featured

Unsplash

Sains

18 Jul 2021

Kenali Pseudosains Saat Pandemi, Subjektif Hingga Mengabaikan Segala Bukti

Irfan Muhammad

Pandemi Covid-19 yang berlangsung di tengah perkembangan teknologi mau tidak mau membuat penyebaran informasi tentangnya menjadi sangat masif. Dari ribuan bahkan jutaan informasi yang beredar, banyak pula yang isinya tidak saintifik atau dikenal dengan pseudosains.

Situasi ini kerap membingungkan publik. Dalam memilah informasi yang ada, publik jadi sulit membedakan mana yang benar dan tidak. Padahal, pseudosains di tengah pandemik ini bisa berpotensi membahayakan fisik dan mental orang yang memercayainya.

​Oleh karena itu, publik hendaknya mampu memahami batasan antara sains dan pseudosains ini. Jangan sampai kita menjadi korban dari sebaran pengetahuan yang tidak berlandaskan kajian ilmiah ini.

Mengutip tulisan Robert Shen dan Veronika Maria Sidharta dari Universitas Atmajaya yang terbit The Conversation, alasan manusia bisa percaya pseudosains adalah akibat adanya ketidaksempurnaan kognitif dan penalaran manusia. Ketidaksempurnaan merujuk pada ketidaksadaran manusia yang cenderung mengikuti keyakinan rata-rata orang atau kelompok di sekitarnya.

Oleh karena itu, perlu pemahaman terkait sejumlah ciri pseudosains agar tidak menjadi korban. Berikut ciri pseudosains yang perlu diketahui:

Sifatnya subjektif

Pertama, pernyataan itu tidak mungkin dibuktikan kesalahannya karena sifatnya yang subjektif. Ini bertentangan dengan sains yang justru mampu diuji berulang-ulang.

Salah satu pernyataan seperti ini adalah soal teori konspirasi. Teori ini kerap bersifat spekulatif dan bukan hasil observasi eksperimental. Ia adalah kumpulan dari praduga untuk memenuhi rasa ingin tahu ketika informasi yang dibutuhkan tidak tersedia, bertentangan, serampangan dan tidak sesuai pandangan pribadi.

​Dalam konteks pandemi Covid-19, konspirasi sering dikaitkan dengan pandemi yang merupakan senjata biologis Cina.

​Ciri selanjnya adalah teori yang tidak bisa diuji ulang oleh pihak lain. Dalam konteks pandemi, ini sering terjadi pada obat herbal yang diklaim mampu jadi penawar Covid-19. Misalnya, air kelapa dicampur dengan jeruk nipis dan garam.

Baca Juga: Survei Literasi Media: Anak Muda Harus Awasi Orang Tua dari Paparan Hoaks | Asumsi

Satuan Tugas Penanganan COVID-19 telah menyatakan ramuan tersebut hoaks. Masyarakat Anti Hoax Indonesia juga menyatakan hingga saat ini belum ada bukti kuat bahwa campuran garam dan air hangat bisa mengeluarkan virus corona atau Covid-19 dari tenggorokan.

Meski dikenal mampu membantu seseorang untuk sembuh dari flu lebih cepat, namun belum ditemukan bukti bahwa bahan-bahan alami tersebut mampu mencegah infeksi saluran pernafasan.

​Sebuah riset dari Cina terkait herbal untuk pengobatan COVID berkesimpulan bahwa obat herbal tidak dapat diuji karena takarannya menyesuaikan dengan gejala setiap individu. Padahal, sebuah hasil penelitian yang saintifik, tepercaya dan jelas signifikansinya wajib dapat diulangi percobaannya oleh semua peneliti lainnya dengan hasil akhir yang terbukti sama.

Mengabaikan segala bukti

​Pseudosains juga disebut memiliki ciri mengabaikan segala bukti yang bertentangan dengannya. Kabar-kabar seperti ini kerap kali hanya berpijak pada bukti empiris yang sesuai dengan kehendak pemberi kabar, namun menolak bukti empiris yang berlawanan.

​The Conversation mencontohkan ciri ini dengan sosok Hadi Pranoto yang mengaku profesor mikrobiologi. Di awal pandemi, ia mengklaim menciptakan antibodi COVID-19 sebagai obat minum pencegah COVID-19 dan mampu menyembuhkan dalam 2-3 hari.

​Hal ini merupakan satu bentuk pseudosains. Karena secara ilmiah, antibodi merupakan protein yang diciptakan oleh sistem imun tubuh kita setelah terinfeksi atau divaksinasi.

