General

Interaksi Agama dan Politik di Media Sosial

OlehRohmatul Izad

featured image

Kurang lebih dua tahun terakhir, media sosial kita kebanjiran isu yang secara tidak langsung mengarah pada hubungan antara politik dan agama, bahasa yang mewakili keduanya seakan mampu membungkusnya dalam pertautan intim dan penuh lika-liku yang begitu menegangkan. Agama memang sangat mudah disalahgunakan, apalagi orang cenderung melihat bungkus daripada isi.

Empat tahun yang lalu, politik kita masih belum terlalu dikawal oleh media sosial. Politik, dalam arti masa itu, adalah sebuah demonstrasi dalam bentuk baliho, spanduk dan orasi-orasi menggelagar di banyak tempat yang memungkinkan setiap aspirasi dapat didengar dan dipahami oleh masyarakat secara luas. Sekarang orang semakin menyadari bahwa cara-cara itu tak lagi signifikan dalam berkampanye, menyampaikan aspirasi atau hanya sekedar menampilkan figur publik yang akan dipersiapkan untuk masa yang akan datang.

Isu agama semakin mencuat, di media sosial, manakala ada kecenderungan dari kelompok tertentu yang menginginkan bahwa aspirasi politik, dalam beragam bentuknya, menjadikan agama sebagai mediasi, melalui bahasa-bahasa populer dan mudah dimengerti oleh mereka yang bahkan tak memiliki kepentingan apapun terhadap kelompok itu.

Islam, sejauh ini menjadi agama yang paling banyak disorot dipermukaan. Sebagai agama yang dahulu hanya menjadi fenomena pinggiran, dalam lingkup masyarakat yang luas, seakan sudah sama sekali berbeda. Kita tak menginginkan Islam menjadi agama yang disudutkan, tetapi kenyataannya hanya Islam saja-sebagai kelompok-yang mewarnai percaturan politik dalam segala hal, agama lain tampak hanya sebagai penonton semata dan sedikit menarik diri dari popularitasnya di ruang publik.

Opini-opini publik lalu diisi oleh kecenderungan yang mengarah pada ide-ide Islami dan sekaligus ada penolakan-penolakan terhadapnya, mengingat musuh bagi mereka yang menjadikan agama sebagai alat bukanlah agama lain atau kelompok lain yang jelas-jelas berbeda, tetapi bahkan kepada kelompok agamanya sendiri dan menganggap siapapun yang tidak menjadikan agama (Islam) sebagai aspirasi, maka ia tak layak dijadikan aktor perubahan atau penguasa.

Paling tidak, ini yang sejauh ini terjadi dan mengisi suasana panas di tahun-tahun politik di mana siapapun akan melakukan apa saja, asal apa yang ia perjuangkan dapat menang. Kita menjadi tahu bahwa politik sangatlah pragmatis, suka-suka dan apapun menjadi boleh dilakukan. Makin kesini, kita seringkali terjebak dan tampak bingung dalam melihat siapa kawan dan siapa lawan. Politik menjadi satu-satunya bentuk perjudian yang sah.

Bahasa agama menjadi bermasalah ketika ia tak digunakan sebagaimana semestinya. Kita tahu bahwa bahasa agama yang dikonsumsi di ruang publik, haruslah unsur-unsur yang mengarah pada dakwah dan penyebaran ajaran Islam, sesuai prinsip syariat dan tanggung jawab setiap pribadi muslim untuk selalu mengajak pada kebenaran. Mengapa yang kita saksikan justru sebaliknya? Membungkus bahasa agama untuk kepentingan tertentu, untuk menjadi kekuatan politik yang tak pernah bisa dibenarkan sebab agama diperalat dan menjadikan agama sebagai instrumen untuk tujuan-tujuan yang tak benar.

