featured

Foto: Gojek

Bisnis

18 Mei 2021

GoTo Jajaki Bursa Saham, Diyakini Menarik Minat Investor Muda

Ray

GoTo, grup perusahaan hasil merger antara Gojek dan Tokopedia, kabarnya mulai menjajaki peluang melantai di bursa saham. Kehadiran mereka di bursa dinilai bakal memberikan warna baru bagi pasar modal Indonesia. Seberapa besar peluangnya dilirik para investor?

GoTo Bidik Pasar Saham Publik

Vice President of Corporate Communications Tokopedia Nuraini Razak mengatakan, GoTo tengah mengejar peluang untuk menggelar pencatatan saham alias initial public offering (IPO).

"Kami baru saja menyelesaikan sebuah capaian penting dengan membentuk GoTo. Kami paham bahwa banyak yang tertarik dengan kabar tentang perusahaan kami dan pasar saham publik, dan kami akan berbagi informasi seiring dengan perkembangan mengenai hal ini," kata Nuraini dikutip dari Kontan. 

Baca juga: Rencana Merger Gojek dan Tokopedia, Pengamat: Awas Oligopoli | Asumsi

Ia meyakini, kombinasi bisnis antara Gojek dan Tokopedia mampu mempercepat rencana tersebut. Namun, dirinya belum dapat memastikan GoTo bakal melantai di bursa saham yang mana.

Fokus utama GoTo, lanjutnya, adalah mengintegrasikan kedua perusahaan rintisan ini untuk memberikan platform dengan pelayanan terbaik bagi para pelanggan dan mitra usaha di dalam ekosistemnya.

"Kami akan menghasilkan dampak yang lebih besar dan lebih signifikan. Kami sedang mengeksplorasi pilihan untuk listing di lebih dari satu lokasi," ucapnya.

Menurut rilis pers GoTo, pada tahun 2020 Total Gross Transaction Value (GTV) atau nilai transaksi bruto gabungan kedua perusahaan tersebut mencapai 22 miliar dollar AS dengan transaksi lebih dari 1,8 miliar dollar AS.

GoTo juga menyebutkan, dengan lebih dari 2 juta mitra pengemudi, 11 juta lebih mitra usaha (merchant) per Desember 2020, dan 100 juta lebih pengguna aktif bulanan (Monthly Active User/MAU), Gojek dan Tokopedia memberikan kontribusi sebesar 2 persen kepada total PDB Indonesia.

Diprediksi Masuk Bursa Tahun Ini?

Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Inarno Djajadi memprakirakan kehadiran perusahaan rintisan unicorn di lantai bursa dapat menambah jumlah investor dan transaksi, bahkan diyakininya mampu mendorong kinerja Indeks Harga Saham gabungan (IHSG). Menurutnya, banyak investor yang menunggu unicorn-unicorn untuk melantai di bursa.

 Baca juga: Tak Ada Bonus Harian, Driver Gojek Ogah Narik Bikin UMKM Kerepotan | Asumsi

"Ini juga memberikan optimisme. Banyak kalangan menyebut kehadiran unicorn itu dapat menambah jumlah investor secara drastis dan juga transaksi bursa," kata Inarno dikutip dari Katadata

Ia menyambut baik para unicorn untuk go-public. Khusus untuk unicorn, atau perusahaan yang bernilai US $1 miliar atau lebih, BEI memastikan bakal membantu menyesuaikan aturan karena karakteristiknya berbeda dengan saham-saham konvensional. 

"Kedua, kami sudah mengimplementasikan klasifikasi industri dalam bursa IDX-IC. Nah, IDX-IC ini lebih mencerminkan sektoral perusahaan tercatat di BEI. Jadi, kita bisa membandingkan apple-to-apple perusahaan tercatat tersebut di bursa global," terangnya.

Selain itu, BEI juga telah menggandeng konsultan hukum untuk mengkaji penerapan dual class of shares (DCS) untuk unicorn dengan skema multiple voting shares (MVS) di pasar modal Indonesia. 

"Struktur permodalan MVS cukup umum untuk unicorn yang akan go public. Kami sedang mengkaji dan mempersiapkan untuk itu. Mudah-mudahan tahun ini," tuturnya. 

Inarno seolah memberi sinyal bahwa GoTo merupakan perusahaan teknologi unicorn yang siap melantai di pasar modal Tanah Air pada tahun ini.

"Saya lihat di depan, yang besar-besar, ada tiga. Mungkin jadi dua karena dari informasi yang beredar, terdapat dua unicorn yang merger. Mudah-mudahan semua lancar dan bisa listing pada tahun ini," tandasnya.

CEO Tokopedia, William Tanuwijaya, mengatakan dalam wawancara televisi dengan CNBC Indonesia, Selasa (18/5), bahwa GoTo berencana untuk melantai di bursa saham pada tahun ini namun tidak memberikan indikasi mengenai dual listing di bursa dalam dan luar negeri yang santer dikabarkan beberapa waktu terakhir.

