featured

Mattel.com

General

12 Jun 2021

Produsen Mainan Sulap Sampah Plastik Laut jadi Barbie, Bagaimana Pabrik di Indonesia?

Citra

Ada terobosan baru dari Barbie. Bukan karakter baru ataupun wajah baru, tetapi ‘tubuh’ baru.

Perusahaan mainan global terkemuka di Amerika Serikat, Mattel, meluncurkan lini baru Barbie yang terbuat dari plastik daur ulang sampah laut. Mattel bekerja sama dengan perusahaan daur ulang plastik, Enovision Plastics. Bahan yang didapat bersumber dari daerah di semenanjung Baja Meksiko, upayanya yaitu untuk mengurangi polusi limbah plastik.

Keluaran terbaru ini dinamai Barbie Loves the Ocean. Koleksi Barbie Loves the Ocean terdiri dari tiga boneka. Ketiganya terbuat dari 90 persen plastik daur ulang yang merupakan sampah laut. Selain tiga boneka, ada pula satu set bermain dan aksesori bernama Beach Shack. Keduanya juga terbuat lebih dari 90 persen plastik daur ulang. Setiap boneka dihargai $10 dolar AS, sedangkan set bermain senilai $20 dolar AS.

Tujuan peluncuran Barbie Loves the Ocean yakni untuk mencapai produk yang 100 persen berbahan plastik daur ulang. Harapannya, semua produk dan kemasan merupakan daur ulang atau berbasis bio dapat tercapai pada tahun 2030. “Peluncuran Barbie ini merupakan tambahan lain untuk portofolio merek Mattel yang didorong oleh tujuan yang berkelanjutan, yang menginspirasi kesadaran lingkungan dengan konsumen kami sebagai fokus utama,” kata Presiden dan Chief Operating Officer Mattel, Richard Dickson, dikutip dari situs resmi Mattel.

Dickson melanjutkan, Mattel memberdayakan produk generasi berikutnya utuk mengeksplorasi masa kanak-kanak, agar anak-anak mencapai potensi penuh mereka. “Kami mengambil tanggung jawab ini dengan serius dan terus melakukan usaha kami untuk memastikan anak-anak dapat mewarisi dunia yang penuh potensi,” lanjut Dickson.

Baca Juga : Alih-alih Melarang Plastik Sepenuhnya, Kurangi Penggunaan Plastik yang Tidak Perlu

Sementara itu, wakil presiden senior di Mattel sekaligus kepala global portofolio perusahaan Barbie and Dolls, Lisa McKnight, mengatakan, upaya berkelanjutan melalui daur ulang mewakili langkah selanjutnya dalam misi sosial dan evolusi Barbie. “Untuk benar-benar menunjukkan kepada generasi berikutnya bahwa mereka bisa menjadi apa saja, kita harus mengambil bagian dalam melindungi planet ini, mengurangi dampak lingkungan, dan mempromosikan perilaku sehari-hari yang berkelanjutan,” jelas McKnight, dikutip dari CNN.

Lantas, sebelum Barbie, apakah ada perusahaan yang sudah menerapkan daur ulang plastik laut sebelumnya?

Kepada Asumsi.co, Staf Program Isu Perkotaan dan Iklim WALHI Nasional, Abdul Ghofar, mengatakan, ada beberapa perusahaan yang telah mencoba melakukan hal yang sama dengan memanfaatkan kemasan bekas atau sampah plastik menjadi produk baru. Contohnya adalah Eiger. Tas gunung Savior yang diproduksi Eiger menggunakan material dari sampah botol plastik kemasan. Ada juga perusahaan apparel kenamaan, Adidas, yang membuat jersey dari kemasan plastik.

“Barbie, Eiger, dan perusahaan apparel (Adidas) memakai skema pemanfaatan material dari hasil sampah produk perusahaan lain,” kata Ghofar.

Selain itu, ada pula skema daur ulang sampah dari satu produsen yang sama. Misalnya, Aqua, yang membuat kemasan botol dari botol bekas produk mereka.

Tak hanya itu, contoh perusahaan lain yang sering dijadikan champion dan baru-baru ini memberikan terobosan barumenurut Ghofar, yakni The Body Shop dan Garnier. “Mereka secara voluntary mendorong pemanfaatan kembali kemasan produk mereka. The Body Shop memfasilitasi drop box untuk return kemasan dan memberikan insentif diskon harga untuk pembelian produk baru,” ujar pria yang juga menjabat sebagai Co-Coordinator Aliansi Zero Waste Indonesia (AZWI) tersebut.

Terobosan berbagai perusahaan tersebut merupakan langkah yang cukup maju, khususnya bagi perusahaan yang memanfaatkan sampah plastik di luar sampah produk mereka.

Baca Juga : 100% Recycleable Bukan Jaminan Produk Akan Didaur Ulang

Ghofar mengungkapkan, sayangnya, skala produksi produk yang dihasilkan tidak sebanyak produk dari raw material. “Jadi, skala pengurangan cemaran sampah plastiknya tidak signifikan. Belum lagi biaya untuk melakukan proses pemanfaatan kembali membutuhkan proses panjang dan biaya yang lebih banyak,” tuturnya.

Oleh karena itu, Ghofar mengapresiasi langkah Mattel sebagai produsen Barbie dalam berupaya mengurangi sampah plastik yang mencemari lingkungan. Meskipun nampaknya kecil, menurut Ghofar, jika upaya tersebut dilakukan secara masif oleh kelompok lain, maka akan membawa dampak yang cukup besar.

Bagaimana dengan upaya zero waste dan daur ulang sampah plastik lautan di Indonesia?

Ghofar mengatakan, inisiatif untuk berkontribusi pada pengurangan sampah plastik di lautan muncul dari masyarakat dan kelompok usaha. Pemerintah Indonesia telah mengeluarkan Peraturan Presiden Nomor 83 Tahun 2018 tentang Penanganan Sampah Laut. Namun, Ghofar menilai, pemerintah nampaknya belum serius dalam mewujudkan target pengurangan sampah laut sebesar 70 persen di tahun 2025, seperti yang tertuang dalam Perpres.

“Padahal mereka telah membentuk TKN-PSL (Tim Koordinasi Nasional-Penanganan Sampah Laut) dan mencetuskan sederet program pengurangan sampah, mulai dari mendorong kesadaran masyarakat hingga pengurangan sampah dari industri baik hulu maupun hilir,” terangnya.

Oleh karena itu, upaya dari masyarakat dan kelompok usaha akan berdampak kecil jika pemerintah tidak mengambil langkah strategis untuk melakukan pengurangan. Pasalnya, pengurangan sampah plastik di lautan adalah langkah strategis jangka panjang, sementara penanganannya merupakan langkah jangka pendek.

Ghofar berharap, akan semakin banyak produsen yang bertanggung jawab atas sampah yang mereka hasilkan ke depannya. Apalagi, berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor 75 Tahun 2019 tentang Peta Jalan Pengurangan Sampah oleh Produsen, tiga jenis perusahaan (ritel, manufaktur dan jasa makanan minuman) akan didorong secara bertahap hingga 2030 untuk menerapkannya beberapa jenis bahan kemasan mereka.

“Melalui Permen LHK tersebut, produsen diwajibkan menyusun skema (peta jalan) pengurangan sampah dengan berbagai opsi seperti penggunaan kembali, daur ulang, hingga substitusi bahan/material untuk produk atau kemasan produk,” pungkas Ghofar.

Share: Produsen Mainan Sulap Sampah Plastik Laut jadi Barbie, Bagaimana Pabrik di Indonesia?