Covid-19

Mungkinkah Omicron Jadi Varian Terakhir Mutasi COVID-19?

OlehRay

featured image
Reuters

Varian Omicron belakangan semakin menjadi kekhawatiran global karena penularannya yang kian masif. Di sisi lain, kemunculan varian ini memicu harapan publik bakal menjadi varian terakhir sebelum COVID-19 menjadi endemi.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) hingga Co-Founder Microsoft, Bill Gates pun telah menyampaikan peringatan dan prediksi terbarunya soal ancaman terbaru Omicron dan kemungkinannya menjadi teror pandemi di seluruh dunia.

Khawatir Faskes Kewalahan

Dalam pernyataan terkini, WHO mengatakan sejak Omicron ditetapkan sebagai variant of concern pada 26 November 2021, dua hari setelah varian tersebut terdeteksi di Afrika Selatan (Afsel) saat ini penyebarannya memang semakin meluas ke berbagai negara dengan tingkat kekebalan komunal yang tinggi.

Varian virus ini bahkan sudah masuk ke Indonesia pada 16 Desember lalu. Pasien Omicron pertama terkonfirmasi pada Kamis (16/12/2021) berinisial N, seorang pekerja pembersih di Wisma Atlet Kemayoran.

Kemenkes RI kembali mendeteksi dua pasien terkonfirmasi varian Omicron di Tanah Air. Sehingga total kasus menjadi tiga orang hingga 17 Desember 2021.

"Varian Omicron telah teridentifikasi di 89 negara. Saat ini, kami memahami varian ini diperkirakan akan terus berlanjut tingkat penyebarannya," tulis keterangan resmi WHO dikutip dari situs resminya.

Hingga saat ini WHO mengakui masih banyak hal yang perlu didalami mengenai varian Omicron, termasuk tingkat keparahan penyakit yang ditimbulkannya.

"Data keparahan klinis Omicron masih terbatas. Masih memerlukan lebih banyak data untuk memahami profil tingkat keparahan yang dipengaruhi oleh vaksinasi dan kekebalan yang sudah ada sebelumnya", lanjut WHO.

WHO justru mengkhawatirkan, dengan tingkat penularannya yang cepat bisa membuat fasilitas kesehatan dan rumah sakit kewalahan. Belakangan, rawat inap di Inggris dan Afrika Selatan terus mengalami peningkatan pasien.

Lebih lanjut, WHO mengharapkan agar publik jangan mudah menaruh harapan besar kalau Omicron bakal menjadi varian terakhir dari COVID. Sebab, kesiagaan terhadap penularan virus ini perlu terus dilakukan. 

"Semua negara perlu meningkatkan kapasitas-kapasitas kesehatan masyarakat dan medis tertentu untuk menangani peningkatan jumlah kasus. WHO menyediakan dukungan dan panduan kesiapsiagaan dan respons kepada seluruh negara," ucapnya.

Akhir Penyebaran Omicron

Sementara itu, Bill Gates menyampaikan prediksinya soal berapa lama varian Omicron bakal menjadi ancaman lanjutan dari pandemi COVID-19 di seluruh dunia.

Bos Microsoft ini menyebutkan, varian ini memerlukan perhatian khusus karena masih banyak hal yang belum diketahui publik dari Omicron.

"Hal yang tidak banyak diketahui adalah seberapa parah Omicron membuat Anda sakit. Kita perlu menganggapnya serius sampai bisa tahu lebih banyak tentangnya," ujarnya dalam cuitan akun Twitter pribadinya.

Bahkan, belakangan ini ia mengatakan semakin banyak kerabatnya yang tertular varian Omicron. Hal tersebut menjadi pertimbangan Gates yang memutuskan untuk membatalkan sebagian besar rencana liburan akhir tahun pribadinya.

"Hal ini (penyebaran Omicron) akan menjadi lonjakan terburuk yang pernah kita lihat sejauh ini karena sangat menular," ucapnya.

Adapun masa gelombang varian Omicron, menurut Gates kemungkinan akan berlangsung selama tiga bulan. Namun bukan berarti tidak ada kekhawatiran munculnya mutasi varian baru dari virus Corona.

Oleh sebab itu, dirinya mengimbau seluruh masyarakat dunia untuk senantiasa meningkatkan kewaspadaan dengan selalu disiplin protokol kesehatan serta melakukan vaksinasi.