Politik itu agung, sebab ia dapat membawa perubahan. Tapi politik menjadi busuk dan tidak layak dikonsumsi ketika ia berselingkuh dengan agama dan memanfaatkan agama, melalui umatnya, sebagai alat untuk kepentingan tertentu. Kita bisa melihat bagaimana partai oposisi begitu getol dalam menciptakan kegaduhan-kegaduhan, membuat seakan agama dilecehkan, lalu mereka berjuang melalui agama itu, dengan dan tanpa kepentingan politik sekalipun.

Kita bisa semakin tahu bahwa betapa bahasa agama dapat memporak-porandakan opini publik, menjadikan suasana politik kita menjadi tidak sehat, dan hati nurani kita tercabik-cabik seakan tidak tahu harus berbuat apa. Padahal, kitalah pengguna sosial media itu. Kita menjadi korban keganasan bahasa agama yang dipelintir oleh sekian banyak orang yang merasa berjuang tetapi tidak tahu atas nama apa ia berjuang, mengapa di negara yang mayoritas berpenduduk muslim ini, sekan umat Islam menjadi korban dan merasa terdzolimi.

Kedunguan demi kedunguan menjadi tampak dipermukaan, akal sehat dipertaruhkan, opini publik makin tidak menemukan titik temu yang jelas, hoax ada di mana-mana, dan ujaran-ujaran kebencian semakin subur dan terpelihara begitu masif dalam bungkus bahasa agama dan moralitas yang tak tahu asal-usulnya.

Orang menjadi semakin takut berpendapat, sebab kaos pun dianggap dapat mewakili opini publik secara keseluruhan. Betapa ini sangat membelenggu kesadaran intelektual kita, hukum moral kita tercabik-cabik bagai mata rantai yang terputus di tengah jalan. Sampai kapan agama disalahgunakan? Akan sejauh mana perjalanan politik kita? Tentu kitalah yang tahu dalam ketidatahuan masa depan.

Fenomena bahasa agama di media sosial paling tidak dapat memberikan gambaran di atas fragmen-fragmen yang berserakan, bahwa politik kita tak dapat diperediksi dengan mudah. Seorang idealis, akan tampak menjadi antipati pada politik, ia memilih menarik diri pada realitas yang sudah tercemar oleh virus kedunguan dan kegagalan dalam memahami peta politik dan kebijakan instrumental pemerintah.

Kritik harus terus dilakukan, sebab ia akan mengevalusi setiap bentuk kebijakan penguasa yang pada akhirnya akan melahirkan solusi-solusi. Tidak ada solusi tanpa kritik, tetapi kritik itu sifatnya tidak merusak. Kritik itu seperti jalan tengah yang mencoba memilah-milah mana yang baik dan mana yang buruk, sehingga pemilahan itu dapat menjadi jalan bagi solusi masa depan.

Bukan dengan cara mencari kesalahan-kesalahan yang lalu menggugat dengan kekuatan massa. Kita harus tahu bahwa hukum tak boleh dibatasi oleh opini publik, sebab cara kerja dalam dunia hukum harus mempertimbangkan sifat subjektif dan objektif dari perkara hukum itu sendiri, bukan wewenang masyarakat untuk memutuskan. Inilah perbedaan tegas antara mana wilayah demokrasi dan mana wilayah hukum.

Jika bahasa agama mencerminkan nilai-nilai agama itu sendiri dan tidak diperalat, sebagaimana tujuan diselenggarakannya agama, maka kita menjadi mengerti bahwa betapa agama tak pernah mengajarkan kerusakan dan kegaduhan. Agama itu seperti ganja, ia memiliki daya adiktif (candu), sehingga siapapun yang menyalahgunakan agama, sebagaimana orang yang menyalahgunakan ganja, maka akibatnya adalah kerusakan dan kehancuran. Persis pada kasus penyalahgunaan inilah, fenomena bahasa agama bekerja dan menjadi produktif di tengah-tengah media sosial kita.

Rohmatul Izad adalah mahasiswa Pascasarjana Ilmu Filsafat UGM Yogyakarta.

Share: Interaksi Agama dan Politik di Media Sosial