Kesehatan

Mengenal Fenomena Emotional Eating dan Cara Mengatasinya

OlehTesa

featured image
null

Pernah merasa sedih dan marah kemudian mencari makanan enak untuk melampiaskan perasaan itu? Terkadang keinginan makan yang paling kuat menyerang saat Anda berada di titik terlemah secara emosional.

Faktanya, makan ketika emosi atau emotional eating dapat menyebabkan kenaikan berat badan berlebih. Emotional eating biasanya disebabkan karena stres kerja, kekhawatiran finansial, masalah kesehatan, hingga masalah hubungan.

Lalu mengapa pelampiasannya dengan makan? Emosi negatif dapat menyebabkan perasaan hampa atau kekosongan emosional. Makanan diyakini sebagai cara untuk mengisi kekosongan itu dan menciptakan perasaan palsu sementara.

Faktor Penyebab Emotional Eating

Melansir Healthline, faktor terbentuknya kebiasaan ini biasanya merasa tidak ada dukungan sosial saat stres, tidak melakukan aktivitas positif, tidak paham dengan perbedaan ketika butuh makan karena fisik dan emosi, dan lain-lain.

Beberapa orang memiliki kebiasaan makan dalam kapasitas yang sedikit, namun ketika sedang mengalami emosi yang berlebih kapasitas makannya akan bertambah. Terutama, mereka tidak peduli lagi asal dapat meredam emosi.

Faktanya, emosi bisa menjadi sangat terikat dengan kebiasaan emotional eating. Dengan demikian, secara otomatis dapat menjadi kebiasaan buruk. Namun, efeknya hanya sementara, bahkan usai makan berlebih emosi dan beban yang dirasakan malah bertumpuk.

Hal ini disebabkan karena kenaikan berat badan. Melansir Klikdokter, jenis makanan yang dikonsumsi dominan mengandung tinggi gula dan lemak.

Cara Menanganinya

Melansir Harvard Health, Anda mungkin dapat menghentikan emotional eating dengan mencari tahu mengapa perlu membutuhkan makanan yang menenangkan. Apakah itu menenangkan, menghibur, memberi kompensasi untuk hari yang sulit, atau seluruhnya.

Mengenali pola pikir ini dapat mempermudah diri untuk menolak perasaan mengalah. Hal ini juga membantu untuk menyadari bahwa makan secara emosional tidak menyelesaikan masalah yang membuat diri kesal atau stres.

Cara lain untuk mengontrol makan emosional adalah dengan mencari tahu apa pemicunya. Buat buku harian makanan yang mencatat tidak hanya apa dan berapa banyak yang dimakan, tetapi juga bagaimana perasaan diri saat itu.

Setelah mengenali sebuah pola tersebut, kembangkan strategi untuk memecahkannya. Misalnya, jika sering makan karena merasa pantas mendapatkannya setelah menjalani hari yang berat, ingatlah bahwa diri sendiri berhak menurunkan berat badan dan merasa sehat. Jika makan karena stres, belajarlah untuk mengatasi stres itu. Yoga, meditasi, dan olahraga teratur dapat membantu mengurangi tingkat stres

Alihkan Kebiasaan

Pengalihan terbaik dari makan emosional adalah hal-hal yang hanya membutuhkan waktu sekitar lima menit, cukup lama untuk membantu diri beralih ke pola hidup yang sehat. Pola ini dapat dilakukan dengan jalan kami lima menit, duduk di luar, menyalakan musik atau menari, dan menelpon teman dekat untuk mengobrol.

Semakin banyak cara yang dapat dipikirkan untuk mengalihkan perhatian, seiring waktu akan semakin mudah untuk menghentikan emotional eating. Sebaliknya, jika menolak maka akan menjadi kebiasaan buruk bagi diri sendiri.

Namun, apabila tidak berhasil mencoba menghentikan kebiasaan itu sendiri, pertimbangkan untuk beralih ke terapis untuk terapis perilaku kognitif (CBT). Terapis ini dapat mendorong diri untuk menemukan dan mengungkap cara berpikir negatif dan tidak produktif untuk mengganti pola pikir ini dengan pola pikir yang lebih bermanfaat.

Lebih lanjut, lain kali ketika menghadapi situasi yang membuat stres, dapat berkata kepada diri sendiri, "Saya benar-benar kesal, tetapi jika saya makan untuk menenangkan diri, saya juga akan merasa sedih dengan berat badan saya. Sebaliknya, saya akan jalan-jalan. jadi saya bisa tenang dan merasa lebih baik.".

Bahkan, mungkin diperlukan kombinasi pendekatan untuk menghentikan kebiasaan ini. Namun, menyadari masalah adalah langkah pertama yang baik untuk memutus siklus.

Buat Skala Tingkat Kelaparan

Melansir situs University Of Michigan Health, pengidap dapat mengatasi kebiasaan ini dengan membuat skala tingkat kelaparan. Skala rasa lapar dapat membantu diri mempelajari cara membedakan antara rasa lapar fisik yang sebenarnya dan rasa lapar yang hanya ada di kepala

Kelaparan psikologis adalah keinginan untuk makan yang disebabkan oleh emosi, seperti stres, kebosanan, kesedihan, atau kebahagiaan.

Ketika diri mulai merasa ingin makan sesuatu, nilailah rasa lapar tersebut dalam skala 1 sampai 10, dengan 1 (lapar, lemah, dan pusing) dan 10 (sangat kenyang hingga mual. Nilai 5 atau 6 berarti diri merasa nyaman dan tidak terlalu lapar atau terlalu kenyang.

Sehingga, Jika merasa ingin makan tetapi tingkat rasa lapar berada pada skala 6 atau lebih tinggi, berhentilah dan periksa emosi diri sendiri. Selain itu, ketika mulai mengenali pemicu kebiasaan ini, dapat mengubahnya dengan respon yang berbeda. Alih-alih dengan meraih permen atau sekantong keripik untuk menenangkan emosi.

Namun, pengidap dapat juga melakukan hal lain seperti istirahat sejenak untuk relaksasi serta luangkan waktu untuk berhenti dan berpikir apa yang mengganggu diri dan bagaimana mengatasinya. (zal)


Baca Juga:

Share: Mengenal Fenomena Emotional Eating dan Cara Mengatasinya