Sains

Pernah Terbangkan Monyet, Kini NASA Luncurkan Bayi Cumi-cumi ke Luar Angkasa

OlehRay

featured image
Foto: Getty Images

Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) tengah menjalankan proyek baru mereka untuk meluncurkan sekitar 128 bayi cumi-cumi bercahaya ke luar angkasa. Tujuannya apa ya?

Meneliti Interaksi Makhluk Hidup di Luar Angkasa

Bukan cuma bayi cumi-cumi, NASA juga berencana menerbangkan 5.000 tardigrade atau tardigrada - makhluk dengan julukan “beruang air” yang berukuran sangat kecil ke antariksa. Mengutip Detik.com, kedua jenis biota air ini rencananya bakal diterbangkan menuju Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) sebagai bagian dari misi pasokan kargo ke-22 SpaceX. 

Bila sesuai rencana, SpaceX akan meluncurkan makhluk-makhluk hidup ini di atas roket Falcon 9 pada 3 Juni, pukul 13:29 waktu setempat, dari Kennedy Space Center di Florida, Amerika Serikat.

Baca juga: Pentagon Sampaikan Laporan UFO ke Kongres AS, Khawatir Jadi Ancaman Global | Asumsi

Science Alert, seperti dikutip dari sumber yang sama, menyebut cumi-cumi dengan panjang 3 mm yang akan dikirimkan ke luar angkasa ini memiliki organ khusus penghasil cahaya di dalam tubuhnya.

Para peneliti mengharapkan tujuan akhir dari eksperimen ini mampu menyelidiki hubungan simbiosis antara bakteri, seperti beruang air, dan bayi cumi-cumi, ketika keduanya berinteraksi.

"Hewan, termasuk manusia, bergantung pada mikroba untuk menjaga kesehatan pencernaan dan sistem kekebalan tubuh. Kami tidak sepenuhnya memahami bagaimana penerbangan luar angkasa mengubah interaksi yang menguntungkan ini," kata ahli mikrobiologi di University of Florida Jamie Foster.

Jamie, yang juga peneliti utama dari eksperimen Understanding of Microgravity on Animal-Microbe Interactions (UMAMI), mengungkapkan kalau cumi-cumi lahir tanpa bakteri, yang kemudian mereka peroleh dari laut di sekitar mereka.

"Para peneliti berencana menambahkan bakteri ke cumi-cumi segera setelah hewan tersebut tiba di ISS. Dengan cara ini, peneliti dapat mengamati cumi-cumi yang bersimbiosis dengan bakteri," demikian disampaikannya dalam sumber yang sama.

Kenapa Beruang Air?

Tardigrade diyakini mampu bertahan dari benturan yang dibuat dengan kecepatan sekitar 900 meter per detik. Kemampuan tersebut membuat makhluk berukuran super kecil ini menjadi organisme penelitian yang berguna di ISS.

Foster mengharapkan, lewat eksperimen ini, para peneliti serta astronot mampu mengidentifikasi gen spesifik yang bertanggung jawab atas kemampuan adaptasi luar biasa pada hewan yang dikirimkan tersebut. 

Sementara itu, asisten profesor biologi molekuler di Wyoming University, Thomas Boothby, mengharapkan hasil penelitian ini juga bisa memberikan wawasan penting tentang dampak kesehatan dari perjalanan luar angkasa jangka panjang.

Baca juga: Misteri Ledakan Matahari Terekam Space Orbiter, Ini Pengaruhnya ke Bumi | Asumsi

"Tardigrade dapat bertahan hidup, termasuk setelah dikeringkan, dibekukan, dan dipanaskan hingga melewati titik didih air. Mereka bisa menghadapi ribuan kali radiasi sebanyak yang kita bisa dan mereka dapat bertahan selama berhari-hari atau berminggu-minggu dengan sedikit atau bahkan tidak ada oksigen," ucapnya. 

Selain itu, ia mengungkapkan, para peneliti menemukan hasil riset mengenai beruang air yang terbukti bisa bertahan dan berkembang biak selama penerbangan luar angkasa. Bahkan, dapat bertahan ketika berada di ruang hampa luar angkasa dalam waktu lama.

Berdasarkan studi Boothby, astronot akan memeriksa biologi molekuler pada beruang air untuk mencari tanda-tanda adaptasi langsung dan jangka panjang terhadap kehidupan di orbit rendah Bumi, yang membuat para pelancong antariksa berani menghadapi kerasnya gravitasi nol dan peningkatan paparan radiasi.

NASA Pernah Mengirimkan Monyet ke Luar Angkasa

Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan), Thomas Djamaluddin, mengatakan, misi mengirimkan binatang yang dilakukan NASA bukanlah kali pertama dilakukan. Misi kali ini, kata dia, juga merupakan bagian dari eksperimen biologi atau space biology. Tujuannya untuk mempelajari supaya misi berawak astronot berjalan lancar. 

Baca juga: Misi di Mars, Babak Baru Rivalitas AS-Cina | Asumsi

Pada 31 Januari 1961, NASA pernah mengirimkan simpanse bernama Ham dengan menumpangi roket Mercury-Stone dan berhasil mencapai luar angkasa, lalu kembali ke Bumi dengan kondisi selamat.

"Dulu pernah juga dengan monyet untuk mengetahui bagaimana metabolisme tubuh manusia saat di antariksa seperti apa, tekanan darahnya seperti apa, dan risiko keropos tulang karena mikro gravitasi, supaya misi berawak bisa berjalan dengan baik. Pada misi kali ini, dengan mengirimkan cumi-cumi atau ubur-ubur dan beruang air, meneliti simbiosis mutualisme makhluk hidup dalam kondisi antariksa," ujar Thomas saat dihubungi Asumsi.co melalui sambungan telepon, Selasa (2/6/21).

Ia menerangkan, kedua makhluk ini bisa menghasilkan hubungan yang saling menguntungkan bila di luar angkasa terdapat mikroba.  "Cumi-cumi ini bisa memunculkan cahaya. Ini bisa lebih mudah diidentifikasi peneliti dan melihat bagaimana mikroba, yang diwakili beruang air, berinteraksi dalam kondisi antariksa bisa mempengaruhi cumi-cumi," terangnya.

Thomas mengamini, kajian ilmiah ini sangat bermanfaat untuk menyiasati astronot bertahan menghadapi kondisi luar angkasa dalam jangka waktu yang lama. 

"Manusia juga terdapat mikroba di dalam pencernaannya. Nah, saat astronot melakukan penerbangan ke Bulan, dan Mars khususnya, penelitian ini bermanfaat untuk mengamati kondisi metabolisme tubuh manusia yang di dalamnya ada mikroba supaya bisa pulang dengan selamat fisik dan kesehatannya dari luar angkasa. Oleh sebab itu, kondisi mikroba ini juga perlu dipelajari," kata Thomas.

Share: Pernah Terbangkan Monyet, Kini NASA Luncurkan Bayi Cumi-cumi ke Luar Angkasa