Covid-19

Jokowi Singgung Malaysia dan Singapura Lockdown, Epidemiolog: Indonesia Fokus Tracing-Testing

OlehRay

featured image
Foto: Biro Pers Setpres

Presiden Joko Widodo (Jokowi) blak-blakan mengungkapkan ketakutan Covid-19 bakal mengganas di Indonesia, menyusul negara-negara di Asia Tenggara yang kembali menerapkan lockdown.

Terlebih belakangan diprediksi ada ya kemungkinan ledakan kasus Covid-19 setelah libur Hari Raya Idulfitri pekan lalu. Terus Indonesia bakal ikutan lockdown enggak, Pak Jokowi?

Singgung Kenaikan Kasus dan Wisma Atlet

Dalam arahan kepada kepala daerah se-Indonesia, Jokowi mengingatkan pentingnya mewaspadai ancaman gelombang kedua dan gelombang ketiga pandemi di Tanah Air.

Baca juga: Jokowi: Vaksin Gotong Royong Baru Tersedia 420 Ribu Dosis | Asumsi

"Di negara-negara tetangga kita juga sudah mulai melonjak drastis. Malaysia sudah lockdown sampai Juni. Singapura juga sudah lockdown sejak Mei dan semakin ketat pada minggu-minggu kemarin. Kita harus melihat tetangga-tetangga kita," ujar Jokowi seperti disiarkan kanal YouTube Sekretariat Presiden, Senin (17/5/2021).

Ia mengingatkan pentingnya menjaga ketahanan melawan pandemi yang tidak mungkin selesai dihadapi dalam jangka waktu satu atau dua bulan.

Namun, Presiden tak menyampaikan peluang Indonesia juga bakal ikutan lockdown bila kasus Corona tak terkendali. Jokowi hanya mengingatkan sejumlah provinsi yang mengalami kenaikan kasus Covid-19, yakni Aceh, Sumatera Barat, Jambi, DKI Jakarta, Maluku, Banten, Nusa Tenggara Barat (NTB), Maluku Utara, Kalimantan Tengah, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, dan Gorontalo. 

"Kelihatan dalam grafiknya, kurvanya semuanya kelihatan, sekarang kita tandai merah dan hijau," ucapnya

Kepala Negara juga mengaku terkejut saat mengetahui tingkat keterisian tempat tidur di fasilitas darurat Wisma Atlet pernah menembus persentase di atas 90%.

Saat ini, berdasarkan laporan yang diterimanya, keterisian tempat tidur di sana berada pada angka 15,5%. Tingkat keterisian tempat tidur di rumah sakit untuk pasien Covid-19 dipastikan ya juga masih terkendali. 

"Tapi ada beberapa provinsi di atas 29% dan ada yang masih di atas 50%. Jadi tolong semua gubernur, bupati, walikota, tau angka-angka ini," tandasnya.

RI Diyakini Tetap Hindari Lockdown

Epidemiolog Universitas Airlangga, Windhu Purnomo menilai ucapan Jokowi yang menyinggung soal langkah lockdown yang diambil Malaysia dan Singapura tak serta merta menjadi sinyal Indonesia bakal mengambil tindakan serupa.

Baca juga: Cerita Pilu Desa Basi Hadapi Pandemi, Pakar Khawatir Terjadi di Indonesia | Asumsi

Pasalnya, opsi lockdown atau karantina wilayah yang mengharuskan pemerintah memberikan bantuan sosial kepada seluruh lapisan masyarakat tanpa terkecuali, masih terasa memberatkan.

"Kalau mau ambil lockdown itu betul dan bagus, tapi pertanyaannya, gimana kemampuan anggaran pemerintah pusat? Soal kebijakan kita memang pinter banget bikin dan ngomongnya, tapi pas implementasi enggak ada apa-apanya," kata Windhu saat dihubungi Asumsi.co melalui sambungan telepon, Rabu (19/5/21).

Meski peluang pemerintah mengambil keputusan lockdown tingkat wilayah atau provinsi sangat kecil, namun dirinya mengharapkan agar kebijakan yang diambil pemerintah tak sembrono jika kasus Covid-19 di RI meledak lagi.

"Opsi lockdown sih akan tetap dihindari sekali pun terjadi lonjakan kasus. Harapannya tentu langkah yang diambil tidak terkesan ingin ketat, tapi banyak kelonggaran kayak kebijakan mudik kemarin. Ini kan, kelihatan abal-abalnya," tuturnya.

Ia menyebut, semestinya yang kini harus menjadi fokus pemerintah adalah memaksimalkan upaya pengetesan (testing) dan pelacakan (tracing).

Share: Jokowi Singgung Malaysia dan Singapura Lockdown, Epidemiolog: Indonesia Fokus Tracing-Testing