Isu Terkini

Santri Pesantren: Saya Ingin Mewakafkan Diri Bergabung dengan FPI

OlehAbdul Qowi Bastian

featured image

Baca artikel sebelumnya: Sehari Bersama FPI di Pondok Pesantren

Muhammad Ilham sudah menjadi santri di Ponpes Al Umm selama 3,5 tahun. Mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta ini mengaku awalnya ia memiliki persepsi tentang FPI dari apa yang ia konsumsi melalui media.

“Jujur sebelum saya masuk sini, FPI itu seperti yang kayak di media. Di media kan FPI itu radikal lah, atau apalah yang negatif-negatif. Tapi setelah saya masuk di sini, di ranah FPI, semua itu terbantahkan. Kita enggak kayak gitu,” kata Ilham.

Ia mencontohkan kegiatan penggerebekan atau sweeping yang dilakukan ormas FPI terhadap tempat-tempat perjudian atau tempat diduga prostitusi yang masih beroperasi pada bulan Ramadan.

“Sebenarnya FPI ini sudah sesuai dengan jalur hukumnya. Misalnya lapor polisi dulu bahwa di sini tuh ada kemaksiatan. Tapi misal dari pihak kepolisian tidak ada tindakan, maka di situ FPI bergerak,” ujarnya.

Ilham, yang saat ini masih menjadi santri dan belum bergabung dengan FPI, menyatakan ketertarikannya untuk bergabung dengan ormas yang identik dengan pakaian serba putih itu nanti setelah lulus.

“Kalau dari hati kecil saya, saya tertarik,” akunya.

“Di FPI itu orang-orang yang ada di dalamnya adalah orang-orang yang benar-benar ikhlas dalam berdakwah. Enggak ada niat, misalnya, saya mau masuk FPI biar banyak uang atau jadi kyai besar.”

Ia mencontohkan KH Misbahul Anam, selaku pendiri Pondok Pesantren Al Umm, yang rela berdakwah tanpa dibayar.

“Saya pernah belajar dari Syeikh [Misbah]. Beliau isi ceramah itu mau dibayar atau enggak dibayar, beliau tetap ceramah. Katakanlah aksi-aksi yang dipelopori oleh FPI itu, emang beliau berharap biar dapet uang banyak dari masyarakat? Ya enggak. Pure dari niat mereka, ikhlas utk menjadi pembimbing umat,” kata Ilham.

Ia melanjutkan dirinya ingin mengabdikan dirinya untuk masyarakat. “Saya pengin juga mengabdikan diri saya, mewakafkan diri saya, bergabung dengan FPI dan berdakwah ke masyarakat,” ucapnya mantap.

Pintu masuk Ponpes Al Umm Ciputat. Foto: Idris Maulana/Asumsi

Lantas apakah lulusan Ponpes Al Umm mendapatkan kelebihan jika ingin bergabung dengan FPI? Ilham menjawab ya.

“Menurut saya lebih mudah. Karena pasti kan seseorang mau menarik orang dalam organisasinya, melihat kemampuan dia, kinerja kerja dia, Kita yang santri di sini yang dilihat langsung oleh Syeikh Misbah, pasti kan beliau sudah tahu kemampuan kita dan bisa saja santri yang terpilih itu ditarik untuk bergabung,” katanya.

Ia mengatakan saat ini sudah ada sejumlah santri lulusan Ponpes Al Umm yang telah menjadi petinggi FPI di daerahnya.

Senada dengan ajaran Ponpes Al Umm yang berprinsip terhadap amar maruf nahi munkar, Ilham menyatakan jika lulus dari sini, ia ingin menyampaikan ilmu ke masyarakat sesuai prinsip dakwah Misbahul.

Amar maruf nahi munkar itu memerintah kebaikan dan mencegah melarang kemungkaran. Contohnya, amar maruf, memerintahkan kebaikan. Kita berdakwah menyampaikan ayo kita ngaji, salat, berkehidupan yang baik,” ujarnya.

“Kalau nahi munkar, mencegah kemungkaran, mengajak kepada orang-orang utk tidak melakukan kemungkaran, kemaksiatan, kejahatan.”

Mengajak kebaikan dan mencegah kemungkaran merupakan satu paket yang tidak bisa dipisah.

Nahi munkar ini penting juga karena salah satu contohnya, misalnya di satu daerah ada yang berzina antara laki dan perempuan yang belum berstatus nikah, maka dampaknya dosanya itu ditanggung sama 40 rumah di sekitar orang yang berzina juga.

“Jadi kita yang enggak tahu apa-apa, ada orang berzina, kita kena dosanya. Itu pentingnya nahi munkar, kita mencegah kemaksiatan agar daerah kita enggak ada kemaksiatan dan kita gak kena dosa. Kadi itu sebagai kewajiban kita juga bagi orang yang mau niat berdakwah.”

Baca Juga: Wawancara dengan Ketua Majelis Syuro FPI: Kriminalisasi Ulama di Era Reformasi Lebih Gila Dari Orde Baru

Share: Santri Pesantren: Saya Ingin Mewakafkan Diri Bergabung dengan FPI