Pada wawancara yang sama, CEO Gojek, Kevin Aluwi, menambahkan, fokus jangka pendek GoTo adalah melakukan integrasi layanan antara Tokopedia dan Gojek untuk menghadirkan pengalaman pelanggan yang lebih baik dan program kesetiaan pelanggan yang terintegrasi dan menyeluruh.

Bakal Jadi Primadona Pasar Modal

Financial Planner dari Advisors Alliance Group Indonesia, Andy Nugroho menilai, GoTo bakal menjadi primadona bila berhasil melantai di bursa. Menurutnya, bakal banyak investor yang melirik untuk berinvestasi ke GoTo dalam jangka waktu panjang.

Baca juga: Gojek dan Tokopedia Merger, Ini yang Perlu Diketahui | Asumsi

"Selama ini kan, di pasar modal kita, perusahaan yang sudah ada kebanyakan aneka industri, pertambangan, dan banking. Nah, GoTo ini, mereka industri IT dan bisa dibilang keduanya pemain utama di pasar Indonesia. Dari sektor industrinya saja sudah menarik, berbeda dibandingkan yang lainnya. Pastinya bakal jadi pusat perhatian banyak investor kita yang kepingin punya saham industri digitalnya anak bangsa di portofolio mereka," kata Andy kepada Asumsi.co melalui sambungan telepon, Selasa (18/5/21).

Ia menambahkan, total GTV serta valuasi gabungan kedua perusahaan yang terus naik ini juga menjadi pertimbangan utama investor dalam melakukan investasi jangka panjang, membeli saham GoTo, bila nantinya berhasil melantai di bursa.

Lebih lanjut, dirinya juga meyakini GoTo bakal mengincar listing saham di negara lain. Namun, menurut Andy, GoTo harus bersaing lebih keras karena bicara pasar saham global, GoTo tidak sendiri sebagai pemain bisnis IT.

"Saya dengar GoTo enggak hanya akan listing di Indonesia. Mereka juga mengincar negara lain. Kalau di Indonesia, GoTo memang perusahaan yang berbeda sendiri. Kalau di luar negeri, seperti di Shanghai atau Hongkong, sudah ada perusahaan sejenis kayak Alibaba. Nah, GoTo harus bersaing lebih keras untuk bisa lebih dilirik investor," ujarnya.

Andy mengatakan, langkah yang bisa dilakukan GoTo untuk unggul di bursa saham negara lain bisa dilakukan dengan menunjukkan keunggulan Gojek sebagai perusahaan rintisan asal Indonesia yang sudah berhasil mengembangkan bisnisnya di negara lain, terutama unggul di Asia Tenggara.

"Gojek yang berhasil mengembangkan sayap ke Thailand dan Vietnam, yang notabene negara Asia Tenggara ini, bisa ditunjukkan mereka sebagai bentuk keseriusan bermain di pasar global. Ini bisa jadi keunggulan buat menarik minat investor negara lain, sekaligus mendongkrak Tokopedia," tandasnya.

Berpotensi Menarik Minat Investor Muda

Pakar Keuangan dari Tatadana Consulting, Tejasari Assad menambahkan, kehadiran GoTo di pasar modal juga diyakini bakal menarik minat investor muda. Terlebih tren anak muda yang bermain saham sejak pandemi Covid-19 tahun lalu terus meningkat.

"Peningkatan investor saham belakangan ini semakin banyak dari kalangan muda sejak pandemi April 2020. Kemudian pada September sampai Oktober tahun lalu naik terus. Ini jadi isu yang bagus banget buat investor dari kalangan muda, yang sudah familiar dengan Gojek dan Tokopedia untuk membeli sahamnya," katanya saat dihubungi terpisah.

Baca juga: Masuk List Unicorn Asal Indonesia, J&T Melesat Dengan Valuasi Setara Rp 113 Triliun | Asumsi

Soal ketertarikan investor asing, ia mengatakan, sebenarnya masing-masing perusahaan sudah memiliki investor dari negara lain. Namun, dengan merger keduanya, bisa jadi penarik minat investor asing yang belum melirik mereka.

"Investor asing bisa bertambah karena kolaborasi ini bakal memperkuat fokus bisnis mereka yang, lewat GoTo, bakal concern di satu bisnis utama, yaitu transaksi keuangan. Transaksi keuangan yang menjembatani Gojek dan Tokopedia ini kan yang akan di-handle GoTo. Ini memang memberikan opportunity yang bagus ke depannya," pungkasnya.

Nah, tertarik beli saham GoTo enggak nih guys, kalau sudah melantai di bursa?

Share: GoTo Jajaki Bursa Saham, Diyakini Menarik Minat Investor Muda