Tim Medis Kekurangan Tenaga dan Ditindas Aparat

Lagi-lagi, aparat melakukan tindakan represif. Tak hanya terhadap demonstran dan jurnalis, tetapi juga kepada tim medis.

Aini (bukan nama sebenarnya) adalah anggota tim medis yang berjaga selama demonstrasi 30 September 2019. Ia mengaku berpindah tempat sebanyak tiga kali karena polisi memburu dengan gas air mata.

“Awalnya, timku berjaga di posko daerah Hotel Sultan. Kemudian kami mundur ke persimpangan Semanggi karena mendengar di depan (daerah DPR) polisi sudah mulai menembakkan gas air mata. Tak beberapa lama kemudian gas air mata ditembakkan lagi dan kami mundur ke sekitar Atma Jaya,” kata Aini.

Posko besar medis memang telah disiapkan di taman segitiga antara Plaza Semanggi dan Kampus Atma Jaya. Di sana, Aini beserta timnya menerima korban-korban yang sesak napas terkena gas air mata atau luka-luka. “Awalnya kami merasa di sini sudah tenang dan aman untuk bisa mengobati teman-teman. Tapi tiba-tiba polisi datang dan melemparkan gas air mata,” lanjut Aini.

Hal serupa diamini oleh Harto (bukan nama sebenarnya), anggota tim medis yang bertugas mengevakuasi korban. “Sampai di taman segitiga Semanggi, kami duduk-duduk sebentar dan bersiap untuk menolong orang lagi, tapi tahu-tahu gas air mata dilempar dari jembatan layang atas ke arah kami,” kata Harto.

Posko medis kemudian dipindahkan ke dalam Kampus Atma Jaya. Proses berpindah tak berjalan mulus karena polisi terus menggencet massa untuk mundur. “Saat itu aku sedang mengobati seseorang yang tangannya terkilir karena tertimpa sesuatu. Bergerak saja dia kesulitan. Akhirnya aku harus memapah korban dan membawa logistik secara bersamaan,” cerita Aini.

Tim Medis jadi Korban

“Justru di titik di mana kami seharusnya menangani korban, kami malah diserang. Tim medis berakhir terpencar. Jadi nggak ngaruh apakah kamu medis atau massa aksi,” kata Harto. Ia beserta timnya menyatakan telah menyematkan lambang medis di pakaian mereka. Mereka juga telah membawa bendera medis. Namun, gas air mata tetap mengincar mereka.

Anggota tim medis berinisial HH yang tergabung dalam kelompok Paramedis Jalanan dikabarkan terkena tembakan peluru karet di pelipis kiri ketika ia melindungi seorang wartawan dari gas air mata di jalan tol di seberang Gedung DPR (arah ke Slipi). Hasil pemeriksaan dokter menyatakan HH tertembak dari jarak 10 meter. Diduga, tembakan berasal dari aparat yang mengendarai sepeda motor.

Anggota tim Paramedis Jalanan lain yang berinisial A sedang menjalani perawatan psikis saat ini. Ia mengalami guncangan psikis (serangan panik, melamun, dan sensitif terhadap suara) karena tindakan represif terhadap tim medis. 

Terdapat pula anggota medis lain yang diserang gas air mata oleh polisi ketika sedang mengobati korban di parkiran RS Angkatan laut Mintohardjo. “Temanku berjaga di RS Mintoharjdo, ia sedang duduk sambil mengobati korban. Tiba-tiba di depannya ada gas air mata. Jadi gas air mata nggak cuma lewat di depan rumah sakit, tapi sampai masuk ke dalam parkiran,” kata Aini selaku teman korban.

Selain itu, polisi juga melakukan sweeping ke dalam Kampus Atma Jaya. Oleh tim medis yang berjaga di lingkar depan, Aini diinformasikan bahwa ada polisi yang mendekat. “Awalnya kami di aula. Setelah dikabarkan ada polisi, kami pindah ke aula yang lebih dalam. Lalu pindah lagi ke basement. Sementara di basement sendiri kondisinya gelap dan pengap. Nggak layak buat korban,” cerita Aini.

Perlindungan terhadap tenaga medis di wilayah konflik sebenarnya telah diatur dalam Konvensi Jenewa. Konvensi Jenewa ini telah diratifikasi oleh Indonesia dan terbit sebagai Undang-undang No. 59 Tahun 1958.

Demi kepentingan orang-orang yang cedera dan sakit, setiap kesatuan medis—baik militer maupun sipil—harus dilindungi. Pasal 24 Konvensi Jenewa juga menyebutkan bahwa paramedis yang melakukan pencarian, pengumpulan, atau perawatan luka-luka harus mendapat perlindungan khusus.

Sementara itu, seperti dilansir oleh Tirto, Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Argo Yuwono mengatakan, “mungkin polisi refleks,” ketika ditanya tentang gas air mata yang mengarah ke posko medis Atma Jaya. Sebab, katanya, "polisi melihat massa berlarian."

