Kesehatan

COVID-19 Berpotensi Picu Risiko Diabetes Pada Anak dan Remaja

Ray– Asumsi.co

featured image
ilustrasi/drwf

Studi terkini yang dirilis oleh Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) mengemukakan anak dan remaja yang baru sembuh dari infeksi COVID-19 berisiko mengalami komplikasi penyakit diabetes.

Risiko 30 persen: Seperti diberitakan New York Times, riset yang dipublikasikan pada Jumat (7/1/2022) ini melengkapi penelitian sebelumnya yang menunjukkan orang dewasa yang pernah terpapar virus Corona berisiko tinggi terkena penyakit diabetes ke depannya.

Peneliti utama CDC, Sharon Saydah belum dapat memastikan diabetes yang muncul pada anak dan remaja di bawah usia 18 tahun setelah terinfeksi COVID-19 ini, bakal menetap dan memicu penyakit kronis atau hanya bersifat sementara, serta bisa disembuhkan.

"Dari hasil penelitian, memang sekitar 30 persen anak ini berisiko tinggi terhadap hal ini (terkena diabetes)," ucapnya.

Kenali gejala: Saydah mengungkapkan, temuan ini menegaskan pentingnya memvaksinasi semua anak yang memenuhi syarat untuk disuntikkan, Peningkatan pencegahan penularannya terhadap anak juga penting untuk dilakukan.

Ia menambahkan, penting juga bagi dokter anak dan orang tua untuk menyadari tanda-tanda sekaligus gejala diabetes pada anak yang pernah terpapar virus Corona.

"Peningkatan rasa haus, sering buang air kecil, penurunan berat badan yang tidak disengaja dan kelelahan adalah beberapa gejalanya. Dengan mengetahui gejala ini, mereka bisa mendiagnosis anak-anak mereka," katanya.

Pola hidup: Lebih lanjut, Saydah menambahkan pola hidup pada anak yang lebih banyak diam dan tak beraktivitas hingga menyebabkan kenaikan berat badan menjadi faktor lain yang bisa meningkatkan risiko pada mereka.

"Maka penting bagi pakar klinis, dokter anak, dan orang tua untuk mengenali gejala atau menghindari anak mereka dari hal-hal yang bisa menambah risiko diabetes ini," ucapnya.

Perlindungan vaksin: Pada studi CDC yang sama, ia menyebutkan kalau dua dosis vaksin Pfizer-BioNTech vaccine bisa lebih efektif melindungi remaja usia 12 sampai 18 tahun dari penularan COVID-19.

Namun saat riset dilakukan pada periode Juli sampai Desember 2021, kala itu varian yang dominan menyebar adalah Delta.

Kehadiran varian Omicron saat ini, menurutnya tentu bisa saja merubah efikasi vaksin dan kemampuan perlindungan jenis vaksin tersebut. (zal)


Baca Juga:

Studi: Vaksin COVID-19 Bisa Picu Perubahan Siklus Datang Bulan

Vegan dan Vegetarian, Apa Sih Bedanya?

Rekomendasi IDAI untuk Sekolah yang Mau Memberlakukan Pembelajaran Tatap Muka

Share: COVID-19 Berpotensi Picu Risiko Diabetes Pada Anak dan Remaja