Teknologi

Sewa iPhone Demi Gengsi Tapi Bahaya Bagi Penggunanya

OlehRay

featured image
Ilustrasi. Foto: Pixabay

Jasa penyewaan iPhone belakangan sedang ramai menjadi perbincangan publik. Viralnya soal jasa sewa gawai keluaran Apple ini, bermula dari unggahan akun Twitter @txtdarionlshop. Akun ini mengunggah tangkapan layar promo penawaran jasa itu dari salah satu toko daring.

Bukaanmaen wkwk pic.twitter.com/gfIWmRn4aV

— TXT OLKOP (@txtdarionlshop) October 30, 2021

Harga Sewa

Di dalam tangkapan layar tersebut, tampak ditawarkan ponsel iPhone mulai dari tipe 6, 7, 8, X, 11 hingga 12 untuk disewakan selama sehari. Harganya bervariatif, mulai dari Rp40 ribu sampai Rp50 ribu untuk menyewa iPhone 6 dan iPhone 6s selama 24 jam. Kemudian iPhone 6s Plus ditawarkan harga Rp60 ribu untuk sewa per harinya.

Sementara iPhone 7 ditawarkan jasa sewanya seharga Rp70 ribu per hari, iPhone 7 Plus bisa disewa per harinya dengan harga Rp90 ribu sehari. Lalu iPhone 8 ditawarkan untuk disewa dengan harga Rp85 ribu, dan iPhone 8 Plus bisa disewa seharga Rp120 ribu selama 24 jam.

Sedangkan untuk harga sewa iPhone X dan XR, seharinya sebesar Rp140 ribu. Kemudian yang paling mahal adalah iPhone 11 Pro, dengan harga sewa dipatok Rp400 ribu per hari.

Dalam tangkapan layar tersebut, toko daring itu mengungkapkan tujuan dirinya membuka jasa layanan ini. Tujuannya, untuk membuat orang-orang yang belum mampu membeli gawai ini, bisa tampil gaya dan merasakan pengalaman menggunakan iPhone.

"Mau gaya bisa sewa iPhone bos, gausa beli kalo sewa lebih terjangkau. Monggo WA langsung," tulis keterangan promo toko daring tersebut.

Picu Kontroversi

Penawaran jasa sewa iPhone ini pun memicu kontroversi. Ada yang mempertanyakan gunanya menyewa iPhone selain untuk gengsi semata. Sebab, manfaatnya dinilai tak sebanding dengan harga sewanya.

"Kalau ingin terlihat mentereng, lebih baik rental mobil untuk harga segini. Mobil bisa jalan, handphone bisa apa? Ngetweet?" cuit akun @mwdana.

Ada pula cuitan warganet lainnya yang meresponsnya dengan mengatakan daripada mesti mahal-mahal menyewa, uangnya bisa ditabung untuk membeli produk gawai premium ini.

"Misal harga iPhone 11 Pro Max di iBox itu 19 juta. 19 juta dibagi 400 ribu dapet 47,5. Itu berarti dia bisa balik modal dalam kurun waktu 47,5 hari. Daripada nyewa, mending nabung aja sehari 400 ribu selama 47,5 hari atau satu setengah bulan buat beli iPhone di iBox," timpal akun Twitter @akhrhfi.

Namun ada juga yang menilai manfaat dari jasa ini, terutama bagi orang yang mau membeli iPhone namun masih ragu dan perlu untuk mengeceknya terlebih dahulu.

"Btw, ini ide cukup bagus loh... Misal gue sebagai user Android trus mau pindah ke iPhone dan belum tahu user experience & OS hp itu jadi bisa nyobain dulu gitu. Jadi bukan buat pamer tapi memang buat 'test drive' aja," balas akun @Bensuharto.

Hilangnya Rasionalitas

Pakar sosial dan politik dari Univeristas Negeri Jakarta (UNJ) Ubedilah Badrun, menilai dari sudut pandang sosiologis, hal ini merupakan fenomena dari gejala yang terjadi pada masyarakat post modernisme dewasa ini.

