Final Dua Nama Cawagub DKI Pengganti Sandiaga, Bagaimana Rekam Jejak Keduanya?

Akhirnya Gerindra dan PKS telah membuat kesepakatan untuk menetapkan dua orang nama pengganti calon wakil gubernur (cawagub) DKI Jakarta pengganti Sandiaga Uno yang telah mengundurkan diri. Setelah sebelumnya kedua partai itu sempat tarik ulur dan membuat bangku cawagub kosong hingga berbulan-bulan lamanya. Adalah Agung Yulianto dan Ahmad Syaikhu yang namanya akan diserahkan kepada Gubernur Anies Baswedan pekan depan.

"Tuntas memang harus ada proses ini nanti akan disampaikan ke Gubernur DKI, insyaallah Senin. Lalu dari Gubernur ke DPRD, lalu DPRD setelah dapat surat dari Gubernur membuat tata tertib dan panitia pemilihan kemudian paripurna," kata Ketua DPD Gerindra DKI M Taufik menjelaskan sisa proses yang harus dilalui sebelum penetapan wakil gubernur yang baru.

Taufik optimistis proses penentuan wagub DKI di tingkat DPRD itu akan berjalan lancar. Dia yakin tidak akan ada yang mempersulit di DPRD. Apalagi, kata Taufik, dirinya sendiri merupakan wakil ketua DPRD.

Baca Juga: Selain Anies Baswedan di DKI, 3 Gubernur Daerah Ini Juga Pernah Tak Ada Wagub

"Insyaallah DPRD nggak akan mempersulit karena saya kan anggota DPRD, saya wakil ketua DPRD. Nggak akan ada mempersulit," ujarnya di Jakarta Pusat, Jumat, 22 Februari 2019.

Surat pengajuan cawagub itu sendiri telah ditandatangani oleh Taufik dan Ketua DPW PKS DKI Shahir Purnomo. Tak lupa pula ada penandatanganan dari Ketua Umum dan Sekjen dari Gerindra dan PKS. Taufik pun mengungkapkan bahwa kedua nama cawagub itu dipilih dari sejumlah pertimbangan. Salah satunya hasil uji kepatutan dan kelayakan (fit and proper test).

"Pertama, pertimbangannya kader dari PKS kami memang sudah serahkan ke PKS, kedua banyak yang ditanyakan saat fit and proper, dari track record, dari integritasnya, dari kemampuannya yang tanyakan itu orang independen," tambahnya.

Lalu, bagaiaman rekam jejak dari kedua calon wakil gubernur DKI Jakarta yang baru?

Ahmadh Syaikhu, Dari Legislatif Hingga Eksekutif

Ahmad Syaikhu mengawali kariernya di PNS sebagai auditor. Putra dari pasangan K.H Ma’soem bin Aboelkhair dan Nafi’ah binti Thohir ini dulunya bekerja di Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) perwakilan Provinsi Sumatera Selatan, Palembang dari tahun 1986 hingga 1989. Lalu, setelah itu ke BPKP Pusat pada Deputi Bidang Pengawasan Keuangan Daerah.

Pada tahun 2004, Ahmad dicalonkan oleh PKS sebagai anggota DPRD Bekasi. Tentu saja, terjunnya ia ke dunia politik membuat dirinya harus memilih antara tetap menjadi PNS atau seorang politikus. Ia pun memilih menanggalkan statusnya sebagai PNS, yang kemudian berhasil menjadi Anggota DPRD Bekasi tahun 2004-2009.

Sebelum berakhir tugasnya di DPRD Bekasi, suami dari Lilik Wakhidah ini mencalonkan diri sebagai calon Walikota Bekasi pada 2008, namun kalah oleh pasangan Mochtar Mohammad-Rahmat Effendi. Selang setahun kemudian, Ahmad Syaikhu terpilih kembali menjadi anggota DPRD Jawa Barat dan menjabat pada periode 2009-2013.

Baca Juga: Mau Sampai Kapan DKI Jakarta Tanpa Wagub?

Tak hanya mencari peruntungan di legislatif, Ahmad Syaikhu pun kemudian berusaha mendapatkan suara lebih intensif di Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Bekasi. Kali ini, ia maju sebagai calon wakil walikota Bekasi. Saat usianya 48 tahun, Ahmad terpilih sebagai wakil walikota Bekasi mendampingi walikota Rahmat Effendi. Mereka dilantik pada 10 Maret 2013 dan menjabat hingga 2018.

Belum habis masa jabatannya, pada tahun 2017, Ahmad maju sebagai calon wakil gubernur Jawa Barat mendampingi Mayjen Purnawirawan Sudrajat yang diusung Partai PKS dan Gerindra. Mereka pun bertarung dalam Pilkada 2018. Melawan tiga pasangan lainnya. Sayangnya, ia kalah karena hanya mendapatlan perolehan suara 6.317.465 suara atau 28,75 persen. Sementara lawannya, Ridwan Kamil-Uu Ruzhanul Ulum mendapatkan 7.226.254 atau 32,88 persen.

Agung Yulianto, Sang Pengusaha

Agung Yulianto saat ini sedang menjabat sebagai Sekretaris Umum DPW PKS DKI Jakarta. Namun sebetulnya ia lebih dikenal sebagai pengusaha sukses. Agung tercatat sebagai Direktur Utama PT Herba Penawar Alwahida Indonesia (HPAI), perusahaan bisnis jaringan halal di Indonesia yang fokus menyediakan produk-produk herbal sejak 2012.

Karir Agung berawal dari Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) hingga 1996. Kemudian ia keluar dan terlibat dalam pendirian Bank Muamalat Indonesia dan Asuransi Takaful. Namun bisnis yang utama ia geluti adalah Halal Network Internasional (HNI). Perusahaan yang didirikannyaITU yang kini sudah menjaring 1,7 juta anggota.

"Kemudian jadi direktur BUMN, tahun 2000-2003 malang melintang bikin perusahaan sendiri dan usaha sendiri. Sekarang alhamdulillah bisnis yang saya geluti adalah HNI," kata Agung.

Latar belakang Agung sebenarnya sama dengan Ahmad Syaikhu. Ia adalah lulusan Sekolah Tinggi Akuntansi Negara dan berpengalaman menjadi auditor di Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan. Bahkan Agung mengaku pernah sama-sama mengurusi masjid bersama Syaikhu.

"Dulu kalau STAN kan ikatan dinas, saya ditugaskan sama dengan beliau (Syaikhu) di BPKP pusat. Dulu saya sama ustaz Syaikhu sama-sama ngurusin Masjid Al- Amin di kantor tersebut. Jadi (sudah) bareng-bareng lah," kata Agung.

Menurut Agung, dia dan Syaiku sempat sama-sama menjalani ikatan dinas di Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) pusat setelahnya. Dengan rekam jejak tersebut, ia berharap bisa menjadi pejabat daerah yang mampu menjaga akuntabilitas.

"Diharapkan bisa menjaga akuntabilitas, transparansi dan Good Corporate Governance," ujar Agung.

Related Article