Isu Terkini

Muhammadiyah dan PBNU Kritisi Pernyataan Soal Kemenag Hanya untuk NU

OlehAntara

featured
ANTARA FOTO/Wahyu Putro

Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas menyatakan Kementerian Agama adalah hadiah untuk Nahdlatul Ulama, bukan umat Islam secara umum di Indonesia. Pernyataan itu pun mendapat kritik dari Muhammadiyah dan Pengurus Besar NU (PBNU).

Narasi radikal: Dikutip dari Antara, Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir menyatakan lembaga-lembaga negara merupakan milik semua elemen, bukan dikuasai atau hadiah bagi satu kelompok saja. Dia berkata segenap warga dan elite negeri seharusnya semakin dewasa dalam berbangsa dan bernegara.

"Semisal elite negeri yang menyatakan suatu Kementerian Negara lahir diperuntukkan golongan tertentu dan karenanya layak dikuasai oleh kelompoknya. Suatu narasi radikal yang menunjukkan rendahnya penghayatan keindonesiaan," ujar Haedar.

Negara untuk semua: Haedar menyampaikan Indonesia lahir dan hidup untuk seluruh rakyat Indonesia tanpa kecuali sebagaimana pernyataan Soekarno dalam sidang BPUPKI pada 1 Juni 1945.

"Kita hendak mendirikan suatu negara buat semua. Bukan buat satu orang, bukan buat satu golongan, baik golongan bangsawan maupun golongan yang kaya, tetapi semua buat semua," ujarnya.

Kesombongan: Haedar pun mengajak semua pihak untuk menampilkan jiwa kenegarawanan dalam berbangsa dan bernegara dengan meruntuhkan segala kesombongan diri di atas otoritas Sang Pencipta.

Semua agama: Sekretaris Jenderal PBNU Helmy Faishal Zaini menyatakan Kemenag bukanlah kado dari negara bagi NU atau untuk umat Islam semata, tapi hadiah bagi semua agama.

"Pertama adalah bahwa Kemenag hadiah negara untuk semua agama, bukan hanya untuk NU atau hanya untuk umat Islam," ujar Helmy Faishal.

Peran NU: Helmy mengaku NU punya peran besar dalam menghapus tujuh kata dalam Piagam Jakarta. Namun tidak berarti NU semena-mena berkuasa atas Kemenag ataupun merasa ada hak khusus.

Dia mengingatkan semua elemen sejarah bangsa punya peran strategis dalam pendirian NKRI, melahirkan Pancasila, UUD 1945 dalam keanekaragaman suku, ras, agama, dan golongan yang dibalut Bhineka Tunggal Ika.

Prinsip NU: Helmy menjelaskan NU berprinsip siapa saja boleh memimpin dan berkuasa dengan landasan kepemimpinan, serta melahirkan kesejahteraan dan kemaslahatan.

"Dengan segala hormat dan kerendahan hati, tentang pernyataan Pak Menteri Agama tentu itu hak beliau, meski saya pribadi dapat menyatakan bahwa komentar tersebut tidak pas dan kurang bijaksana dalam perspektif membangun spirit kenegarawanan

Pernyataan: Sebelumnya, Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas yang menyebut bahwa Kemenag merupakan hadiah negara untuk Nahdlatul Ulama (NU). Pernyataan itu disampaikan Menag saat Webinar beberapa hari lalu.



Baca Juga:

Share: Muhammadiyah dan PBNU Kritisi Pernyataan Soal Kemenag Hanya untuk NU