featured

Unsplash

Olahraga

22 Jul 2021

Sejumlah Perusahaan Mundur Jadi Sponsor Olimpiade Tokyo, Alasan Pandemi atau Demi Citra?

Ray

Deretan perusahaan yang menjadi sponsor Olimpiade Tokyo 2020 memutuskan untuk tidak mengirimkan perwakilannya buat hadir ke upacara pembukaan pada Jumat (23/7/21) ini. Bahkan, sejumlah sponsor menyatakan mundur dari ajang olahraga internasional ini.

Deretan perusahaan yang mundur hingga absen pembukaan

Melansir Bloomberg banyaknya perusahaan yang menolak hadir hingga mengundurkan diri dari jajaran sponsor. Hal itu disebabkan kekhawatiran mereka terhadap dengan situasi Covid-19 yang dinilai semakin memburuk, khususnya akibat penyebaran varian E484K dan B.1.617.2 atau yang dikenal dengan sebutan Eek dan Delta.

Pejabat senior dari Nippon Telegraph & Telephone Corp., Fujitsu Ltd.dan NEC Corp. misalnya, memastikan diri bakal melewatkan upacara pembukaan acara itu. Hal senada juga disampaikan petinggi dari Panasonic Corp.

"Chief Executive Officer Yuki Kusumi akan melewatkan upacara pembukaan, meskipun Ketua Kazuhiro Tsuga hadir dalam perannya sebagai wakil presiden komite penyelenggara," kata pihak perusahaan Panasonic.

Perwakilan eksekutif dari Toyota Motor ikut memastikan dirinya tidak hadir dalam upacara pembukaan, sekaligus tidak akan menayangkan iklan Olimpiade Tokyo 2020. 

"Toyota President Akio Toyoda tidak menghadiri acara dan Toyota tidak akan menayangkan iklan televisi lokal selama pertandingan, meskipun berada di antara sponsor global," ucap keterangan resmi pihak Toyota Motors.

Baca Juga: Indonesia Harapkan Dua Medali Emas Olimpiade dari 28 Atlet | Asumsi

Sedangkan Bridgestone Corp. menyatakan untuk mundur dari daftar sponsor Olimpiade Tokyo 2020. Mereka memutuskan untuk tidak menyiarkan iklannya saat jeda pertandingan Olimpiade berlangsung.

Selanjutnya ada Meiji Holdings Co., Asahi Group Holdings Ltd., Nippon Life Insurance Co., dan Sumitomo Mitsui Financial Group Inc. yang memutuskan eksekutif dan perusahaan mereka tidak akan pergi ke lokasi acara Olimpiade.

Meski jajaran sponsor banyak yang menolak hadir dan mundur dari keikutsertaan sebagai pendukung acara, Ketua Panitia Penyelenggara Olimpiade Tokyo Toshiro Muto memastikan pihaknya tetap akan menggelar acara sesuai rencana. Mulai dari upacara pembukaan, yang berlangsung dari 23 Juli hingga penutupannya pada 8 Agustus 2021.

"Penularan mungkin terus terjadi dan bakal sulit dikendalikan. Namun, kami tetap melanjutkan situasi ini, dengan tentunya mempertimbangkan sejumlah hal yang menjadi masalah," katanya melansir NPR.

Demi kepentingan merek

Marketing Expert dari Inventure Consulting, Yuswohady menilai sangat wajar para sponsor ini memutuskan untuk mundu hingga ramai-ramai menolak hadir saat upacara pembukaan.

Meski sudah memiliki komitmen tertulis sebagai sponsor dengan penyelenggara Olimpiade, mereka masih memiliki hak untuk mengundurkan diri sebagai pendukung acara pesta olahraga internasional ini.

"Di dalam kontrak, selalu ada pasal yang merinci kesepakatan yang terjadi di situasi yang ada di luar kendali, force majure. Pasal ini bisa mengakomodasi pembatalan kerja sama atau si sponsor ini mundur karena namanya COVID-19 ini kan, enggak bisa di-manage. Memang menurut saya, Olimpiade Tokyo ini agak dipaksakan untuk terus berlangsung saat seluruh dunia berhadapan dengan peningkatan kasus COVID-19," jelas Yuswohady kepada Asumsi.co melalui sambungan telepon, Kamis (22/7/21).

