Teknologi

Misi di Mars, Babak Baru Rivalitas AS-Cina

Irfan — Asumsi.co

featured image
CCTV/China National Space Agency

Sudah usai atau belumnya perang dagang antara AS-Cina bolehlah diperdebatkan. Tetapi, kini rivalitas dua negara tersebut memasuki babak baru: misi di Mars.

Beberapa hari lalu, Cina baru saja mendaratkan robot pertamanya di Mars lewat misi Tianwen-1. Ekspansi Cina ke luar angkasa mungkin bisa dibilang terlambat kalau dibandingkan Amerika atau Uni Soviet. Namun, sejak 1992, negara tirai bambu memperlihatkan kemajuan pesat atas upaya penjelajahan luar angkasa.

Melansir Aljazeera, Cina mengirim pelaku misi luar angkasanya pada 2003. Menamakan diri Taikonaut – yang merupakan penggabungan dari bahasa Cina, “taikong” yang berarti “ruang” atau “kosmos” – Cina lantas menempatkan modul sementara pertamanya di orbit pada tahun 2011.

Baca juga: China Sukses Mendarat di Mars Lewat Misi Tianwen-1 | Asumsi

Pada 2019, Cina didaulat sebagai negara pertama yang mendaratkan penjelajah di sisi jauh Bulan dan membawa kembali sampel batuan pertama dari Bulan di tahun 2020. Dalam langkah yang lebih simbolis dan signifikan, modul inti dari China Space Station (CSS), yang dirancang dan dirakit secara independen, berhasil diluncurkan ke orbit bulan lalu. Modul inti ini menyediakan akomodasi tempat tinggal astronot dan stasiun kendali pusat, dan dengan beberapa misi lagi selama dua tahun ke depan untuk memasang elemen stasiun yang tersisa. CSS diharapkan dapat beroperasi penuh pada tahun 2022.

Media Cina menyebut CSS diproyeksikan sebagai pusat eksperimen ilmiah di masa depan. CSS disebut memiliki teleskop ruang angkasa kelas Hubble, namun dengan bidang pandang 300 kali lebih besar, yang sangat dinantikan.

Dan kini, Zhurong, robot yang mendarat di Mars, mengukuhkan Cina sebagai negara kedua yang mendarat di planet merah setelah Amerika. Hal yang nyaris dilakukan oleh Rusia, tapi gagal.

Menentang Dominasi AS

Tak dimungkiri kalau ambisi Cina menguasai ruang di luar Bumi tak lepas dari penentangannya pada dominasi AS. Dalam Aljazeera, upaya soft power ini merupakan langkah membangun Cina menjadi kekuatan luar angkasa dalam segala hal.

Dalam pidato ucapan selamat setelah suksesnya peluncuran CSS Cina, Tianhe, Presiden Xi Jinping juga menjelaskan bahwa meningkatkan program luar angkasa negara adalah langkah strategis utama yang akan menentukan perkembangan Cina di masa depan.

Baca juga: Proyek Lunar Gateway, NASA Ingin Astronot Wanita Mendarat di Bulan | Asumsi

Peningkatan kekuatan antariksa Cina secara bertahap, namun stabil, telah menimbulkan pertanyaan tentang persaingan dengan AS karena hubungan antara kedua negara di Bumi ini memburuk dalam beberapa tahun terakhir.

Lincoln Hines, pengamat kebijakan antariksa Cina dari Cornell University, menilai, kalau kekhawatiran AS pada perkembangan ekspedisi luar angkasa Cina adalah terkait pengembangan kekuatan militer negara itu. Namun para ahli lain telah memperingatkan agar tidak melebih-lebihkan kemampuan luar angkasa Cina.

Hines juga menilai, tidak jelas apa yang bisa diperoleh Cina secara nyata dari ambisi misi luar angkasa, selain menggunakan soft power yang lebih kuat. “Namun, dengan menginvestasikan dana besar dalam program luar angkasa, Beijing juga mengambil risiko mengurangi keuntungannya di domain lain,” ucap dia.

Isu Keamanan

Administrator NASA Bill Nelson mengatakan, meski Cina berhasil mengorbit, namun ia gagal memenuhi standar keamanan. Ini terkait jatuhnya kembali sisa-sisa roket Long March 5B yang membawa modul inti ke luar angkasa ke bumi.

Skpetisisme dari AS soal isu keamanan ini dibantah Cina. Menurut otoritas Cina, justru AS yang menggaungkan ketakutan berlebihan pada misi luar angkasa yang dijalankan Cina.

Mengutip Financial Times, kurangnya koordinasi internasional yang dilakukan Beijing, terkait misinya, bisa menimbulkan ketidakpercayaan politik yang mengancam upaya Beijing untuk menuai prestise dan imbalan ekonomi dari menjadi negara adidaya luar angkasa. Analis khawatir bahwa percepatan peluncuran roket dan satelit, dikombinasikan dengan keengganan untuk berbagi rincian proyek, menciptakan kondisi yang matang untuk tersandung dalam perlombaan senjata ruang angkasa baru antara Cina dengan AS.

Baca juga: Misteri Baru Venus: Perbedaan Waktu Super Lama Hingga Sinyal Misterius | Asumsi

“Kesulitan pembuatan kebijakan barat tentang program luar angkasa Cina adalah kami tidak tahu apa yang ingin Beijing lakukan,” kata Mark Hilborne, pakar studi pertahanan di King’s College London.

Situasinya semakin kabur oleh program “fusi sipil-militer” di Cina yang ekstensif dan dirancang untuk menciptakan aliran informasi dari sektor swasta dan sipil ke aktor-aktor militer.

Kebanggaan Nasional

Namun, bisa juga target program luar angkasa Cina bukanlah untuk AS, tetapi lebih dekat ke dalam negeri mereka. Keberhasilan luar angkasa semakin memicu kebanggaan nasional di antara warga negara.

“Kami akan membangun stasiun luar angkasa sendirian. Itu pencapaian luar biasa bagi kami, orang Cina,” komentar seorang netizen yang bersemangat di Weibo, tak lama setelah CSS diluncurkan.

Share: Misi di Mars, Babak Baru Rivalitas AS-Cina