​Selama pandemi COVID-19, beredar pula terapi yang memanfaatkan aksesoris sebagai pencegah Covid-19. Bahkan, Kementerian Pertanian pernah mengeluarkan produk seperti ini dengan nama kalung eucalyptus.

​Hal ini merupakan salah satu ciri lain dari pseudosains, yakni mengandalkan bukti anekdotal dan telah diketahui tidak dapat diandalkan. Soalnya, secara ilmiah, para saintis menyatakan SARS-CoV-2 menginfeksi melalui reseptor ACE2 di organ pernapasan paru.

Belakangan diketahui juga reseptor ACE2 tersebar di organ lainnya yang menjadi potensi terjadinya kerusakan multiorgan pada perparahan gejala COVID-19.

​Klaim kalung tersebut lantas menjadi sulit dibuktikan secara ilmiah, karena mekanisme perlindungan dari kalung di leher tidak dapat mencegah virus yang masuk melalui saluran pernapasan.

​Pseudosains pun kerap bersifat argumen karena ketidaktahuan. Dalam konteks teori konspirasi pada pandemi Covid-19, wabah ini disebut direncanakan sejak 2017 dengan menampilkan data ekspor palsu Bank Dunia bertuliskan "Covid-19 Test kits exports by country in 2017".

Baca Juga: Makan Hoaks Berujung Kehilangan Nyawa, Mengapa Kabar Palsu Begitu Digemari? | Asumsi

Ada juga hoaks bahwa COVID-19 merupakan senjata biologis yang bocor, hoax politik, dan produk sampingan teknologi wireless 5G.

​Klaim seperti ini akan terus bertambah dan menjadi argumentasi pembelaan bagi pihak yang mempercayainya.

​Korban pseudosains dengan ciri ini kerap menerima klaim-klaim tersebut karena karena ketidakmampuan menyangkal klaim tersebut berdasarkan sumber sahih, padahal memang klaim semu seperti itu tidak perlu dibuktikan kepalsuannya.

Menekankan penegasan

​Adapun ciri yang terakhir adalah pseudosains sering berupa klaim kosong tak berdasar atau dibesar-besarkan tanpa uji terlebih dulu. Hal ini karena penyebar kabar lebih menekankan penegasan dibandingkan penolakan dan kurang memiliki data yang terbuka pada hasil uji oleh ilmuwan.

​Dalam konteks pandemi, ciri ini seperti yang terjadi pada isu kematian Maaher At-Thuwailibi akibat disuntik vaksin secara paksa di ruang tahanan kepolisian. Padahal --selain telah dibantah oleh keluarga dan polisi-- Indonesia pun saat ini menggunakan vaksin untuk menekan laju pandemi Covid-19.

​Sudah ada enam jenis vaksin yang digunakan mulai dari Sinovac, CoronaVac, Astrazeneca, Sinopharm, Moderna, dan yang terkini mendapat izin penggunaan darurat, Pfizer.

Terbaru, seorang dokter bernama Lois Owien juga menjadi perbincangan karena menuding kematian pasien Covid-19 akibat interaksi antar obat, bukan karena virus SARS-CoV-2. Pernyataan itu menimbulkan pro dan kontra hingga berujung pada penangkapan Lois oleh polisi.

Pasca diperiksa, Lois menyampaikan permintaan maaf. Sebelum penindakan dilakukan, sejumlah orang percaya dengan klaim Lois.

Baca Juga: Asal Mula Kata ‘Hoax’ Mulai Terkenal di Media | Asumsi

Bagaimana mencegahnya?

​Claire Wardle, ahli disinformasi dari Harvard University menyebut cara terbaik melawan misinformasi pseudosains di masa pandemi ini tak lain adalah dengan membanjiri sumber pencarian berita dengan informasi yang akurat. Selain itu, informasi yang disampaikan mengenai sains dan pandemi pun hendaknya mudah dipahami, menarik dan mudah disebarkan melalui media di perangkat seluler.

​Selain memerhatikan enam ciri tadi, ilmuwan pun harus aktif menyebarkan pengetahuan yang akurat dan kredibel kepada masyarakat dengan berbagai medium seperti media massa dan media sosial untuk melawan narasi pseudosains yang bisa mengancam nyawa pada situasi pandemi ini.

Share: Kenali Pseudosains Saat Pandemi, Subjektif Hingga Mengabaikan Segala Bukti