Gates optimistis pandemi COVID-19 benar-benar bisa berakhir pada akhir tahun depan. "Omicron bergerak begitu cepat dan bisa berlangsung kurang dari tiga bulan. Saya meyakini jika kita mengambil langkah yang tepat, pandemi bisa berakhir pada 2022," ucapnya.

Bukan Mutasi Terakhir

Epidemiologi Universitas Airlangga Windu Purnomo menyebut kemungkinan besar Omicron memang bukanlah varian terakhir dari virus Corona. Sebab, virus sangat berpeluang besar untuk bermutasi hingga sampai pada titik jenuhnya.

"Namanya virus ya, sangat besar kemungkinan masih bisa bermutasi sampai pada akhir kejenuhannya. Selama ini yang kita tahu virus bisa bermutasi karena COVID-19 memang saat ini sedang menjadi perhatian dunia. Padahal banyak virus di sekitar kita kayak flu biasa misalnya, itu sebenarnya juga bermutasi tapi kita tidak pernah mengeksposnya," jelas Windu kepada Asumsi.co melalui sambungan telepon, Kamis (23/12/2021).

Lebih lanjut, menurutnya saat terjadi pandemi flu Spanyol yang terjadi pada tahun 1918 hingga menewaskan 50 juta pengidapnya dari seluruh dunia, virus yang menyebar juga mengalami mutasi.

Akan tetapi, Windu menyebutkan disebabkan oleh belum majunya teknologi medis kala itu menyebabkan perkembangan mutasi virusnya belum bisa terpantau.

"Waktu itu, flu Spanyol kan juga masuk ke Indonesia dengan tingkat penularan tinggi. Belum bisa diketahui perkembanhan mutasinya  karena teknologi genomic sequencing ini kan, baru ditemukan dan dikembangkan di tahun 1970-an," tuturnya.

Ia mengatakan pandemi COVID-19 sebetulnya bisa berakhir dengan sendirinya dan menjadi endemi global. Namun yang bisa mempercepatnya tak lain adalah keterlibatan masyarakat secara aktif dalam mencegah penularannya.

"Tentu yang bisa segera mengakhiri pandemi ini tak lain adalah kedisiplinan masyarakat melakukan pencegahan. Tidak bandel untuk keluar saat tifak perlu dan yang penting segera divaksin. Tingginya risiko penularannya kan yang paling banyak karena belum divaksin," tandasnya.

Vaksinasi Anak

Sementara itu, epidemiolog Universitas Griffith Australia Dicky Budiman menimpali sebetulnya saat masuknya varian Omicron, Indonesia sebetulnya belum selesai dari penularan varian Delta.

Hal ini menunjukkan, betapa cepatnya virus bermutasi dengan penyebarannya yang tak terduga, "Varian Delta sebetulnya belum selesai kan, di Indonesia dan sekarang sudah masuk Omicron. Artinya, memang virus itu masih bisa terus terjadi mutasi dan kita mesti terus waspada," ucapnya saat dihubungi terpisah.

Ia menambahkan, kondisi penduduk Indonesia yang saat ini 30 sampai 40 persen belum memiliki imunitas memang perlu dikhawatirkan bisa membuat varian-varian virus Corona cepat masuk ke Indonesia.

"Penyebab belum memiliki imunitas ini, entah karena mereka belum divaksinasi atau karena belum terinfeksi. Nah, di antara yang belum memiliki imunitas ini adalah anak-anak di bawah 6 tahun hingga 11 tahun," ucapnya.

Menurutnya, sebagai langkah percepatan mengakhiri pandemi COVID-19 di Indonesia karena kemunculan varian-varian virus baru adalah mempercepat vaksinasi pada anak-anak.

"Kelompok yang rawan terpapar Omicron ini memang anak-anak yang sekarang sudah mulai beraktivitas di luar rumah, seperti mulai PTM (pembelajaran tatap muka) di sekolah. Bukan cuma sekadar peningkatan vaksinasi dewasa atau booster sudah perlu atau belum, anak-anak juga harus segera divaksinasi sebanyak-banyaknya sebagai upaya percepatan mengakhiri pandemi," tandasnya.


Baca Juga:

Benarkah Vaksin Booster Bisa Efektif Lawan Omicron?

Indonesia Dapat Tambahan Kasus Omicron dari Malaysia dan Kongo

Strategi Pencegahan Omicron dan Masih Perlunya WFH

Share: Mungkinkah Omicron Jadi Varian Terakhir Mutasi COVID-19?