featured

Unsplash

Olahraga

22 Jul 2021

Badai In-Fa Ancam Tim Surfing Indonesia Lakoni Debut dan Raih Medali di Olimpiade Tokyo

Ami

Olimpiade Tokyo 2020 berlangsung sangat berbeda dari sebelumnya karena digelar di tengah pandemi COVID-19. Namun, bukan hanya itu saja yang menjadi tantangan bagi kontingen Indonesia ketika berlaga di ajang tersebut, melainkan adanya badai.

Cuaca ganggu peluang tim surfing Indonesia melakoni debut

Berdasarkan laporan, kawasan Jepang berpotensi dilanda oleh badai In-Fa. Kondisi cuaca itu mengancam peluang tim surfing Indonesia melakoni debutnya dan meraih medali dalam Olimpiade Tokyo 2020.

Badai In-Fa adalah siklon tropis aktif di Laut Filipina. Angin yang bergerak akibat badai itu bisa mencapai 150 km/ jam dan menyebabkan gelombang tinggi. Badai In-Fa diperkirakan akan menghantam kepulauan di selatan Jepang pada Selasa (26/7/2021).

Dalam cabang surfing, Indonesia diketahui mengirim Rio Waida sebagai atlet utama. Sedangkan I Ketut Agus Aditya Putra yang menjadi alternate atau cadangan berdasarkan keputusan Asosiasi Surfing Internasional (ISA) akan ditentukan pada 24 Juli.

Baca Juga: Olimpiade Tokyo 2020 Dikhawatirkan Jadi Klaster Global Covid-19 | Asumsi

Ketut masuk sebagai cadangan bersama sembilan surfer dari negara lainnya berdasarkan hasil ISA World Games 2021 di El Savador, 29 Mei-6 Juni. Ketut saat itu menempati urutan kesembilan dunia.

Ketua Harian Pengurus Besar Persatuan Selancar Ombak Indonesia (PB PSOI), Arya Subiakto mengatakan munculnya badai bisa membawa plus minus bagi surfing.

“Ombak di Jepang kurang bagus. Kalau ada badai, ombak jadi besar dan Rio siap dengan itu. Tapi jika terlalu besar, bisa buruk bagi keseluruhan penyelenggaraan,” ujar Arya.

Antisipasi penularan COVID-19

Di tengah besarnya tantangan menggelar event seakbar Olimpiade, pemerintah Jepang melakukan berbagai antisipasi, mulai dari penerapan karantina hingga sistem gelembung (bubble) bagi atlet.

“Angka COVID di Tokyo tercatat 70 kasus [per 21 Juli]. Namun jumlahnya lebih banyak di luar athlete village. Di athlete village sendiri ada 2-3 kasus dan langsung diantisipasi oleh panitia,” papar Okto.

“Karantina bagi atlet artinya atlet bebas pergi kemana saja selama masih di area bubble, seperti wisma atlet, hotel, atau lokasi latihan.”

Para atlet Indonesia yang masuk ke dalam negara klasifikasi I penyebaran COVID-19 oleh pemerintah Jepang juga terpaksa dipisahkan saat berada di ruang makan.

Chef de Mission (CDM) Indonesia, Roslan Roeslani langsung membantah adanya diskriminasi.

“Tidak ada sama sekali. Semua yang masuk di klasifikasi I hanya dipisahkan di empat hari pertama sejak kedatangan. Semua negara klasifikasi I. Setelah itu diperbolehkan berbaur. Panitia bekerja maksimal untuk memantau pergerakan,” ujar Roslan yang juga menjabat sebagai Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin).

Indonesia juga hanya diperbolehkan mengirim 10 perwakilannya saat parade atlet (defile) nanti, termasuk pembawa bendera lifter putri Nurul Akmal dan surfer Rio Waida.

Presiden National Olympic Committee (NOC) Indonesia, Raja Sapta Oktohari mengatakan seluruh kontingen Indonesia juga diwajibkan mengikuti protokol Kesehatan, termasuk memakai masker.

“Prokes bukan untuk keren-kerenan, ikut-ikutan orang lain. Di Indonesia, prokes untuk menjaga orang lain dan kita. Tapi di Olimpiade, prokes untuk menjaga diri sendiri, sehingga sampai di hari pertandingan mereka tetap sehat. Ini bisa dilakukan selama mereka disiplin,” tegas Okto.

Dengan absennya penonton, Indonesia juga berharap mengalirnya dukungan maksimal dari masyarakat di tanah air bagi atlet yang berjuang untuk Merah Putih.

Untuk itu, pihak Kedutaan Besar RI di Tokyo mengerahkan segala dukungan, termasuk menggelar lomba vlog sepanjang 15 detik untuk mendukung para atlet Indonesia.

"Saya menyerukan kepada seluruh warga Indonesia (WNI) di Jepang untuk mendoakan kesuksesan para atlet," ujar Duta Besar RI di Jepang, Heri Akhmadi.

Baca Juga: Ratusan Ribu Warga Jepang Tolak Olimpiade Tokyo 2020 | Asumsi

Olimpiade Tokyo dipastikan akan berlangsung tanpa adanya dukungan penonton di venue pertandingan juga disampaikan oleh Okto. Absennya penonton dimulai sejak upacara pembukaan (opening ceremony) yang akan berlangsung sekitar pukul 20.00 waktu setempat di Olympic Stadium, Tokyo, Jepang, 23 Juli 2021.

“Tidak hanya sejak opening, semua pertandingan juga tanpa penonton. Semua tiket yang telah dijual ke masyarakat dikembalikan, termasuk sponsor,” ujar Okto.

Okto bahkan membagikan kisah pribadinya yang dialami sejak tiba di Tokyo. Biasanya seorang presiden NOC sebuah negara difasilitasi dengan kendaraan operasional khusus selama Olimpiade untuk memantau kontingen. Lain halnya di Olimpiade Tokyo kali ini.

“Saya sebagai Presiden NOC tidak ada kendaraan operasional yang dedicated. Semuanya harus by appointment,” ujarnya.

Potensi medali

Selain Okto, ketegangan juga dirasakan kontingen sejak awal. Sehari sejak pembukaan, setidaknya ada dua cabang yang berpotensi merebut medali.

“Tanggal 24 sudah ada potensi medali di ganda campuran (panah). Nisa (Diananda Choirunisa) dan Riau Ega akan bertanding empat kali (sebelum final),” papar Okto.

Di hari yang sama, lifter putri Windi Cantika Aisah juga berpotensi meraih medali di kelas 49 kg. Sehari berikutnya, lifter senior Eko Yuli Irawan juga digadang-gadang menjadi sumber medali bagi kontingen Merah Putih.

Share: Badai In-Fa Ancam Tim Surfing Indonesia Lakoni Debut dan Raih Medali di Olimpiade Tokyo