Menurutnya keputusan para sponsor ini karena bila merek mereka tetap menjadi pendukung acara Olimpiade di tengah situasi pandemi yang semakin tidak kondusif, maka bisa menjadi dilema jika publik bakal menuding mereka sebagai merek yang tidak empati karena mendukung penyelenggaraan acara yang berpotensi menyebabkan klaster global COVID-19.

"Sekarang situasinya memang lagi semakin enggak kondusif dan namanya pandemi ini kan, urusannya nyawa pasti banyak perusahaan yang khawatir brand mereka jelek image-nya. Artinya mereka terkesan mendukung event yang berpotensi menjadi klaster yang menyebarkan COVID-19 secara global. Semua orang sekarang sedang berjibaku bagaimana menghindari virus, sedangkan malah menjadi sponsor event yang jadi sumber penularan pandemi global ini kan, buruk sekali buat brand," tuturnya.

Sepi euforia

Yuswohady menilai pelaksanaan Olimpiade ini tentu tidak akan berjalan efektif bila sponsor-sponsornya banyak yang mengundurkan diri. Bila Olimpiade tetap berlangsung namun pemerintah Jepang malah kewalahan menangani situasi pandemi tentu bisa sangat mencoreng wajah negara tersebut.

Menurutnya, bisa saja Jepang akhirnya menyerah dan memutuskan untuk mengehentikan penyelenggaraan Olimpiade.

"Jepang ini ambil risiko. Artinya, saat berhasil menggelar Olimpiade di masa pandemi ini maka nation brand-nya bisa terangkat. Cuma kelihatannya gagal karena banyak atlet terpapar. Ini kan, memang dipaksakan digelar karena dikira pandemi Covid-19 akan membaik tahun ini, ternyata enggak. Otomatis euforianya akan sepi dan mungkin saja dihentikan acaranya jika ke depan melihat situasi pandemi ini sangat krusial," terangnya.

Baca Juga: 10.000 Volunteer Mundur, Olimpiade Tokyo 2020 Maju Terus! | Asumsi

Founder sekaligus CEO Markplus Inc, Hermawan Kartajaya juga mengaku tak heran dengan banyak sponsor Olimpiade Tokyo 2020 yang menyatakan mundur dari keikutsertaan mendukung acara. Menurutnya, citra perusahaan yang baik di masa pandemi ini dengan tidak melakukan langkah blunder, seperti menjadi sponsor Olimpiade merupakan hal penting.

"Ketika sponsor mundur ini wajar karena selain masalah keselamatan dan kesehatan, ini juga masalah image. Pertimbangan sponsor ini sangat krusial di masa pandemi bagi citra perusahaan mereka. Perusahaan tentu menghindari jadi sponsor yang  bisa membentuk persepsi kalau mereka mendukung event yang bisa menjadi klaster penyebaran virus corona" ucapnya saat dihubungi terpisah.

Berikut daftar yang menjadi sponsor Olimpiade Tokyo 2020:

1. Perusahaan Teknologi: Panasonic Corp., Nippon Telegraph & Telephone Corp. (NTT), Atos, Fujitsu Ltd., Alibaba, NEC Corp., Intel, General Electric, dan Samsung,

2. Perusahaan Pengolahan Makanan dan Minuman: Meiji Holdings Co., Coca-Cola, dan Asahi Group Holdings,

3. Produk Kesehatan dan Kecantikan: Procter & Gambler (P&G),

4. Perusahaan Bisnis Perjalanan: Airbnb,

5. Perusahaan Otomotif: Toyota Motors dan Bridgestone Co.,

6. Perusahaan Jasa Keuangan: Nippon Life Insurance Co., Sumitomo Mitsui Financial Group Inc, Nomura Holdings Inc., Allianz, Visa, dan Mizuho Financial Group Inc., 

7. Perusahaan Minyak dan Tambang: Eneos Holdings,

8. Perusahaan Infrastruktur: DOW,

9. Perusahaan aksesoris: Omega.

Share: Sejumlah Perusahaan Mundur Jadi Sponsor Olimpiade Tokyo, Alasan Pandemi atau Demi Citra?