Jasa Kakek Anies Baswedan, AR Baswedan, yang Diberi Gelar Pahlawan Nasional

Kakek Anies Baswedan yang bernama Abdurrahman Baswedan alias AR Baswedan dianugerahkan gelar Pahlawan Nasional oleh Presiden RI Joko Widodo. Selain AR Baswedan, ada tokoh-tokoh lainnya yang juga mendapatkan gelar yang sama. Pemberian gelar diterima langsung oleh para ahli waris di Istana Negara, Kamis, 8 November 2018.

Keputusan penganugerahan gelar pahlawan nasional itu tercantum dalam Keputusan Presiden Nomor 123/TK/2018. Keputusan itu ditandatangani Presiden Jokowi pada 6 November 2018 dengan pedoman Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2009 tentang Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan.

Perlu diketahui, sebelumnya, nama-nama tokoh yang masuk lebih dulu digodok oleh Tim Peneliti Pengkaji Gelar Pusat (TP2GP) di Kementerian Sosial. Setelah itu, baru nama-nama tersebut diajukan ke Presiden, hingga akhirnya dipilih enam nama yang diberi gelar Pahlawan Nasional pada tahun 2018 ini. Siapa saja mereka?

1. Abdurrahman Baswedan tokoh dari Provinsi DI Yogyakarta.
2. IR H Pangeran Mohammad Noor tokoh dari Kalimantan Selatan. 
3. Agung Hajjah Andi Depu tokoh dari Sulawesi Barat. 
4. Depati Amir tokoh dari Bangka Belitung. 
5. Kasman Singodimedjo tokoh dari Jawa Tengah. 
6. Brigjen KH Syam'un tokoh dari Banten.

Penganugerahan gelar Pahlawan Nasional kepada AR Baswedan sendiri disambut baik oleh Anies Baswedan yang mewakili kakeknya menerima anugerah itu. Anies mengatakan kebijakan Presiden Jokowi ini menjadi penyemangat bagi dirinya dan generasi muda melanjutkan perjuangan. 

"Kami bersyukur pemerintah menganugerahkan itu dan ini amanat bagi kami semua meneruskan perjuangan," kata Anies di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Kamis, 8 November 2018.

Melihat Peran AR Baswedan di Era Kemerdekaan

Mungkin masih banyak yang belum mengenal sosok AR Baswedan yang baru saja diberi gelar Pahlawan Nasional oleh Presiden Jokowi. Kakek dari Anies Baswedan ini dikenal sebagai seorang nasionalis, jurnalis, pejuang kemerdekaan Indonesia, diplomat, mubalig, dan sastrawan semasa hidupnya. 

Bahkan, pada masa kemerdekaan, AR Baswedan pernah menjadi anggota Badan Penyelidik Usaha dan Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI). Tak hanya itu saja, sosok kelahiran Surabaya pada 9 September 1908 silam ini juga sempat masuk dalam kabinet sebagai Wakil Menteri Muda Penerangan RI pada Kabinet Sjahrir. 

Selain itu, AR Baswedan juga diketahui pernah menjadi bagian dari Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat (BP-KNIP), Anggota Parlemen, dan Anggota Dewan Konstituante. Sosok yang wafat pada 16 Maret 1986 ini juga menjadi salah satu diplomat pertama Indonesia dan berhasil mendapatkan pengakuan de jure dan de facto pertama bagi eksistensi Republik Indonesia dari Mesir.

Sebagai seorang diplomat yang kerap berinteraksi dengan orang-orang penting dari negara lain, AR Baswedan tak hanya bisa berbicara dan menulis dalam bahasa Indonesia saja. Ia juga menguasai Bahasa Arab, Bahasa Inggris, dan Bahasa Belanda dengan fasih.

"Beliau adalah orang yang memang mencintai Indonesia luar biasa dalam semua pikirannya, langkahnya, tindakannya begitu. Bahkan anaknya yang duduk di belakang ini namanya Imlati, itu lahir bulan Juli ketika beliau masih anggota BPUPKI," ucap Anies Baswedan saat menggambarkan sosok sang kakek.

Penggerak Para Pemuda Lawan Penjajah

Pada 1 Agustus 1934 silam, Harian Matahari Semarang memuat tulisan Baswedan tentang orang-orang Arab. Dalam artikel itu, foto Baswedan termuat jelas dengan memakai surjan dan blangkon. Ia sendiri dikenal sebagai pemberontak peranakan Arab, yang ternyata juga fasih dalam berbicara dalam bahasa Jawa Surabaya.

Kala itu, Baswedan menyerukan kepada orang-orang keturunan Arab agar bersatu membantu perjuangan kemerdekaan Indonesia. Ia mengajak rakyat keturunan Arab, untuk memahami dan menganut asas kewarganegaraan ius soli: di mana saya lahir, di situlah tanah airku.

Baswedan memang punya peran besar dalam menyiapkan gerakan pemuda peranakan Arab untuk berperang melawan Belanda di masa-masa revolusi. Kala itu, siapa saja yang sudah terpilih, dilatih dan dipersiapkan secara fisik dengan menu latihan semi militer di barak-barak untuk nantinya ikut bertempur.

