitu depresi  ringan, depresi sedang, dan depresi berat.

“Biasanya depresi ringan ditandai dengan adanya pikiran-pikiran untuk menyakiti diri sendiri, tetapi tidak ada rencana untuk melakukannya. Kalau yang udah mulai sedang, biasanya sudah mulai ada niat menyakiti diri sendiri, dan ada alatnya, seperti alat yang ada di sekitar kita untuk menyakiti diri sendiri. Kalau depresi berat, sudah ada Biasanya, actual action-nya yang dilakukan untuk menyakiti dirinya sendiri” jelaskan.

Namun, Tiara menegaskan bahwa untuk mendiagnosis tingkatan depresi tentunya membutuhkan bantuan psikolog. Karena ada semacam alat tes untuk mengecek seberapa jauh orang tersebut mengalami depresi.

Bagaimana Cara Menyikapi Depresi?

Psikolog Tiara menjelaskan bahwa kita perlu aware dengan apa yang kita rasakan. Ketika ada pikiran seperti ingin menyakiti diri sendiri, kita harus tau sudah berapa lama kita mengalami pikiran tersebut.

Baca juga: Menemukan Konten Bunuh Diri di Media Sosial? Biarlah Berhenti di Kamu

“Sebagai diri sendiri sebetulnya kita perlu aware juga ketika ada pikiran-pikiran ini sudah berapa lama, atau jangan-jangan sudah berapa bulan nih mengalaminya. Makin lama makin parah, kita perlu mencari bantuan kalau memang seperti itu dan kondisinya semakin parah” ujarnya.

Tiara juga mengatakan bahwa saat ini banyak aplikasi yang bisa diakses dari handphone yang bisa digunakan untuk mengetahui fase depresi.

“Ini sebenarnya baik individunya sendiri atau orang terdekatnya bisa menggunakan aplikasi. Misalnya, kalau sahabat saya atau keluarga dekat saya seperti ini, kira-kira sudah termasuk depresi atau belum. Melalui aplikasi, nanti bisa dibantu oleh psikolog yang tersedia pada saat itu” jelasnya. Hal-hal yang bisa ditanyakan melalui aplikasi seperti sikap apa yang sebaiknya dilakukan agar tidak berlarut dalam kondisi depresi. Menurut Tiara, aplikasi tersebut memudahkan dalam mengakses layanan psikologis.

“Aplikasi-aplikasi lokal menurut aku memudahkan dan juga terjangkau banget untuk mengakses layanan psikologis, dukungan emosional, sehingga nggak perlu takut, kaya misalnya ketemu psikolog malah takut. Jadi bisa disupport melalui aplikasi yang bisa diakses kapan saja “ tuturnya.

Dalam hal menghadapi kondisi depresi, Psikolog Tika juga menekankan bahwa jika seseorang mengalami kondisi depresi, sebaiknya langsung mendatangi profesional, yaitu Psikolog. Namun, jika korban depresi sudah sampai ke tahap temper tantrum (tidak bisa menguasai dirinya sendiri), biasanya sudah butuh sejenis obat penenang yang diberikan oleh Psikiater. 

“Kalau dia sudah temper tantrum, tantrum itu yang dia tiba-tiba teriak sendiri dan tidak menguasai diri, itu rata-rata sudah butuh sejenis penenang atau pil. Dan yang ngasih bukan Psikolog tapi Psikiater. Kalau udah di kasih pil kan dia tenang. Kalau sudah tenang, yang menangani adalah Psikolog. Disitu terjadilah terapi yang namanya psikoterapi. Psikoterapi adalah terapi yang dasarnya adalah perubahan pola pikir perubahan perilaku perubahan emosi, mental, sikap dan cara berpikir“ jelasnya.

Tika juga menekankan bahwa Intervensi Sosial sangat penting. Terutama dalam ranah keluarga serta lingkungan di mana korban depresi berada.

“Lingkungan di mana dia (orang yang depresi) berada harus dilakukan intervensi juga. Ada treatment khusus untuk lingkungannya. Lingkungan yang tadinya sehat jangan sampai jadi stres juga gara-gara ada pasien seperti ini” tuturnya.

Maka dari itu, kita harus bisa lebih peka terhadap kondisi depresi, baik yang dialami oleh diri sendiri maupun orang di sekitar kita. Jangan sampai ada lagi orang yang terlarut dalam depresi dan melakukan bunuh diri. Mari saling menjaga.


Beberapa aplikasi seperti CESD Depression Test dan Mental Health Test bisa membantu Anda untuk setidaknya mengenali tingkatan depresi yang dirasakan.

Share: Bingung Kelola Depresi Berat? Psikolog: Kenali Fasenya Lewat Aplikasi