Teknologi

Tips Keamanan Bertransaksi Digital Agar Terhindar Ancaman Siber

Admin– Asumsi.co

featured image
Unsplash

Kemajuan teknologi dalam fitur transaksi digital semakin dimanfaatkan banyak masyarakat. Meski demikian, masyarakat harus tetap waspada akan bahaya transaksi digital yang semakin marak, karena setiap kemajuan teknologi akan selalu dibarengi dengan ancaman siber yang kian meningkat.

Presiden Direktur PT ITSEC Asia, Andri Hutama Putra mengatakan, saat ini masih banyak masyarakat yang belum memahami akan bahaya serangan digital terutama di kehidupan finansialnya. Padahal, siapaun rentan menjadi target serangan siber, dan serangannya bisa datang kapanpun.

Untuk itu, ITSEC Asia memberikan tips menjaga keamanan dalam bertransaksi digital. Dikutip dari Antara, berikut rangkumannya:

Jaga kerahasiaan data: Data-data rahasia yang tidak boleh dibagikan seperti pin/password, kode OTP, authentication code, dan lainnya merupakan pintu masuk ke dalam informasi rahasia yang kita miliki.

Sebaiknya jangan mengetik password atau kode rahasia dalam bentuk lainnya di muka umum. Pastikan tidak ada orang lain yang mengamati pada saat kita melakukan hal tersebut.

Gunakan alamat email khusus: Akan lebih baik dan aman jika kita memiliki email yang dikhususkan untuk keperluan-keperluan tertentu. Sebagai contoh jika untuk kebutuhan transaksi e-commerce, baiknya email yang digunakan berbeda dengan email data pribadi bank dan kantor, sehingga lebih mudah mengidentifikasi jika ada email yang mencurigakan.

Selain itu, Anda jangan sembarangan membuka tautan yang mencurigakan dalam pesan email, ini untuk menghindari serangan phising yang meretas informasi seperti data login.

Aktifkan Two Factor Authentication dan notifikasi transaksi: Opsi Two Factor Authentication memberikan pengamanan ganda terhadap transaksi digital. Two Factor Authentication dapat memberi lapisan ekstra pengamanan terhadap transaksi digital, melalui pengiriman kode verifikasi atau kode OTP (one time password) ke nomor telepon sebelum transaksi terjadi.

Sementara dengan notifikasi transaksi, pengguna dapat segera menelpon pihak bank jika ada transaksi yang tidak dikenal.

Selalu menjawab kepada pihak yang resmi: Merespon nomor yang tidak dikenal bisa jadi awal mula Anda terkena serangan siber. Banyak orang yang masih mudah tertipu akan penawaran ataupun modus-modus lainnya yang didapat baik dari SMS, email, ataupun percakapan langsung melalui telepon.

Anda harus lebih kritis dalam menilai apakah informasi yang didapat tersebut sumbernya dari lembaga/pihak yang resmi atau tidak. Jangan mudah menjawab atau memberikan informasi kepada pihak yang tidak dikenal/bukan dari lembaga resmi.

Triple check siapa rekan transaksi Anda: Sebelum membeli atau mentransfer sesuatu, usahakan agar kita sudah merasa yakin. Seperti contoh, penipuan yang memanfaatkan akun korban yang di-hacked. Banyak kasus dimana si penipu meminta transfer kepada kerabat/teman baiknya.

Jika Anda mengalami hal tersebut, cek kembali ke orang-orang di sekitarnya apakah benar teman/rekan kita yang meminta transfer atau orang lain. Begitu halnya dengan transaksi di e-commerce, usahakan membeli dari e-commerce yang terpercaya dan juga cek review terlebih dahulu sebelum membeli barang.

Selalu ganti password/PIN secara berkala: Untuk mencegah kode akses Anda mudah diketahui oleh orang lain, usahakan mengganti kode akses kita dalam jangka waktu tertentu. Hal ini guna mencegah agar pihak lain bisa mengakses informasi yang kita miliki.

Buat kode akses yang terdiri dari kombinasi huruf capital, angka, dan simbol agar kode akses kita tidak mudah ditebak.

Tetapkan limit kartu kredit yang rendah: Kartu kredit merupakan salah satu layanan perbankan yang rawan untuk disalahgunakan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab. Untuk meminimalisir resiko yang mungkin Anda dapat, gunakan kartu kredit dengan limit rendah agar jika kemungkinan terburuknya Anda terkena serangan siber, kerugian yang didapat tidak terlalu besar. (Zal)


Baca Juga:

Share: Tips Keamanan Bertransaksi Digital Agar Terhindar Ancaman Siber