Covid-19

Jangan Tunggu Fasilitas Kesehatan Kolaps Baru Lockdown

Irfan — Asumsi.co

featured image
Unsplash

Kasus penularan COVID-19 pada Kamis (24/6/2021) mencetak rekor tertinggi, satgas penanganan COVID-19 mencatat angka penularan bertambah 20.574 kasus. Sehingga akumulasi positif COVID-19 saat ini sebanyak 2.053.995 kasus positif. Penambahan kasus pada hari ini menjadi yang tertinggi selama Indonesia mengalami wabah COVID-19 sejak Maret 2020. Meroket kasus Covid-19 saat ini mmembuat keterisian tempat tidur di rumah sakit semakin menipis.

Dalam keterangan resmi Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan DKI Jakarta Dwi Oktavia mengatakan tingkat keterisian tempat tidur isolasi pasien Covid-19 kini mencapai 90 persen. Menurut dia, dari 9.852 tempat tidur 8.874 kini sudah ditempati pasien.

“Lalu sebanyak 1.218 tempat tidur ICU yang ada kini terisi 86 persen atau 1.048 pasien,” kata dia.

Dwi menyebut data ini tercatat per 23 Juni 2021. Tempat tidur isolasi dan ICU tersebut tersebar di 140 rumah sakit Ibu Kota yang merawat pasien Covid-19. Persentase keterisian tempat tidur isolasi dan ICU di Ibu Kota terus meningkat. Hal ini sejalan dengan melonjaknya kasus Covid-19 yang terjadi sejak 9 Juni 2021. Pemicu lonjakan kasus adalah libur Lebaran 2021 dan merebaknya varian baru di Indonesia.​

Kini bukan masalah berapa rupiah uang yang kita punya untuk merawat kerabat yang terpapar Covid-19 dan butuh perawatan intensif. Tetapi ada tidaknya kamar dan pelayanan yang bisa diberikan tenaga kesehatan di tengah penularan yang makin hari makin tinggi. Di media sosial Twitter misalnya, banyak pengguna yang mencari ketersediaan rumah sakit untuk pasien Covid-19.

Baca Juga: Pecah Rekor, Kasus Penularan COVID-19 Bertambah 20.574 Orang

Di tengah upaya pencarian ini, warganet lainnya membantu dengan membagi tautan laman Sinarap dari Kemenkes untuk mencari kamar kosong bagi pasien Covid maupun non-Covid. Namun sebagian lain melaporkan kalau kini informasi yang ada di laman itu pun tidak selalu valid. 

Salah satu pencuit yang ayahnya positif Covid-19 dan butuh penanganan bercerita kalau di aplikasi memang ada kamar yang statusnya tersedia, tetapi itu tak menjamin di lapangan kamarnya benar-benar masih ada. Ketika di telepon, nomor rumah sakit yang dituju pun tak aktif.

“Akhirnya saya inisiatif datang langsung bersama ayah saya yang positif dan ditolak karena penuh,” cuit si pengguna Twitter itu.

Profesor Bidang Kajian Timur Tengah, Ayang Utriza Yakin melalui Twitter juga membagikan pengalaman adiknya di Bekasi yang harus berjibaku dengan pasien lain untuk mendapatkan layanan kesehatan. Dalam video berdurasi 21 detik yang ia bagikan, nampak sebuah ruangan terbuka juga diisi oleh pasien yang menunggu.

Di antara mereka ada yang duduk di kursi roda dengan tiang infus di sebelahnya, hingga di kasur seadanya. Suara batuk juga sesekali terdengar dengan pemandangan tenaga kesehatan yang nampak kewalahan karena jumlah mereka tak sepadan dengan pasien yang mesti ditangani.

Sebaiknya Lockdown

Ketua Dewan Pertimbangan Pengurus Besar (PB) Ikatan Dokter Indonesia, Zubairi Djoerban tak memungkiri kalau saat ini keadaan sudah darurat. Rumah sakit sudah penuh dan mulai berlaku pemilihan pasien. Kondisi ini tentunya berdampak juga pada adanya sebagian pasien Covid-19 yang tidak tertangani.

“Sudah ada sejumlah contoh pasien Covid-19 meninggal di luar rumah sakit. Bahkan jenazahnya terlantar di depan rumahnya. Ini pertanda serius,” kata Zubairi.

Adapun langkah yang bisa dilakukan saat ini adalah melakukan lockdown untuk memperlampat penyebaran, meratakan kurva, menyelamatkan fasilitas kesehatan, dan menahan situasi pandemi yang ekstrem. Zubairi menyarankan paling tidak lockdown dilakukan selama dua pekan.

“Saran saya. Lebih bijaksana bagi Indonesia untuk terapkan lockdown selama dua minggu,” kata Zubairi, mengutip KBR.

