Isu Terkini

Haji Lulung, Si “Preman Pensiun” Tanah Abang

OlehRamadhan

featured image

Sejarah panjang Tanah Abang tak hanya sekadar cerita pasar besar tempat berjualan kambing. Bukan pula soal perubahannya menjadi bangunan modern dengan gedung-gedung megah. Mereka yang tinggal di dalamnya pun bertumbuh seiring waktu karena ada perihal kampung halaman yang dijaga, meski harus jatuh bangun.

Meski dulunya kawasan yang rimbun dan asri, kenyataan Tanah Abang hari ini adalah sebagai pasar pusat grosir tekstil dan rumah-rumah yang padat. Perubahan terjadi, Tanah Abang berlari mengejar kemajuan.

Modernisasi memicu pergeseran yang pahit bagi mereka yang dulunya menguasai Tanah Abang. Tertinggal kemajuan zaman, satu per satu leluhur menjual tanah. Namun, cerita soal kemuraman di masa lalu itu tak sepenuhnya berlanjut hingga kini.

Di Asumsi Distrik episode terbaru, kami berjumpa dengan salah satu orang paling berpengaruh di Tanah Abang, seorang politikus lokal bernama Abraham Lunggana alias Haji Lulung. Ia adalah pencetus "investasi lingkungan" yang agenda-agendanya begitu dekat dan berpengaruh bagi warga Tanah Abang. Pengaruh Haji Lulung begitu besar  di kawasan ini. Siapa Haji Lulung sebenarnya? Simak bocoran wawancara host kami, Dea Anugrah, bersama Haji Lulung.

Boleh, nggak, saya diceritain gimana dulu riwayatnya Pak Haji?
Saya denger-denger kan dulu bukan anak konglomerat, tapi di Tanah Abang sempat jadi pengusaha barang bekas.

Sebenernya, sih, saya tumbuh berkembangnya itu dari keluarga nggak punya, ya. Ayah saya tuh namanya Abdurrahim, dipanggil Ibrahim. Dia seorang tentara. Veteran, pejuang '45. Meninggal dunia sejak saya kelas 3 SMP. Itu tahun 1975.

Kemudian, dari meninggalnya orang tua saya, kebetulan saya, maksudnya tinggal ya, di lingkungan pasar. Rumah saya dengan pasar itu cuma 50 meter, lah. Artinya, tempat saya bermain, interaksi saat masa kecil, di situ. Nguber layangan, dan seterusnya. Karena orang tua meninggal, langsung berubah.

Saya, keluarga saya, saudara saya 11. Kebetulan, saya anak ke-7. Di situ, saya mencoba. Saya ingin membantu orang tua. Dari bekerja, saya kan bingung, bekerja apa. Tapi, sehari-hari saya liat.

Ada pekerjaan yang selama ini nggak terserap sama saya. Apa tuh? Ya, ngumpulin barang bekas. Itu bekas-bekas dari kulian. Artinya, bal-balan tekstil, di Tanah Abang, yang setiap hari jam 2 malam itu datang. Subuh itu, setelah habis subuh, itu dibuka.

Kulian itu berupa bahan yang tutupannya adalah karung bekas. Ada kardus, ada per dulu. Saya mencoba di sana. Oh, rupanya waktu saya belajar mencari nafkah, tentang barang-barang bekas itu, di situ ada kelompok juga rupanya. Kelompok-kelompok pemulung. Jadi saya disuruh pergi, karena mereka kan nggak tau siapa saya, kan. Saya memang anak kampung situ. Masih kecil lagi.

Tapi, kemudian, satu minggu, saya berpikir. Oh, ini kan setiap hari saya lalu-lalang situ. Jadi, orang-orang yang ngambil barang di situ adalah ngejualnya di tempat yang saya tau, yaitu di samping Klenteng Tanah Abang. Saya ngomong di situ, Pak, saya boleh kerja nggak? Akhirnya saya diterima kerja.

Saya mulai terbiasa bekerja di situ. Banyak interaksi kepada masyarakat lingkungan situ, artinya lingkungan pasar. Sampe kadang-kadang saya sampe jam 8, orang baru dateng. Nah, beradaptasi di situ, kemudian saya teruslah. Jualnya juga di tempat itu. Di situ, saya megangnya minyak tanah sama sikat kawat. Ngebersihin semua, barang-barang bekas.

Lama-lama, saya niat mengembangkan diri. Kalo pagi itu, saya liat ada orang. Bawa barang, bersepeda. Terus taro barangnya. Dia abis keliling, tuh. Cari barang, keliling, terus jual di situ.

Dia jualan apa tuh, Pak Haji?

Loakan gitu. Barang bekas, seperti setrikaan bekas, kipas angin bekas. Sampe stik golf juga dulu saya pernah beli, jual beli. Saya belajar di situ, akhirnya saya ngumpulin uang. Pengen beli sepeda, pengen seperti yang lain. Keliling, cari barang di rumah-rumah orang. Dari Citarum sampe Sumenep. Saya bisa dapet barang-barang itu, akhirnya, kalo saya dapet barang, abis keliling, saya jual. Pulang saya dapet duit, terus tidur.

Selang waktu, terus mulai berkembang. Karena tadi adaptasinya banyak orang mulai kenal saya di situ, mulai saya merubah. Singkat kata, saya mulai buat koperasi pada waktu itu. Karena, saya sering baca buku. Soal investasi modal dan segala macem. Saya pikir, kalau investasi butuh modal, saya mana duitnya? Ah, saya bilang, saya mesti punya konsep, namanya investasi lingkungan.

Saya mencoba mensinergikan antara sentra ekonomi pasar dengan lingkungan. Kenapa begitu? Karena saya yakin saya adalah bagian dari lingkungan, saya adalah sumber daya masyarakat yang punya potensi, bisa ikut serta berpartisipasi di situ. Akhirnya coba saya kumpulin anak-anak. Yang sama, komunitasnya sama saya. Anak yatim. Jadi berangkat dari anak yatim, itu 15 orang, saya gerilya di situ.

Akhirnya, saya mengkoordinir itu. Nah, lama-lama, ada repelitasi bangunan Tanah Abang. Jadilah Pasar Tanah Abang. Kemudian berkembang, saya bikin perusahaan.

Dari program investasi lingkungan, saya mencoba lagi. Kalo dulu tuh, 1998, ada reformasi, saya udah ngomong, tuh. Transformasi paradigma dulu. Udah, saya mulai itu. Mengembalikan Tanah Abang sebagai daerah di samping sentra primer, juga daerah agamais. Saya mencoba menggagas, bagaimana kita mulai mewujudkan, memelihara soal kerukunan umat beragama?

Terus kemudian berkembanglah, saya bikin banyak, beberapa perusahaan. Sampe klimaksnya, saya punya 7.000 karyawan.

Bidangnya apa sih, Pak Lulung?

Jasa keamanan sekuriti, parkir, dan kebersihan. Karena, orang dulu nggak melihat kalau kebersihan itu sebenernya tambang emas. Tanah Abang kan merupakan banyak sampah. Dari kecil, saya beradaptasi dengan lingkungan sampah. Jadi, banyaklah, ya. Artinya, dari pembangunan pertokoan yang ada sekarang, kita mendapatkan luar biasa.

Mau tahu lebih lanjut kisah Haji Lulung dan warga-warga lain di Tanah Abang? Pantengin Asumsi Distrik hari ini, Selasa (26/1/21) jam 1 siang, ya!

Share: Haji Lulung, Si “Preman Pensiun” Tanah Abang