featured

Foto: Tangkapan Layar YouTube Watchdoc Documentary

Isu Terkini

23 Jun 2021

Jawab Isu Taliban, Penyidik KPK Ingatkan Warganet Bijak di Media Sosial

Ray

Tak lolosnya sejumlah pegawai Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dalam Tes Wawasan Kebangsaan (TWK) hingga kini masih menjadi sorotan publik. Isu yang berkembang di tengah masyarakat soal mereka yang tak lolos TWK karena dinilai memiliki pandangan radikal atau yang akrab disebut dengan Taliban. 

Penyidik KPK Andre Dedy Nainggolan, akrab dipanggil Nenggo, menyayangkan isu semacam ini berkembang di tengah masyarakat. Menurutnya, isu tersebut tidak benar. Dirinya menegaskan, sama sekali tidak ada kelompok Taliban di tubuh institusi yang kini dipimpin Firli Bahuri ini.

"Di media sosial beredar begitu. Saya tidak menyalahkan medsos tapi saya mengingatkan kita semua untuk mengkroscek segala informasi yang beredar di media sosial. Seharusnya media sosial bisa menyampaikan pesan-pesan yang benar," tuturnya."Saya menyebut, 'saya bukan Taliban saya Saliban karena isu yang banyak dikembangkan seperti itu di media sosial," kata dia saat berbincang dalam siaran langsung akun Instagram @whatisupindonesia, Selasa (22/6/21) malam.

Dalam film dokumenter “The Endgame” buatan Watchdoc, Nenggo mengaku dirinya adalah seorang penganut Nasrani sehingga ia menolak disebut Taliban, yang merupakan kelompok radikal yang berkuasa resmi di Afghanistan dari 1996 hingga 2001 setelah menggulingkan pemerintahan Mujahiddin yang didukung Amerika Serikat. 

Nenggo Heran Tidak Lulus TWK

Nenggo sebenarnya juga mempertanyakan alasan dirinya tak lolos TWK. Soalnya dia bilang selama tes dijalaninya, tidak ada satu pun pertanyaan yang dinilai bisa jadi penyebab kegagalannya. 

"Saya enggak ingat ada satu pun pertanyaan yang membuat saya jadi konyol," ungkap pria lulusan Akademi Kepolisian (Akpol) angkatan tahun 2000 ini. Ia mengaku merasa familiar dengan jenis tes seperti TWK yang diikutinya saat masuk Akpol. 

"Dulu namanya, Tes Mental Ideologi sekarang Tes Wawasan Kebangsaan," ucapnya. Di dalam TWK, kata dia, memang ada pertanyaan yang memberikan pilihan setuju atau tidak bila Pancasila diganti dengan ideologi keagamaan. Namun, bila dikaitkan dengan agama yang dianutnya pertanyaan tersebut sama sekali tidak membuatnya merasa ada keterhubungan.

"Ada pertanyaan baku untuk elaborasi pertanyaan lainnya, ketika ditanyakan tentang bagaimana kalau Pancasila diubah ideologi lain? Sehingga ada pertanyaan setuju Pancasila atau (ideologi berdasarkan) Alquran, gimana?" terangnya. Saat mendapat pertanyaan tersebut, ia mengaku menjawabnya dengan bijak tanpa terkesan memojokkan salah satunya. 

"Saya tidak merasa liberal. Saya sudah tahu gimana harus jawab pertanyaan itu biar enggak terlihat kanan atau kiri, tapi masih enggak lulus juga," ucapnya. Melihat ramainya isu pegawai KPK dikaitkan dengan Taliban di dunia maya, diakui Nenggo membuatnya merasa gerah. Ia mengingatkan warganet Indonesia, khususnya anak muda supaya selalu bijak dalam menyikapi berbagai isu yang berseliweran di dunia maya.

Baca juga: Tes Wawasan Kebangsaan KPK Dipertanyakan Urgensinya | Asumsi

"Saya lama hidup di zaman Orde Baru lalu masuk era Reformasi. Satu hal yang menjadi barang langka di Indonesia adalah integritas. Jangan sampai ini jadi langka, apalagi buat milenial dan Gen Z. Saya lihat interest milenial dan Gen Z lebih banyak bermain di medsos. Permasalahannya apakah yang ada di medsos itu sudah terklarifikasi dengan baik?" tuturnya.Belakangan, diketahui kalau Nenggo merupakan salah satu penyidik yang terlibat dalam pengusutan kasus korupsi bantuan sosial COVID-19 yang menjerat mantan Menteri Sosial Juliari Batubara sebagai tersangka.

"Saya lama hidup di zaman Orde Baru lalu masuk era Reformasi. Satu hal yang menjadi barang langka di Indonesia adalah integritas. Jangan sampai ini jadi langka, apalagi buat milenial dan Gen Z. Saya lihat interest milenial dan Gen Z lebih banyak bermain di medsos. Permasalahannya apakah yang ada di medsos itu sudah terklarifikasi dengan baik?" tuturnya.

Belakangan, diketahui kalau Nenggo merupakan salah satu penyidik yang terlibat dalam pengusutan kasus korupsi bantuan sosial COVID-19 yang menjerat mantan Menteri Sosial Juliari Batubara sebagai tersangka.

Tidak Lulus TWK Diduga Terkait Kasus Bansos COVID-19

Pakar hukum pidana Universitas Trisakti, Abdul Fikar Hadjar tak menutup kemungkinan alasan tak lolosnya Nenggo dalam TWK bukan karena isu Taliban, melainkan ada kaitannya dengan kasus bansos yang menjerat mantan menteri yang juga politikus PDI Perjuangan ini dalam perkara korupsi.

"Tidak lolosnya sejumlah penyidik terbaik KPK dalam TWK tentu tidak menutup kemungkinan ada kaitanya dengan kasus korupsi yang sedang ditangani mereka," kata Fikar kepada Asumsi.co melalui sambungan telepon, Rabu (23/6/21).

Baca juga: Skandal Menggerogoti KPK, Kini Jadi Komisi 'Diberantas' Korupsi? | Asumsi

Ia menilai, saat menangani kasus tersebut, Nenggo mungkin dianggap aktif dalam melakukan pengusutannya. Keaktifannya, kata dia, bikin banyak pihak yang belum terkuak keterlibatannya dalam perkara ini merasa gerah.

"Dengan dia tidak lolos TWK, otomatis tidak bisa lagi melanjutkan pengusutan perkara yang sedang dilakukan. Artinya, kasusnya terhenti sementara. Mungkin banyak yang gerah karena bisa jadi ada keterlibatan pihak lain yang belum terungkap, bisa dari kementeriannya atau kalangan parpolnya sendiri," terangnya.

Supaya tidak terus menerus menjadi dugaan, menurutnya perlu dilakukan investigasi mendalam soal penyebab para pegawai terbaik KPK bisa tidak lolos TWK.

"Harus diinvestigasi secara independen soal penyebab ketidaklulusan mereka. Kemudian kalau ditemukan banyak asumsi yang terkait dengan perkara yang ditangani masing-masing penyidik, bisa jadi sengaja tidak diluluskan supaya penyidikan kasus korupsinya terhenti," katanya.


____________

Catatan redaksi: Judul dan komposisi penulisan artikel ini telah diperbarui untuk menghindari kesalahpahaman.

Share: Jawab Isu Taliban, Penyidik KPK Ingatkan Warganet Bijak di Media Sosial