Internasional

Bukan Pakol atau Kurta, Sepatu Ini Lebih Identik dengan Taliban

Irfan — Asumsi.co

featured image
Foto: Jim Huylebroek/The New York Times

Dalam gambaran umum, kita mengenal milisi Taliban dalam balutan topi pakol khas Afghanistan atau baju kurta dan rompi. Beberapa mengenakan serban besar di kepala, khas para Mullah lulusan madrasah-madrasah Deobandi, Pakistan. Namun ada yang sering luput kita perhatikan, yakni alas kaki.

Mungkin terdengar sederhana, tetapi bagi milisi Taliban, alas kaki justru punya tempat lebih sebagai identitas khusus ketimbang gambaran umum di atas yang sebenarnya dapat dengan mudah kita temukan di sekitar Afghanistan. Punya merek Cheetah, sepatu produksi Servis Shoes–salah satu perusahaan sepatu terbesar di Pakistan–itu sudah menjadi semacam boots Dr. Martens untuk subkultur Skinhead di akhir ‘60-an atau Converse Chuck Taylor, untuk kancah musik alternatif di dekade ‘90.

Mengutip Seattle Times, sepatu kets ini sudah lekat dengan para milisi, sejak Afghanistan didera kecamuk perang panjang dengan Uni Soviet. Popularitasnya masih juga melekat saat negara di Asia Selatan itu diinvasi oleh Amerika Serikat pada 2001.

Seattle Times menyebut, Cheetah yang punya corak hijau-kuning dengan warna dominan putih itu, punya jejak panjang dalam debu dan darah yang berceceran di sana. Tak heran kalau kemudian, sepatu ini menjadi identik dengan kekerasan.

“Saya telah melihat sepatu ini dipakai oleh Taliban berkali-kali,” kata Mar Jan, seorang penduduk kota Khost di pegunungan timur Afghanistan.

Dimulai Awal Dekade 80

Sebetulnya, awal Cheetah diproduksi, ia tak hanya populer di kalangan milisi Taliban. Diperkenalkan di awal dekade 80, Sarwees–pengucapan orang lokal untuk merek Servis–sering digunakan oleh para atlet di Pakistan. Ketika masuk ke Afghanistan di tengah kecamuk perang, sepatu yang dikenal ringan ini mulai digunakan oleh banyak orang yang berkecimpung di dalamnya. Anggota milisi pemerintah, beberapa pasukan keamanan, hingga penjahat membeli dan memakainya.

Baca Juga: Ingkar Janji Taliban: Perempuan Dibakar Hingga Anak Kecil Dicambuk | Asumsi

Brigadir Jenderal Khair Mohammad Timor, mantan komandan pemberontak yang memerangi pemerintah Afghanistan yang didukung Komunis dan Taliban sebelum menjadi kepala polisi pada 2011, mengenang bahwa lebih dari 30 tahun yang lalu, atasannya memerintahkan para pasukan untuk membeli sepatu tersebut agar terlihat lebih profesional. Mereka lantas menjadikan itu sebagai tradisi dalam medan perang Afghanistan, yang seolah tak berkesudahan.

Tetapi, ketika pasukan AS menyerbu ke Afghanistan pada tahun 2001, sepatu itu dengan cepat dikaitkan dengan Taliban. Dimulai ketika kelompok bentukan Mullah Omar ini menguasai Afghanistan pada 1996.

“Sebagian besar waktu, kami memakai sepatu putih, dan warna putih itu menandakan perdamaian,” kata Najibullah Aqtash, komandan lokal Taliban di provinsi Kunduz.

Ia juga mencatat bahwa, putih merupakan warna bendera Taliban. Sementara Pasukan AS menyebut, sepatu kets itu sebagai Haqqani High-Tops. Saking lekatnya sepatu ini dengan Taliban, pasukan AS kerap memberhentikan dan menanyai orang yang memakainya.

Dari yang Asli sampai Palsu

Saat ini, sepatu tersebut berharga sekitar $13 hingga $25 atau sekitar Rp187-360 ribuan, tergantung di mana mereka dijual. Di pasaran Afghanistan, ada juga sepatu Servis tiruan buatan China yang punya kualitas lebih buruk dari yang asli. 

Perbedaan ini tentunya juga mempengaruhi harga. Selain model high-top, Cheetah juga punya model low-top berwarna hitam.

Baca Juga: Seberapa Jauh Klaim Moderasi Taliban Bisa Dipercaya? | Asumsi

Biasanya, para milisi Taliban yang berdomisili di kota membeli sepatu ini dengan mendatangi langsung toko yang menjualnya. Namun, buat yang ada di daerah, mereka biasa mengirim sopir taksi atau rekanan ke pusat kota untuk membelinya dalam jumlah besar dari vendor lokal.

Sepatu ini sangat laku di musim dingin. Seorang pedagang sepatu di Distrik Mazar-i-Sharif, kota terbesar keempat di Afghanistan yang berada di Provinsi Balkh, mengatakan di musim dingin, ia bisa menjual 300 pasang Cheetah dalam sebulan.

Di situasi perang, terutama buat milisi yang bergerilya di pegunungan, sepatu Cheetah bahkan laku sepanjang tahun.

Kira-kira dua tahun lalu, seorang komandan tinggi Taliban mengingat ia membeli 200 pasang Cheetah di Jalalabad, salah satu kota yang ramai di Timur Afghanistan. Digunakan dalam operasi melawan ISIS yang bercokol di wilayah Kunar, pembelian ratusan pasang Cheetah ini ditujukan agar pasukannya bisa bertempur dengan nyaman.

Share: Bukan Pakol atau Kurta, Sepatu Ini Lebih Identik dengan Taliban