Isu Terkini

Dikeluarkan dari Sekolah Karena Hina Palestina di TikTok, KPAI: Sanksi Tak Mendidik

OlehM. Ashari

featured image
Unsplash/Solen Feyissa

Peristiwa yang menimpa MS, pelajar SMA di Bengkulu yang dikeluarkan dari sekolah karena konten TikTok buatannya diduga menghina Palestina, menjadi perhatian Komisi Perlindungan Anak Indonesia. Sanksi keras terhadap MS, yakni dikeluarkan dari sekolah, dipandang tidak mendidik oleh KPAI.

Komisioner KPAI Bidang Pendidikan Retno Listyarti mengatakan, peristiwa yang dialami MS terkait dengan keberlangsungan studinya itu sangat memprihatinkan. Pasalnya, MS kehilangan hak atas pendidikan begitu ia dikeluarkan dari sekolah. Padahal, MS saat ini sudah berada di kelas akhir, tinggal menunggu kelulusan.

“Kalaupun tidak berada di kelas akhir, dipastikan MS akan sulit diterima di sekolah manapun setelah kasusnya viral. Artinya, kemungkinan besar MS putus sekolah. Sebagai warga negara, MS terlanggar hak asasinya untuk memperoleh pendidikan atau pengajaran sebagaimana amanah pasal 31 UUD 1945,” kata dia dalam keterangannya, Kamis (20/5/2021).

Retno mengatakan, KPAI mendorong agar Dinas Pendidikan setempat tetap memenuhi hak atas pendidikan MS. Ia mengaku khawatir bila banyak sekolah akan menolak mutasi MS setelah konten video TikToknya menjadi viral. Hal ini juga didasari oleh pertimbangan masa depan MS yang masih panjang.

Baca juga: TikTok Dalam Arus Krisis Palestina | Asumsi

Retno mengatakan, KPAI telah berkoordinasi dengan Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Provinsi Bengkulu terkait kasus MS ini. Dari koordinasi itu diperoleh informasi bila MS berusia 19 tahun. Itu artinya, MS sudah bukan termasuk kategori usia anak.

Berdasarkan kategori usia, KPAI diakui Retno tidak memiliki kewenangan atas kasus tersebut. Kewenangan KPAI adalah pada usia 0-18 tahun. “Namun demikian, kami berkonsentrasi dengan pemenuhan hak atas pendidikan karena MS seorang pelajar,” ujarnya.

Terkait dengan sanksi yang diterima MS, Retno mengatakan, seharusnya tidak harus sampai dikeluarkan dari sekolah. Terlebih MS sudah mengakui kesalahannya, meminta maaf dan menyesali perbuatannya.

“Jadi seharusnya MS diberi kesempatan memperbaiki diri, karena masa depannya masih panjang. KPAI juga memperoleh informasi bahwa MS mengalami masalah psikologis akibat dikeluarkan oleh pihak sekolah, bahkan takut bertemu orang lain,” tuturnya.

Terkait dengan masalah psikologis yang dialami MS, ia mengatakan, KPAI mendorong MS dibantu konseling oleh UPTD P2TP2A (Unit Pelaksana Teknis Daerah Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak) agar mendapatkan rehabilitasi psikologis.

“MS, yang sudah minta maaf dan menyesali perbuatannya, seharusnya memperoleh konseling dan pembinaan juga dari sekolah agar tidak mengulangi perbuatannya. Bukan dikeluarkan dari sekolah,” katanya.

Berkaca dari peristiwa yang dialami MS, Retno mengatakan, orang tua hendaknya bisa memetik pelajaran terkait penggunaan media sosial oleh anak. “KPAI mendorong para orangtua untuk mengedukasi dan mengawasi anak-anaknya dalam menggunakan media sosial,” ujarnya.

Baca juga: Konten TikTok "Persalinan" Dokter Kevin Samuel Dinilai Melecehkan | Asumsi

Langgar Tata Tertib

Sebelumnya, dalam video yang beredar, terlihat wajah MS secara close-up mengeluarkan kata-kata kasar tentang Palestina. Video yang menjadi viral itu kemudian membuat Dinas Cabdin Pendidikan Wilayah VIII Kabupaten Benteng menggelar rapat dengan pihak sekolah tempat MS belajar. Hasil rapat itu adalah keputusan bahwa MS dikeluarkan dari sekolah.

Kepala Cabdin Pendidikan Wilayah VIII Kabupaten Bengkulu Tengah, Adang Parlindungan, menyatakan bahwa tindakan yang dilakukan MS sudah melanggar tata tertib. “Keputusan ini kita ambil karena memang pihak sekolah sudah melakukan pendataan terhadap tata tertib poin pelanggaran MS. Dari data poin tata tertib poin itu diketahui kalau MS, poin tata tertib MS sudah melampaui dari ketentuan yang ada,” ujarnya sebagaimana dilansir dari Antara, Selasa (18/5/2021).

Setelah keputusan itu keluar, MS dan orang tuanya sempat melakukan pertemuan dengan pihak sekolah dan tokoh masyarakat setempat. Saat itu MS meminta maaf dan mengaku menyesali perbuatannya yang telah menghina Palestina.

“Saya minta maaf atas perbuatan saya. Baik kepada warga Palestina maupun seluruh warga Indonesia,” ujar MS.

Dilansir dari Kompas.com, Kapolres Bengkulu Tengah AKBP Ary Baroto mengatakan bila kasus hukum MS sudah selesai dan tidak dibawa ke ranah hukum. “Penyelesaian kasus ini kita lakukan dengan restorative justice, yang mana setiap penyelesaian permasalahan tidak selalu diselesaikan dengan pidana,” tuturnya.

Share: Dikeluarkan dari Sekolah Karena Hina Palestina di TikTok, KPAI: Sanksi Tak Mendidik