Bisnis

Glitch dan Botxcoin Ramaikan Pasar Kripto Indonesia

OlehIlham Anugrah

featured image
unsplash

Tren Bitcoin membuat bermunculan mata uang digital baru. Tidak terlepas di Indonesia yang juga memiliki sejumlah koin atau mata uang digital dari penerbit lokal. Selain itu pertumbuhan jumlah masyarakat yang berdagang koin digital ini juga bertumbuh pesat dalam beberapa tahun terakhir. Dengan pertumbuhan itu dengan sendirinya jumlah pemain awam yang rentan jadi korban penipuan pun meningkat.

CEO Indodax Oscar Darmawan mengatakan kepada Asumsi bahwa jumlah anggota bursa kripto dan Bitcoin Indonesia per bulan Mei lalu telah mencapai tiga juta anggota aktif. "Data laporan tersebut menunjukkan bahwa investor di Indonesia memanfaatkan publikasi berita, analisa teknis, dan diskusi grup Telegram, untuk membantu mereka mengambil keputusan investasi," ujarnya.

Munculnya berbagai uang kripto buatan Indonesia dikarenakan dilihat animo masyarakat dan pangsa pasarnya cukup tinggi di Indonesia. Jika berbicara tentang pasar, beberapa pelaku industri aset kripto dari negara lain pun mulai masuk ke Indonesia berkat keyakinan bahwa negara ini memiliki pasar yang cukup potensial di masa mendatang. Itulah mengapa mulai bermunculan mata uang digital karya Indonesia yang sementara ini ada setidaknya delapan.

Aset Kripto Lokal Semakin Banyak

Kini muncul Glitch (GLCH) yang belum lama ini sudah terdaftar di aplikasi penjualan kripto di Indonesia. CEO Glitch Sean Ryan mengatakan, Glitch dibangun untuk mendukung dan menyediakan kerangka kerja untuk aplikasi keuangan terdesentralisasi.

“Ini bertujuan untuk menjadi solusi yang dapat diskalakan, memberikan peningkatan yang akan memungkinkan proses ribuan transaksi setiap detik,” katanya saat dihubungi Asumsi, Kamis (8/7/2021).

Baca juga: Tak Melulu dari Luar Negeri, Ini Uang Kripto Asal Indonesia

Sebagai protokol DeFi (decentralized finance), Glitch menawarkan platform kontrak pintar untuk memfasilitasi aplikasi terdesentralisasi (dApps).

Menurut Sean, mayoritas ekosistem dApps tidak dibangun untuk komunitas. Glitch memiliki target untuk memecahkan itu dan membangun sistem DeFi terfokus baru yang mengizinkan setiap partisipan mendapat hadiah dan berinteraksi dengan protokol secara virtual tanpa biaya. Glitch juga sempat bekerja sama dengan Polygon yang awalnya dikenal dengan nama MATIC.

Setelah Glitch, muncul botXcoin yang baru diluncurkan oleh influencer kenamaan Indra Kesuma. Indra yang juga sebagai CEO & Co-Founder botXcoin beralasan bahwa tren investasi pada mata uang digital semakin hari diminati, bahkan kripto dan bitcoin digadang-gadang akan menjadi investasi masa depan. Maka dari situlah, ia berkeinginan untuk membuat botXcoin.

Setelah diluncurkan, botXcoin pun didaftarkan di situs referensi koin kripto Coinmarketcap.com. Tak cuma itu, di Indonesia botXcoin menduduki rangking 1 uang crypto dan masuk dalam 223 rangking teratas di dunia.

“Selama tiga tahun, botXcoin telah mengalami kenaikan hingga 4.000% dan menjadi bukti bahwa botXcoin telah berhasil menjadi Crypto Anak Bangsa yang membanggakan,” katanya, dari keterangan yang diterima Asumsi, Kamis (8/7/2021).

Pembeli Aset Kripto harus Jeli

Sekretaris Asosiasi Perdagangan Aset Kripto (Aspakrindo) mengatakan bahwa munculnya asset kripto yang baru dari Indonesia itu sangat baik yang artinya semua pihak sudah mulai memahami manfaat dari pencatatan system blockchain.

Ia mengingatkan bahwa ada baiknya juga sebelum pengguna mencoba untuk memiliki asset tersebut harus jeli memilih dengan melihat kegunaan dari asset kripto tersebut.

“Semua asset kripto pada dasarnya memiliki tujuan yang baik, namun di perjalanan bisa saja berubah seperti projek yang di-develop gagal dan sebagainya,” katanya saat dihubungi Asumsi, Kamis (8/7/2021).

Baca juga: Nilainya Merosot, Inilah Sederet Risiko Mata Uang Kripto!

Ketua Satgas Waspada Investasi (SWI) Tongam L. Tobing menekankan bahwa mata yang kripto bukanlah produk jasa keuangan, sehingga masyarakat yang ingin berdagang atau berinvestasi aset kripto ini harus sangat berhati-hati karena tidak masuk dalam pengawasan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Ia mencontohkan kasus komunitas EDC Cash yang diduga telah merugikan 57.000 nasabahnya dengan investasi bodong uang kripto. Komunitas tersebut menjanjikan para anggotanya hasil penambangan (mining) 0.5% per hari atau sekitar 15% per bulan.

“Namun yang terjadi, meskipun aset kriptonya ada, itu tidak dapat ditransaksikan atau tidak bisa dijual karena tidak ada permintaan,” katanya, saat dihubungi Asumsi, Kamis (8/7/2021).

“Ekspektasi sebagian orang terhadap aset kripto adalah investasi dengan imbal hasil tinggi. Namun di sisi lain, bagi masyarakat yang tidak paham justru menjadi sasaran pelaku penipuan,” katanya.

Share: Glitch dan Botxcoin Ramaikan Pasar Kripto Indonesia