"Ada kecenderungan di tengah masyarakat kita saat ini yang senang dengan hyper reality. Mereka senang dengan sesuatu yang semu di permukanan. Itu membentuk pola berpikir masyarakat yang dipengaruhi oleh gaya hidup yang ada di tengah masyarakat. Cara berpikir membangun gaya hidup ini, menciptakan kepemilikan terhadap benda sebagai sesuatu yang berharga," ujar Ubedilah kepada Asumsi.co melalui sambungan telepon, Rabu (8/12/2021).

Dari segi prestise, saat ini iPhone masih menempati posisi produk teknologi informasi yang paling dipandang dengan harga yang cukup mahal. Selain itu, dari faktor kenyamanan data pengguna, menurutnya iPhone dikenal relatif aman.

Sisi gengsi dan eksklusivitas iPhone ini, kata dia, akhirnya membentuk persepsi kalau menggunakan iPhone menghadirkan imej terbangunnya kelas tersendiri dalam strata sosial di masyarakat.

"Hal semacam ini menunjukkan, masyarakat kita semakin mulai berkurang rasionalitasnya. Nilai hidupnya tidak lagi diukur oleh area substantif seperti ide dan gagasannya, tapi lebih pada sifat materialitstis dan prestise," imbuhnya.

Kian memudarnya rasionalitas ini, mengarahkan masyarakat pada gaya hidup konsumerisme. Di samping itu, ia juga menilai adanya nuansa politis pasar global dari gencarnya nilai gengsi yang digaungkan produk iPhone.

"Sebetulnya juga ada semacam rekayasa yang terbentuk di media, kalau iPhone sebagai ukuran tertinggi di tengah persaingan produk-produk gawai dari negara lainnya, seperti Tiongkok atau Korea Selatan. Apple bertujuan mempertahankan posisinya sebagai produk superior," tandas Ubedilah.

Bahaya Sewa iPhone

Sementara itu, Pengamat gawai dan teknologi dari Komunitas Gadtorade, Lucky Sebastian, mengatakan, ada yang perlu diperhatikan jika tetap mau menggunakan jasa ini, terlebih bila iPhone yang disewa akan digunakan untuk keperluan pribadi. Misalnya, membuka akun media sosial personal, log in akun WhatsApp milik sendiri, hingga berbagi data yang tidak bersifat publik.

Bila iPhone sewaan tersebut digunakan untuk keperluan tadi, maka penting untuk memahami cara memformat ulang gawainya seperti sedia kala, tanpa meninggalkan data pribadi di dalamnya yang bisa tersimpan di iCloud.

"Mesti mengerti bagaimana cara mereset ulang, karena iPhone ini buat sebagian pengguna agak membingungkan. Jangankan yang sewa, saya juga menemukan banyak sekali orang tidak tahu cara membuat Apple ID. Jangankan yang sewa, mereka yang beli iPhone saja banyak yang tidak bisa membuat sendiri akunnya dan memilih dibuatkan oleh tokonya. Ini agak berbahaya memang," ujarnya saat dihubungi terpisah.

Lebih jauh, ia juga mengingatkan pentingnya mewaspadai adanya malware yang sengaja dimasukkan ke dalamnya. Malware tersebut, lanjut dia bisa saja mengarahkan untuk membuka data pribadi.

"Kita juga perlu waspada kalau penyewanya memasukkan seperti malware untuk mengumpulkan data pribadi kita. Banyak yang mengira kalau malware hanya ada di Android. Padahal itu salah. Kita perlu tahu dengan menggunakan teks coding saja, orang lain bisa mereset iPhone kita secara  otomatis," ungkapnya.

Membuka jasa penyewaan iPhone memang menguntungkan secara komersial, bagi pihak yang menawarkannya. Namun sebagai pengguna, jasanya tentu berisiko. Ia menyarankan, lebih baik jika ingin memiliki iPhone, menabung dan membelinya untuk menjadi milik pribadi.

"Membuka jasa menyewa iPhone, dengan harga segitu memang sangat lumayan. Kalau kita menyewanya setiap hari, uang yang terkumpul itu bisa buat membeli iPhone pribadi," pungkasnya. (rfq)

Baca Juga:

Fitur Dissapearing Message WhatsApp Dituding Bantu Perselingkuhan

Registrasi IMEI Terganggu karena Kebakaran Gedung Cyber Mampang

Italia Denda Apple dan Google Rp158,5 miliar, Kenapa?

Share: Sewa iPhone Demi Gengsi Tapi Bahaya Bagi Penggunanya