Berinisiatif jadi Relawan

Tenaga medis yang bekerja selama demonstrasi terkumpul dari berbagai latar belakang dan organisasi. Harto dan Aini tergabung dalam AMUKK (Aliansi Masyarakat untuk Keadilan dan Demokrasi). Ada pula Aliansi Pekerja Jakarta (APJ) yang awalnya turun ke jalan untuk berdemonstrasi dan SINDIKASI. Usagi (bukan nama sebenarnya), anggota Aliansi Pekerja Jakarta, misalnya, tergerak menjadi tenaga medis ketika sampai di tempat.

“Aku awalnya lebih membantu soal logistik dan relay informasi. Jadi tim medis justru dadakan setelah gas air mata mulai ditembakkan. Di posko pun ada orang-orang lain yang menawarkan diri untuk jadi relawan setelah mendapatkan informasi lewat Twitter,” kata Usagi.

Di posko, Aini juga bertemu dengan mahasiswa yang menawarkan diri untuk membantu. “Mereka turun ke jalan dengan perlengkapan medis, bawa kotak P3K, tapi nggak tahu harus menolong dari mana. Akhirnya kami ajak untuk membantu di posko kami,” kata Aini.

Berbeda lagi kisahnya dengan tim medis yang tergabung dalam aliansi Paramedis Jalanan. “Kami berinisiatif membentuk sebuah tim setelah melihat banyaknya korban berjatuhan pada aksi Demonstrasi 24 September lalu. Sementara, sepenglihatan kami, tim medis di lapangan jumlahnya sangat sedikit, tidak sampai 5%,” kata Arin (bukan nama sebenarnya), selalu Humas Paramedis Jalanan.

Tim yang dibentuk atas inisiatif teman-teman serikat buruh, pekerja kantoran, barista, mahasiswa, dan pelajar ini juga membuat akun Instagram @_paramedisjalanan, di mana mereka membagikan informasi keselamatan bagi peserta demonstran dan jurnalis.

Tim Paramedis Jalanan terbagi menjadi dua divisi, yaitu Tear Gas Defensive (TGD) yang berperan melindungi paramedis dan demonstran dari gas air mata, dan Mutual Aid Medic (MAM) yang memberikan pertolongan pertama bagi korban.

Walaupun terdapat peningkatan jumlah paramedis pada aksi 30 September lalu, tetapi jumlahnya masih tetap lebih sedikit dibandingkan jumlah massa yang jadi korban. Aini dan timnya yang berjumlah 15 orang mesti menangani ratusan korban sesak napas dan luka-luka. “Tim aku terbagi menjadi dua divisi. Ada lima orang yang berjaga di posko, dan sekitar 10 orang yang mobile. Tim kami sendiri menangani korban hingga ratusan,” cerita Aini.

Selama berjaga sebagai tim medis, Aini menangani korban yang terkena serangan panik, sesak napas akibat gas air mata, dan luka-luka.

Walaupun gas air mata tidak mematikan, tetapi dampaknya cukup serius. “Mungkin orang-orang yang nggak pernah kena gas air mata nganggepnya cuma bikin mata berair. Tapi sebenarnya pas kena tuh benar-benar bikin napas sesak dan kulit perih. Buat gerak pun jadi nggak nyaman. Ditambah kondisi demonstran yang lemah: dari siang terpapar matahari, desak-desakkan, dan nggak tahu sudah makan atau belum,” jelas Aini.

Luka-luka korban pun semakin parah seiring dengan semakin ricuhnya situasi.

“Semakin sore kan semakin ricuh, luka-luka korban pun bertambah serius. Ada yang kakinya terlindas mobil polisi, kepalanya bocor kena timpuk, dan tangan atau kakinya patah karena jatuh,” cerita Aini.

Sementara menurut penglihatan Aini, hanya ada satu dokter yang berjaga di dalam kampus Atma Jaya. “Satu dokter, satu koas. Menurutku kurang banget. Bagaimana pun juga tim medis lain bukan tenaga medis. Kami bisa bantu bersihin luka, nempelin plester, tapi kalau udah kepala berdarah atau kaki kelindes mobil—kami nggak bisa ngapa-ngapain,” tutur Aini.

Selain sumber daya manusia, tim medis juga kekurangan stok oksigen, air, masker, dan air garam yang berfungsi untuk menetralisir gas air mata. “Kebutuhan sendiri baru terbaca benar-benar setelah polisi mulai represif. Awalnya kami pikir oksigen akan tersisa banyak, tetapi setelah polisi menembakkan gas air mata ke sana-sini, kami justru kekurangan. Demonstran juga tidak menggunakan masker yang layak dan baru meminta ke kami setelah gas air mata ditembakkan,” jelas Usagi.

Aini juga menambahkan bahwa walaupun pasokan air cukup banyak, tetapi membagikannya yang susah. “Banyak orang yang menyumbangkan air. Ada yang menyumbangkan pisang dan lemper berkardus-kardus juga. Tapi karena kami sempat terpaksa mundur (ke dalam kampus), nggak semuanya bisa dibawa,” tutur Aini.

Sementara itu, pemenuhan obat-obatan maupun logistik dilakukan dengan membuka donasi. “Dari donasi masyarakat,” kata Usagi. Aliansi Pekerja Jakarta membuka donasi untuk membeli peralatan medis dan air lewat media sosial. Mereka juga menerima relawan yang bersedia ikut turun sebagai tim medis.

 

 

Related Article