Kesehatan

Mengenal Resiko Penyakit Jantung Seperti yang Dialami Haji Lulung

OlehTesa

featured image
Giulia Bertelli/Unsplash

Ketua DPW Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Abraham Lunggana meninggal dunia, Selasa (14/12/2021). Pria yang karib disapa Haji Lulung itu meninggal dunia dikabarkan karena serangan jantung.

Selain Lulung, Walikota Bandung Oded M Danial alias Kang Oded juga meninggal dunia akibat serangan jantung. Kang Oded meninggal saat sedang salat Jumat di Masjid Mujahidin, Jalan Sancang, Bandung pada Jumat (10/12/21).

Serangan jantung yang diderita kedua tokoh tersebut mengingatkan kembali bahwa penyakit jantung tak bisa diremehkan. Apalagi penyakit ini termasuk sebagai kategori mematikan. 

Berdasarkan data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), lebih dari 17,8 juta orang di dunia meninggal akibat penyakit jantung dan pembuluh darah. Sedangkan, data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada 2018, menyebut 15 dari 1.000 orang atau 4,2 juta orang menderita penyakit kardiovaskular, 2.784.064 diantaranya mengidap penyakit jantung.

Bahkan, Institute for Health Metrics dan Evaluation (IHME) mengungkap kematian di Indonesia disebabkan karena mengidap penyakit jantung koroner sebesar 14,4 persen. Lebih parahnya, sebelum masa pandemi terdapat 8 persen orang yang dirawat akibat serangan jantung, sementara setelah pandemi meningkat 22 hingga 23 persen.

Karena itu, rasanya untuk mengenali resiko penyakit jantung dan mengetahui ciri atau gejala awal penyakit ini.

Gejala Awal

Melansir Antara, Kepala Departemen Jantung dan Pembuluh Darah Rumah Sakit Siloam Lippo Village Antonia Anna Lukito menyebut sejumlah gejala awal penyakit jantung bisa dideteksi sendiri. Sehingga dia menyarankan agar siapapun untuk tak abai terhadap gejala awal ini.

Gejala yang biasa timbul, yakni cepat lelah dan napas pendek. Terkadang, mereka yang mengidap gagal jantung menganggap rasa lelah atau napas pendek hanya hal biasa karena faktor usia atau jarang olahraga.

Kemudian pelupa. Bagi banyak orang pelupa kerap diasosiasikan dengan kepikunan akibat faktor umur. Padahal sering lupa menjadi tanda awal penyakit ini.

Lalu timbul tonjolan pembuluh darah di leher. Banyak orang juga tak menyadari jika di bagian leher mereka terdapat pembuluh darah yang menonjol.

Hal paling sering terjadi adalah nyeri dada. Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah Bambang Budiono menjelaskan nyeri dada dapat menjadi salah satu gejala dari penyakit jantung koroner (PJK). 

Bahkan, angina pektoris memiliki karakteristik yang khas terkait nyeri dada akibat penyakit jantung. Sehingga, tanda tersebut dapat dibedakan dengan nyeri dada biasa.

Harapan Hidup Lebih Kecil

Melansir Antara, Dokter penyakit jantung dari Rumah Sakit Siloam Kebon Jeruk Leonardo Paskah Suciadi mengatakan harapan hidup pasien gagal jantung berpotensi lebih kecil dibanding penderita kanker. 

Menurutnya, hanya jenis kanker seperti kanker paru-paru, indung telur atau ovarium, dan pankreas yang terbukti angka kematiannya lebih tinggi dibanding gagal jantung. 

Leonardo menyebut sekitar dua persen penduduk usia di bawah 60 tahun berpotensi mengalami gagal jantung dengan berbagai penyebabnya. Sementara, penduduk yang berusia di atas 70 tahun tercatat meningkat di atas 10 persen. 

Data tersebut kembali diperkuat dengan penelitian yang dilakukan oleh RS Siloam Kebon Jeruk yang mencatat, sepertiga pasien gagal jantung berusia di atas 75 tahun sejak 2020. 

Potensi Penyakit Jantung di Kalangan Muda

Tak hanya orang paruh baya atau lanjut usia, ternyata penyakit jantung juga dapat mengancam kelompok usia muda dengan kualitas kesehatan yang rendah. 

Dikutip dari Antara, Pakar Jantung Ika Faizura menyebut kelompok usia muda antara 40 hingga 60 tahun juga rentan mengalami penyakit jantung hampir sebanyak 50 persen. Bahkan, di Malaysia usia 59 tahun sudah terkena penyakit ini, kemudian diikuti Amerika, Eropa, Australia, dan Selandia baru usia 66 tahun, Kanada 68 tahun, Thailand 65 tahun, dan China 63 tahun. 

Tidak hanya di Indonesia, penyakit jantung ternyata menjadi penyebab utama kematian di rumah sakit yang ada di Malaysia. Faktanya, jumlah kematian akibat penyakit ini mendekati 25 persen dari keseluruhan. 

Pola Makan Sehat

Meski demikian, bukan berarti penyakit jantung tak bisa dicegah. Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah Fachmi Ahmad menyarankan beberapa pola makan yang sehat untuk mengurangi risiko penyakit jantung. 

Menurutnya, pada pagi hari upayakan untuk sarapan di antara pukul 06.00 hingga 09.00 WIB. Sarapan yang dikonsumsi dapat berupa makanan kaya protein, seperti telur. Sementara, karbohidrat dapat berupa oatmeal dan roti gandung utuh. 

Lebih lanjut, beberapa jam setelah sarapan, santaplah kudapan pukul 10.00 WIB yang mengandung serat dan protein tinggi, seperti buah, biskuit gandum, dan keju. Saat makan siang, upayakan untuk mengonsumsi karbohidrat komplek seperti nasi dan seimbangkan dengan protein serat, vitamin, dan mineral lain. 

Kemudian diselingi dengan cemilan yang serupa seperti pukul 10.00, di pukul 15.00 WIB atau bisa dibedakan agar tidak bosan. Lanjut makan malam sebelum pukul 18.00 WIB, dengan mengonsumsi makanan tinggi serat dan rendah kolesterol seperti menu makan siang. 

Fachmi juga menambahkan makanan minuman yang dapat membantu menjaga kesehatan jantung, yakni yang mengandung asam lemak omega-3 dan omega-6, serat, antioksidan, potasium, dan fitosterol. Diketahui, zat tersebut dapat menurunkan kadar kolesterol dan menjaga elastisitas pembuluh darah, menurunkan tekanan darah, dan mencegah penumpukan plak yang menyumbat pembuluh darah. 

Baiknya, makan malam dilakukan tiga jam sebelum tidur agar dapat dicerna dengan baik. Namun, perlu hati-hati jangan mengkonsumsi makanan dan minuman yang berbahaya dan menimbulkan penyakit jantung, seperti yang mengandung gula, garam, lemak, dan karbohidrat olahan.

Baca Juga:

Share: Mengenal Resiko Penyakit Jantung Seperti yang Dialami Haji Lulung