Vaksin Covid-19

Djokovic Punya 80 Persen Saham Perusahaan Biotek Pengembang Obat Covid-19

Ray– Asumsi.co

featured image
AP via the Guardian

Petenis Serbia, Novak Djokovic dikenal sebagai salah satu atlet yang menolak untuk divaksin. Ternyata, dirinya memiliki 80 persen saham di salah satu perusahaan biotek pengembang obat COVID-19.

Dideportasi Australia: Seperti yang diketahui, sebelumnya Djokovic terpaksa dideportasi dari Australia akibat pembatasan visa saat hendak mengikuti ajang Australia Open.

Akibat pembatalan visanya, Djokovic sempat ditahan pihak imigrasi yang berujung gagal tampilnya petenis nomor 1 dunia itu di ajang grand slam pembuka 2022 tersebut.

Padahal Djokovic berambisi mempertahankan gelarnya yang sudah didapatkan selama tiga tahun beruntun.

Terancam tak ikut French Open: Setelah itu, Djokovic juga terancam tak bisa mengikuti ajang French Open 2022. Pasalnya, Kementerian Olahraga Prancis mewajibkan seluruh peserta yang hendak berlaga di French Open 2022 untuk divaksinasi COVID-19.

Pembelian saham: Belakangan, Djokovic disebut telah membeli 80 persen saham di QuantBioRes, perusahaan biotek asal Denmark pada tahun 2020. Perusahaan tersebut saat ini sedang mengembangkan obat khusus COVID-19, sehingga nantinya setiap orang tidak perlu lagi divaksinasi.

Kepala Eksekutif QuantBioRes, Ivan Loncarevic membenarkan kabar kepemilikan saham 80 persen atas Djokovic di perusahaan tersebut. Melalui pernyataan publiknya, Loncarevic juga memastikan kalau Djokovic bukanlah orang yang anti vaksin seperti yang diduga orang-orang lantaran hingga kini, memilih belum mau divaksinasi.

"QuantBioRes saat ini mengembangkan dan mengerjakan pengobatan COVID-19, bukan vaksin. Namun dia (Djokovic) tidak anti vaksin," ucapnya, dikutip dari the Guardian.

Siap uji coba: Loncarevic menerangkan, ada 11 peneliti utama yang terlibat dalam proses pengembangan obat COVID-19 ini. Mereka berasal dari Denmark, Australia, dan Slovenia. Ia lantas menekankan bahwa perusahaan tersebut 

Ia juga mengungkapkan, perusahaan tersebut sedang mengembangkan peptida yakni obat untuk menghambat virus COVID-19 yang menginfeksi sel manusia. "Kami harap bisa melakukan uji coba klinis di Inggris pada musim panas tahun 2022 ini," ucapnya.

Alasan Djokovic tolak vaksin: Pada April 2020, Novak Djokovic diketahui sempat menolak untuk divaksin dan menentang pemaksaan vaksinasi. Dia sendiri mengaku tidak menolak semua vaksin, melainkan menolak pemaksaan untuk disuntik vaksin jenis tertentu.

Dirinya mengaku akan memilih vaksin yang tidak memberikan banyak efek samping. Namun pada Oktober 2021, Djokovic mengaku menolak untuk mengungkap status vaksinasi, lantaran dianggap sebagai persoalan pribadi.

Saat tersangkut kasus visa awal tahun ini, terungkap Djokovic memang belum divaksinasi. Dirinya juga sempat positif Covid-19 pada Juni 2020. (zal)

Baca Juga:

Gelandang Bayern Joshua Kimmich Menyesal Pernah Tolak Vaksin COVID-19

COVID-19: Tak Semua Penganut Antivaksin Bertobat

Bila Sudah Terdaftar, Masyarakat Diimbau Segera Vaksinasi Booster

Share: Djokovic Punya 80 Persen Saham Perusahaan Biotek Pengembang Obat Covid-19