Di tengah-tengah perjuangannya untuk bangsa dan negara, Baswedan sempat ditahan pada masa pendudukan Jepang pada tahun 1942. Perjuangannya pun terus berlanjut tak berhenti, terutama ketika Indonesia merdeka, di mana dirinya bertaruh nyawa saat membawa dokumen pengakuan kemerdekaan Indonesia dari Mesir pada 1948. 

Kala itu, Baswedan mendapatkan berbagai gangguan dan hambatan dalam menjaga dokumen yang ia bawa. Situasi yang dihadapi semakin sulit kala semua bandara di kota-kota besar di tanah air, termasuk Jakarta, sudah dikuasai tentara Belanda dan Sekutu dan tidak ada yang bisa lewat dari penjagaan mereka. 

Seperti sebuah kisah heroik, Baswedan pun berhasil melewati rintangan tersebut. Dokumen penting yang ia bawa dari Mesir tersebut lantas ditaruh di bagian dalam kaos kaki hingga selamat. Akhirnya, Indonesia mendapatkan pengakuan sebagai negara merdeka secara penuh, secara de jure dan de facto.

Jadi Seorang Jurnalis Pejuang

Kemampuan menulis yang dipelajari secara otodidak membuat Baswedan dengan mudah membuka jalannya sebagai seorang jurnalis. Dunia jurnalisme banyak ia dapatkan setelah bertemu dengan wartawan pertama dari keturunan Arab di Hindia Belanda, Salim Maskati, sosok yang di kemudian hari membantunya menjadi Sekertaris Jenderal Persatuan Arab Indonesia (PAI). 

Profesi utama Baswedan kala itu memang sebagai seorang jurnalis. Bahkan, berkat kontribusinya di dunia jurnalisme tanah air, Soebagio I.N, dalam buku Jagat Wartawan memilih Baswedan sebagai salah seorang dari 111 perintis pers nasional yang tangguh dan berdedikasi.

Kemudian, Baswedan pernah mendapatkan 75 gulden, kala itu beras sekuintal hanya 5 gulden, ketika bekerja di Sin Tit Po. Namun, ia kemudian keluar dan memilih bergabung dengan Soeara Oemoem, milik dr. Soetomo dengan gaji 10-15 gulden sebulan. 

Karier jurnalistik Baswedan pun berlanjut dan ia memutuskan untuk bekerja di Matahari. Namun, akhirnya ia harus meninggalkan pekerjaannya di Matahari, lantaran dirinya menerima amanah untuk menjalankan roda organisasi Persatuan Arab Indonesia (PAI). Padahal, saat itu ia mendapatkan gaji yang lumayan besar yakni senilai 120 gulden di Matahari, atau setara 24 kuintal beras waktu itu.

Tentu, sebagai seorang wartawan pejuang yang hidup di era kemerdekaan, Baswedan sangat produktif menulis. Di era revolusi, tulisan-tulisan Baswedan kerap tampil di media-media propaganda kebangsaan Indonesia dengan nada positif dan optimistis, sebagaimana terekam dalam buku The Crescent and the Rising Sun: Indonesian Islam Under the Japanese Occupation, 1942-1945 karya Harry J. Benda.

Berikut perjalanan karier AR Baswedan di dunia jurnalistik:
Redaktur Harian Sin Tit Po di Surabaya (1932).
Redaktur Harian Soeara Oemoem di Surabaya yang dipimpin dr. Soetomo (1933).
Redaktur Harian Matahari, Semarang (1934).
Penerbit dan Pemimpin Majalah Sadar.
Pemimpin Redaksi Majalah internal PAI, Aliran Baroe (1935-1939).
Penerbit dan Pemimpin Majalah Nusaputra di Yogyakarta (1950-an).
Pemimpin Redaksi Majalah Hikmah.
Pembantu Harian Mercusuar, Yogyakarta (1973).
Penasihat Redaksi Harian Masa Kini, Yogyakarta (70-an).

Perlu diketahui, bahwa Baswedan punya banyak peninggalan dalam bentuk koleksi buku-bukunya yang berjumlah lebih dari 5.000 buku. Wasiat Baswedan kala itu bahwa buku-buku tersebut harus dijadikan perpustakaan. 

Akhirnya, buku-buku berbahasa Arab, Belanda, Inggris, dan Indonesia yang ia miliki ditata rapi (dengan katalog modern) di kamar depan, yang dulu menjadi ruang kerjanya, di rumahnya di Kota Yogyakarta Masyarakat luas, terutama mahasiswa bisa dengan mudah mengakses koleksi buku-buku peninggalan Baswedan. 

Semasa hidupnya, Baswedan juga dikenal sebagai sosok yang banyak berinteraksi dengan anak-anak muda. Beberapa anak muda yang dekat dengannya adalah Alm. Ahmad Wahib, Anhar Gonggong, Emha Ainun Nadjib, Lukman Hakim (PPP), Syu'bah Asa, Taufiq Effendi (Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara 2004-2009), W.S. Rendra dan hampir semua aktivis muda di Yogyakarta pada periode 1960-an sampai 1980-an.

Related Article