Covid-19

Perjuangan RS Bhina Bhakti Husada Rembang Cari Oksigen, dari Distributor Sampai ke Ganjar

Ikhwan Hardiman — Asumsi.co

featured image
Unsplash

Stok tabung oksigen rumah sakit terus menipis, bahkan habis. Ada pula rumah sakit yang terpaksa gigit jari karena pasokan oksigen yang sudah datang, ditarik lagi oleh distributor. Krisis itu dirasakan oleh beberapa pihak seperti Rumah Sakit Bhina Bhakti Husada, Rembang, Jawa Tengah dan RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta ketika persediaan oksigen untuk merawat pasien telah habis. 

Direktur Utama RS Bhina Bhakti Husada, Bobet Evih membenarkan kabar itu. Sejak Kamis (15/7/2021) subuh, sudah tidak ada lagi tabung oksigen yang bisa dipakai untuk menangani pasien. Padahal, 80 persen pasien bergantung pada oksigen tersebut. 

Namun akhirnya, pihak rumah sakit baru mendapat pasokan oksigen yang cukup untuk persediaan selama empat hingga lima hari ke depan. Di satu sisi, rumah sakitnya kini sedang berusaha mencari obat-obatan yang biasa dipakai untuk merawat pasien Covid-19. 

“Ini baru terisi 2.000 liter untuk 4-5 hari ke depan. Saat ini beberapa obat-obatan juga kami kehabisan,” kata Bobet saat dihubungi Asumsi.co. 

Ia memastikan berbagai upaya dilakukan pihak rumah sakit untuk menjaga pasien. Perwakilan pemilik RS Bhina Bhakti Husada, Novita PW menyebut pihaknya sudah berusaha menghubungi distributor tabung oksigen. 

Akan tetapi, penyalur tabung oksigen yang sudah menjanjikan pasokan bakal datang pada subuh hari tak kunjung datang.

Jerit RS Bhina Bhakti Husada berawal dari cuitan Novita di akun Twitter-nya kepada Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo. Ia mengeluhkan penyaluran tabung oksigen yang mampet serta persediaan yang habis meski dirinya sudah berkeliling mencari. 

Padahal, rumah sakitnya adalah satu-satunya rujukan selain RSUD yang menangani pasien Covid-19.

“Kami atas nama RS Bhina Bakti Husada Rembang butuh bantuan oksigen, Pak. Oksigen tinggal untuk 3-4 hari ke depan, stok di mana-mana habis. Kami satu-satunya RS resmi pembantu RSUD dalam penanganan Covid-19 di Rembang, Pak. Tolong kami,” tulis Novita di akun Twitter-nya, sekaligus menautkan cuitannya ke beberapa akun lain.

Baca Juga: Daftar Tempat Isi Ulang Tabung Oksigen di Jabodetabek | Asumsi

Novita mengaku sudah mengikuti prosedur pengajuan distribusi oksigen melalui aplikasi Jateng Oxygen Stock System (JOSS) seperti yang diminta pihak Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Tengah. 

Ia menyebut Pemprov Jawa Tengah sudah membantu menghubungi vendor, namun harapan tinggallah harapan karena distributor terkesan saling lempar. Pemasok dari luar Rembang pun tidak mengirim tabung oksigen ke wilayahnya. 

Pada Jumat (16/7/2021) pagi, Novita menyampaikan lewat akun Twitter-nya bahwa pasokan 2.000 liter oksigen tiba di rumah sakitnya pada pukul 06.00 WIB. Sehari sebelumnya pada Kamis (15/7/2021) pagi, ia sempat mencuit oksigen sudah benar-benar kritis. 

Ia berharap pemerintah dapat turun tangan dengan mengumpulkan berbagai vendor untuk menjamin pasokan oksigen ke rumah sakit. Novita meminta komitmen pemerintah dan penyalur oksigen untuk bekerjasama menangani pandemi Covid-19 yang belum menunjukkan tanda-tanda bakal segera berakhir. 

Di satu sisi, koordinasi antar vendor juga dinilai perlu menjadi perhatian karena rawan menimbulkan gesekan satu sama lain. Kasus di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta dapat dijadikan contoh. Kala itu, pihak vendor menarik pasokan 250 tabung oksigen setelah mengetahui RS PKU Muhammadiyah mengisi oksigen di penyalur lain.

Baca Juga: Tabung Oksigen Langka, Waspada Panic Buying dan Penimbunan Massal | Asumsi

Sebagaimana diberitakan Kompas, Direktur RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta, Mohammad Komarudin mengatakan penarikan tabung oksigen itu berawal dari peristiwa pada 4 Juli 2021, ketika pihaknya benar-benar kehabisan stok oksigen seperti yang dialami RS Sardjito. 

“Tanggal 4 (Juli) pas bersamaan dengan Sardjito itu keadaan benar-benar kritis. Hitungan kami kan dalam beberapa jam (oksigen) sudah habis. Pasokan liquid tidak jelas sehingga saya harus menyelamatkan pasien mengisi tabung yang kosong,” kata Komarudin.

Ia menyebut, sengaja mengisi tabung milik satu vendor ke vendor yang lain dilakukan karena kebutuhan mendesak. Komarudin mengaku tidak punya pilihan selain menyelamatkan pasien. Selain itu, ia tidak tahu-menahu soal prosedur pengisian tabung oksigen harus melalui serangkaian persyaratan. Tabung oksigen pun ia dapat dari sebuah vendor di Tuban, Jawa Timur, sementara rumah sakitnya berada di Yogyakarta. 

Kendati demikian, Komarudin tetap menyampaikan permohonan maaf meski tabung oksigen tetap ditarik pihak vendor. 

Permasalahan tabung oksigen ini bukan hanya dirasakan oleh dua rumah sakit tersebut. Hampir menyerah berharap pada pemerintah, pihak rumah sakit bahkan berusaha mengais asa kepada komunitas swadaya, Lapor Covid-19. 

Dalam data Lapor Covid-19 yang diterima Asumsi.co, selama 14-29 Juni 2021 saja pihaknya mendapat permintaan bantuan mencari rujukan rumah sakit dan ICU dari 84 kasus. Dari jumlah itu, hanya lima kasus yang berhasil mendapatkan rumah sakit, 11 hanya tertampung di IGD, dan 10 di antaranya berakhir dengan kematian.

Baca Juga: Edward Suhadi, Main Congklak Sebagai Analogi Penyebaran Virus | Asumsi

Dalam pernyataan tertulis mereka, Lapor Covid-19 menceritakan beberapa kejadian pilu ketika membantu pasien mencari rumah sakit rujukan. Ada pasien yang meninggal sesaat tiba di sebuah rumah sakit umum pusat milik pemerintah di Jakarta setelah mengalami berbagai penolakan di fasilitas kesehatan lainnya. 

Ada pula pasien yang ditolak rumah sakit darurat di Wisma Atlet Kemayoran, Jakarta, meski sudah mengantongi surat rujukan. Kesulitan lain seperti sulitnya mendapat ambulans, obat, dan oksigen menjadi persoalan pandemi Covid-19 di Indonesia. Lapor Covid-19 bahkan menyebut situasi saat ini jauh lebih parah ketimbang gelombang pandemi pertama pada tahun lalu.

Share: Perjuangan RS Bhina Bhakti Husada Rembang Cari Oksigen, dari Distributor Sampai ke Ganjar