Baca Juga: Seberapa Bahaya Mutasi Baru Covid-19 Delta Plus?

Zubairi menilai pemilahan pasien berdasarkan gejala dan penyakit penyerta juga perlu dilakukan untuk menjaga tingkat keterisian rumah sakit. Sehingga ketika pasien bergejala berat dirujuk, bisa segera tertangani.Selain itu, keselamatan tenaga kesahatan juga mesti diperhatikan.

“Jadi yang pertama jangan kecapekan, itu pun kalau bisa jangan sampai maksimal 40 jam seminggu itu,” kata dia.

Ketua Tim Mitigasi Pengurus Besar IDI Adib Khumaidi menyebut untuk pasien tanpa gejala atau dengan gejala ringan bisa melakukan isolasi mandiri.

Sementara kalau sudah membutuhkan oksigen maka pasien tersebut berada di gejala sedang hingga berat yang butuh perawatan intensif. Hal ini juga tampak pada fenomena beberapa hari terakhir, saat masyarakat mulai memborong tabung oksigen.

“Untuk pasien yang butuh oksigen kalau kemauannya itu dirawat di rumah ini tentu akan bisa berakibat fatal karena pemantauan oksigen tidak bisa diberikan secara sembarangan,” kata Adib.

Untuk pasien tanpa gejala hingga gejala ringan, pemantauan juga bisa dilakukan dengan memanfaatkan telemedicine. Dengan begitu tenaga kesehatan kita bisa memantau seluruh kondisi masyarakat yang sedang melakukan isolasi mandiri.

“Jadi ada telekonsultasi lah. Itu bisa kita dorong pemerintah pusat dan daerah untuk membuat dan meningkatkannya seperti itu. Dari sana, kemudian kalau ada warning alret kita bisa cek soal kapan dia harus ke rumah sakit,” ucap dia.

Telemedicine ini bisa melibatkan tenaga kesehatan yang tidak bekerja di fasilitas kesehatan rujukan sebagai pemantau. Menurutnya, pemantauan tenaga kesehatan bagi pasien yang isolasi mandiri cukup penting mengingat ada beberapa kasus isolasi mandiri yang baru ke rumah sakit ketika saturasi oksigen sudah 80 persen.

“Itu kan udah parah. Ini yang perlu dipahami juga oleh masyarakat,” ucap dia.

Sudah Lakukan Penambahan 

Untuk mengatasi padatnya ketersediaan rumah sakit, sejumlah upaya memang telah dilakukan. Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil misalnya, meminta Pemerintah Daerah untuk menyiapkan tempat isolasi non-rumah sakit seperti hotel dan kontrakan agar rumah sakit bisa diperuntukkan buat mereka yang bergejala berat dan kritis.

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan juga telah menambah kapasitas tempat tidur rawatan pasien konfirmasi positif Covid-19 seiring meningkatnya laju pertambahan kasus harian di Ibu Kota. Berdasarkan data Dinas Kesehatan DKI Jakarta per 17 Juni 2021, Rumah Sakit Rujukan Covid-19 kini berjumlah 140 rumah sakit dari semula 106 yang tersedia.

Dari 140 rumah sakit itu, Anies mengatakan, pihaknya telah menyiapkan 8.524 tempat tidur di ruang isolasi dan 1.186 tempat tidur di ruang ICU.Namun, penambahan ini tak lantas jadi solusi.

Melansir laman dinkes yang diakses Asumsi, Kamis (24/6/2021) pukul 17.00 WIB ketersediaan kamar yang tersisa semuanya sudah lebih dari 50 persen terutama untuk kamar ICU tekanan negatif dengan ventilator dan ICU tekanan negatif tanpa ventilator.

Sayangnya saat angka penularan terus mencetak rekor, mengutip Kontan Presiden Joko Widodo membeberkan alasan memgambil kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) mikro dalam penanganan pandemi virus corona (Covid-19) ketimbang lockdown.PPKM mikro telah diputuskan untuk kembali diperketat mengingat adanya lonjakan kasus positif Covid-19 akibat libur panjang Idul Fitri. Kebijakan tersebut diambil untuk dapat memastikan ekonomi masyarakat dapat tetap berjalan.

“Pemerintah melihat bahwa kebijakan PPKM mikro masih menjadi kebijakan yang paling tepat untuk konteks saat ini, untuk mengendalikan Covid-19 karena bisa berjalan tanpa mematikan ekonomi rakyat,” ujar Jokowi dalam keterangan resmi di Istana Bogor, Rabu (23/6/2021).

Jokowi mengungkapkan pilihan tersebut telah mempertimbangkan masukan dari berbagai pihak. Termasuk dengan mempelajari penerapan pembatasan di sejumlah negara.

Share: Jangan Tunggu Fasilitas Kesehatan Kolaps Baru Lockdown