Isu Terkini

Masyarakat Borong Susu Beruang, Ini Pendapat Sosiolog dan Ahli Gizi

OlehIrfan Muhammad

featured image

Pelaksanaan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat sejak 3 Juli kemarin mengulang lagi kepanikan masyarakat yang sempat terasa di awal Pandemi Covid-19. Jika sebelumnya hand sanitizer dan masker diborong habis, kini masyarakat memborong Susu Beruang.

​Salah satu fenomena panic buying ini direkam dalam sebuah video yang beredar di sosial media, Sabtu (3/7/2021). Pada video berdurasi dua puluhan detik itu, tampak orang berlari memperebutkan susu beruang di sebuah pusat perbelanjaan grosir.

​Mereka tampak berlarian dan mengambil beberapa dus susu yang ditumpuk di dekat barang kebutuhan pokok lainnya. Saking rusuhnya, sampai ada dus susu yang jatuh hingga trolley yang terbalik karena pembeli lain tak sabar menunggu dan takut kehabisan.

Saking tingginya permintaan masyarakat terhadap susu beruang, saat ini ada beberapa pedagang nakal mengambil keuntungan lebih dengan menaikan harga. Dalam sebuah video lain, seorang pedagang menyebut susu ini diburu pembeli meski dirinya sudah memasang harga lebih mahal dari harga aslinya.

Baca Juga : Menelaah Kandungan Kelapa Muda Sebagai Penangkal COVID-19

Saking tingginya permintaan masyarakat terhadap susu ini, Nestle Indonesia akan mengoptimalkan produksi susu Bear Brand selama tingginya lonjakan kasus COVID-19 di Indonesia.

"Kami melakukan yang terbaik yang kami bisa, guna memenuhi permintaan para konsumen akan produk-produk kami untuk mengotimalkan kapasitas produksi dan rantai pasokan, terutama untuk produk susu Bear Brand," ujar Direktur Corporate Affairs Nestle Indonesia Debora R. Tjandrakusuma dalam keterangannya, Minggu (4/7/2021).

Kok Bisa Begitu?

​Sosiolog Universitas Indonesia Rissalwan Habdy Lubis menilai, panic buying dalam sosiologi disebut juga sebagai sebuah social conformity. Artinya, suatu perilaku kelompok yang disadari atau tidak melakukan gerak kolektif yang dipicu oleh tindakan sosial seseorang yang berpengaruh.

​"Dalam kasus Bear Brand ini, hal yang berpengaruh bisa saja adalah influencer yang kemudian meluas melalui media sosial," kata Rissalwan kepada Asumsi, Minggu (4/7/2021).

​Dalam momen pandemi, hal ini tak dimunkiri berulang kali terjadi. Selain Bear Brand, beberapa produk yang sempat jadi incaran dan langka hingga mahal di pasar di antaranya hand sanitizer, masker, jamu empon-empon, hingga obat-obatan yang dipromosikan sebagai obat anti-Covid.

Ketidakpastian situasi membuat orang dengan mudah percaya dan ikut arus membeli satu barang tertentu yang dipromosikan tadi.

​"Saat ini memang sudah era post-truth. Publik sangat mudah disetir dengan isu tertentu," kata dia.

​Menanggulangi ini, memang salah satu solusinya adalah berharap pada kesigapan pemerintah terutama Kementerian Komunikasi dan Informatika. Menurutnya, pemerintah bisa melakukan counter-issue pada kabar yang beredar di masyarakat dan berpotensi menyebabkan panic buying tadi.

​"Caranya bisa memproduksi konten informasi yang meluruskan pemicu panic buying tersebut. Seperti misalnya menjelaskan bahwa semua jenis susu punya manfaat yang sama, sehingga publik tidak berfokus pada satu merek saja," ucap dia.

Lalu Apakah Cuma Susu Beruang Yang Punya Khasiat?

​Pengajar dan peneliti gizi dari Universitas Gajah Mada Rahadyana Muslichah menyebut kalau produk susu kemasan yang beredar di pasaran sebetulnya punya kandungan vitamin dan mineral yang sama.

Meski kadarnya bervariasi antara satu merek dengan merek lainnya.

Baca Juga : Tabung Oksigen Langka, Waspada Panic Buying dan Penimbunan Massal

​Lagi pula, untuk meningkatkan daya tahan tubuh, tidak hanya bergantung pada produk susu saja. Banyak juga produk lain seperti tablet suplemen yang dijual bebas di pasaran dan punya kandungan vitamin serta mineral yang tak kalah banyak.

​"Kalau di merek susu lain kurang vitamin tertentu, misal enggak ada vitamin C, ya puter otak aja, kan suplemen sumber vitamin C gak cuma susu aja," kata perempuan yang akrab disapa Icha ini melalui akun media sosial Twitter-nya.

​Perempuan yang juga mengampu kanal Podcast Beyond Nutrition ini mengatakan tak ada masalah jika seseorang sangat menyukai satu merek tertentu sebagai suplemen selagi kandungan gizinya terkonfirmasi betul.

Namun, ketika barang tersebut langka dan kalau pun ada harganya menjadi sangat mahal, maka sebetulnya kandungan yang sama bisa didapat pula pada produk dengan merek lainnya.

​"Toh yang dicari utamanya kandungan gizinya kan?," kata dia.

​Ia juga mengingatkan agar publik tidak terjebak paradigma bahwa minum susu adalah kewajiban untuk sehat. Susu memang jadi opsi penambah asupan gizi yang belum tercukupi dari makanan utama.

Namun kandungan dalam susu juga bisa ditemukan di bahan makanan lain meski dalam jumlah takaran yang berbeda.

​"Dan meminum susu berkaleng-kaleng sehari tidak terus menjamin kita enggak kena Covid," kata dia.​

Share: Masyarakat Borong Susu Beruang, Ini Pendapat Sosiolog dan Ahli Gizi