Kesehatan

Meditasi untuk Jiwa yang Lebih 'Happy' di Masa Pandemi

OlehIkhwan Hardiman

featured image
Unsplash

Satu tahun lebih Indonesia dihantam gelombang pandemi Covid-19. Dampak kasat mata seperti kesehatan fisik, ekonomi, politik, hingga sosial-budaya begitu nyata di tengah-tengah masyarakat. Namun, ada satu hal yang belum tentu bisa diterima panca indera manusia selama menghadapi masa-masa krisis: ketenangan jiwa

Dosen Fakultas Psikologi Universitas Pancasila, Aully Grashinta membenarkan psikis seseorang merupakan salah satu aspek yang terdampak pandemi. Ia menyebut, pembatasan aktivitas berpotensi membuat masyarakat lebih stress dan memiliki efek negatif terhadap kondisi kejiwaan seseorang.

"Manusia pada dasarnya adalah orang yang bebas, kita punya keinginan atau free will untuk bebas. Banyak orang tidak menerima atau denial dengan keadaan sekitar. Sehingga, kekecewaan itu dapat menimbulkan rasa frustrasi," katanya saat dihubungi Asumsi.co.

Menenangkan Jiwa

Aully mengungkapkan, Covid-19 ternyata juga berdampak pada mental para penyintas karena harus memisahkan diri dari lingkungan dengan isolasi, sehingga cenderung merasa bersalah karena khawatir menularkan orang lain. Belum lagi penghakiman tetangga, keluarga, hingga rekan kerja, turut membuat pasien Covid-19 merasa tertekan dan dikucilkan.

"Orang yang kena Covid erat kaitannya dengan masalah mental karena biasanya jadi bahan omongan orang lain. Mereka yang harus isolasi mandiri (isoman) dapat merasa tanggungjawabnya terbengkalai. Apalagi ketika perusahaan tidak mendukung karyawan penyintas Covid, gajinya dipotong lah, segala macam," ujar Aully.

Baca juga: Lima Cara Sederhana Menjaga Kesehatan Mental di Kala WFH

Tanpa mengabaikan dampak lain akibat pandemi Covid-19, Aully menyarankan masyarakat lebih memerhatikan kesehatan mental. Meditasi dapat menjadi solusi efektif menurunkan stres sekaligus memelihara ketenangan jiwa. Dengan berkonsentrasi selama meditasi, tekanan di kepala dan hati seseorang dapat lebih reda. Jika dilakukan rutin, maka perasaan akan jauh lebih lega.

"Dengan meditasi, kita berusaha mengosongkan pikiran agar tensi di otak dan jiwa kita bisa lebih tenang. Macam-macam lah meditasi, bisa yoga, salat, berdiam diri juga meditasi," ucapnya.

Meditasi umumnya dilakukan dengan duduk bersila sambil memejamkan mata selama 10 menit. Konsentrasi menjadi kunci sukses seseorang untuk mengosongkan pikiran. Para ahli juga mengizinkan meditasi dilakukan selama 30 menit setiap hari.

Manfaat Meditasi Didukung Sejumlah Studi 

Pendapat Aully diperkuat oleh sebuah studi University of California, Los Angeles (UCLA) yang menyatakan, meditasi dalam jangka panjang dapat mencegah penuaan pada otak. Dalam jurnal tersebut, dijelaskan bahwa kemampuan dan volume otak manusia cenderung menurun di setiap 20 tahun kehidupan. Penelitian itu membuktikan bahwa volume otak manusia yang rutin membiasakan meditasi cenderung lebih besar daripada mereka yang tidak pernah melakukannya. Mereka menyatakan meditasi merupakan langkah efisien dan murah untuk memelihara fungsi otak manusia.

Hal tersebut diperkuat oleh riset Harvard University bahwa menjaga pikiran tetap tenang selama meditasi akan memperbaiki struktur otak manusia. Riset yang dilakukan terhadap orang yang bermeditasi rutin selama delapan pekan berturut-turut membuktikan terdapat penebalan lapisan hippocampus sebagai tempat memori tersimpan. Selain itu, terdapat peningkatan jumlah sel di bagian amygdala yang berfungsi mengatur perasaan dari rasa takut, khawatir, dan stres.

Riset lain yang dilakukan oleh JAMA Internal Medicine menunjukkan, meditasi dapat mengurangi gejala depresi, kekhawatiran, dan perasaan sakit hati. Penelitian itu membuktikan bahwa menjaga pikiran tetap tenang berfungsi sebagai antidepresan. Orang-orang yang menjadikan meditasi sebagai aktivitas sehari-hari cenderung lebih fokus dalam bertindak.

Baca juga: Cuti WFH Penting Buat Kesehatan Mental

Dalam sebuah penelitian oleh PNAS menyebut meditasi turut berperan dalam terapi adiksi bagi seseorang yang kecanduan hal-hal tertentu, utamanya nikotin. Dalam sebuah riset dikatakan bahwa orang yang mencoba bermeditasi secara konsisten setidaknya 17 pekan, dapat mendukung keinginannya untuk berhenti merokok.

Beberapa perusahaan besar seperti Google dan Apple sudah menetapkan meditasi beberapa menit sebagai kegiatan rutin di tengah-tengah pekerjaan. Hal ini membuktikan bahwa meditasi sudah seharusnya menjadi keseharian banyak orang karena bisa dilakukan di berbagai tempat dan waktu.

Baik untuk Mental, Bagaimana dengan Kesehatan Secara Keseluruhan?

Dalam sebuah kajian para ahli Universitas Johns Hopkins yang dikutip Deutsche Welle, menyebutkan bahwa tidak ada bukti kuat yang menyatakan meditasi dapat menghasilkan kesehatan secara umum dengan signifikan. Dari 3.515 orang yang membiasakan meditasi diteliti, ternyata hanya 3% orang yang memenuhi kriteria sehat jiwa raga versi JAMA Internal Medicine.

"Berlawanan dengan kepercayaan yang sudah umum, secara keseluruhan studi tersebut gagal untuk bisa menunjukkan manfaat besar meditasi terkait dengan peringanan penderitaan atau peningkatan kesehatan secara keseluruhan," kata Allan Gorrol, seorang dokter di Universitas Harvard.

Meski demikian, Gorrol sepakat bahwa meditasi berdampak nyata untuk mental seseorang. Ia menyarankan meditasi dilakukan secara rutin untuk memperbaiki kondisi kejiwaan seseorang.

"Dengan sebuah pengecualian, penting bahwa meditasi dengan pikiran penuh memberikan sedikit keringanan saat bersedih (dalam aspek) psikologis," ucapnya.

Share: Meditasi untuk Jiwa yang Lebih 'Happy' di Masa Pandemi