Covid-19

Bedah Plastik di Korsel Meningkat Meski Pandemi, Terobsesi Penampilan Fisik?

Irfan Muhammad– Asumsi.co

featured image
Unsplash/Joeyy Lee

Pandemi Covid-19, yang menyapu seluruh negeri sejak tahun 2020 lalu, telah memporakporandakan banyak sendi kehidupan, termasuk ekonomi. Namun siapa sangka kalau pandemi jadi keuntungan tersendiri bagi jasa operasi plastik di Korea Selatan?

Lee Se-hwan, seorang ahli bedah plastik di distrik mewah Gangnam, kawasan ibu kota Seoul, misalnya, mengaku bahwa pandemi telah membuatnya cukup sibuk. Pasalnya, dengan sejumlah pengetatan aturan kesehatan pencegahan Covid-19, banyak orang Korea Selatan beranggapan bahwa itu adalah waktu yang tepat untuk mengubah tampilan wajah mereka dengan operasi plastik. 

Dikutip dari Washington Post, dokter dan banyak pihak lainnya di kerajaan operasi plastik Korea Selatan yang terbesar di dunia, menemukan ceruk yang dinilai mustahil selama pandemi ini berlangsung. Jika jasa serupa seperti mode dan salon telah menerima pukulan besar dari karantina dan peralihan ke kerja dari rumah, maka klinik bedah kosmetik dan kulit di Korea Selatan mencatat lonjakan pasien.

Berdasarkan survei yang dilakukan oleh Hana Institute of Finance di Seoul, penerimaan jasa bedah plastik di Korea Selatan naik 10 persen dalam 10 bulan pertama tahun 2020 dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Angka ini diisi hanya oleh pasien domestik, tanpa pasien mancanegara yang selama ini sering berbondong-bondong ke Korea Selatan untuk menerima jasa bedah plastik.

Baca juga: Heboh Foto Ratna Sarumpaet, Wajah Bengkak Setelah Operasi Plastik Ternyata Hal Wajar | Asumsi

Kepada Washington Post, Lee mengatakan, kewajiban penggunaan masker saat keluar rumah dimanfaatkan oleh orang untuk menyelesaikan pekerjaan bedah plastik di wajah mereka. Selain itu, selama pandemi, orang juga berdiam diri di rumah dan tidak banyak kesempatan atau keinginan untuk berolahraga sehingga menimbulkan timbunan lemak di badan.

Beberapa jasa operasi plastik yang best-seller di masa pandemi ini adalah operasi hidung dan perawatan kerutan di antara orang tua. "Apa lagi yang sedang musim? Pengangkatan kelopak mata atau kantung mata, perubahan kontur tubuh dan sedot lemak," kata Lee.

Selain itu, kata Lee, beberapa orang Korea Selatan, terutama perempuan, menjadi lebih sadar diri tentang garis atau kantong di sekitar mata mereka. Soalnya, bagian itu menjadi yang paling terekspos saat seseorang mengenakan masker.

“Setelah facelift, pasien perlu menyisihkan waktu untuk pemulihan,” ujarnya. “Sejak pandemi, pasien tak perlu libur sepekan lagi karena mereka dapat menghabiskan waktu itu dengan bekerja dari rumah.

Dalam catatan Washington Post mengenai beberapa klinik bedah plastik di Amerika Serikat, ada fenomena yang disebut dengan efek Zoom. Efek ini merujuk kepada seseorang yang melihat tampilan dirinya kala berbincang dengan orang lain lewat aplikasi Zoom.  Ini membuat sebagian orang stres karena melihat kerutan atau ketidaksempurnaan pada tampilan wajah mereka.

Di sisi lain, s
alah seorang pasien Lee, perempuan 30 tahunan bermarga Kim, menyebut alasan melakukan bedah plastik di masa pandemi karena punya budget lebih sebagai imbas dari batalnya rencana liburan ke luar negeri karena pandemi Covid-19.

"Saya telah mempertimbangkannya selama lima tahun terakhir, dan tahun pandemi ternyata adalah waktu yang tepat," katanya.

Baca juga: Unggah Cerita Layanan Klinik Kecantikan, Stella Malah Dijerat UU ITE | Asumsi

Kim memiliki apa yang dikenal di Korea Selatan sebagai "operasi bangsawan", yakni penghapusan garis tawa yang dia yakini membuatnya terlihat lebih tua.

“Dokter saya mengatakan, biasanya butuh sepekan untuk pemulihan pascaoperasi, tapi saya sebenarnya bisa pergi bekerja sehari setelah operasi karena saya memakai masker di kantor sepanjang hari,” katanya. "Garis tawa saya pulih di balik masker saat saya bekerja."

Kim mengatakan, dia dan rekan-rekannya kini semakin banyak berbagi informasi tentang operasi plastik, termasuk rekomendasi tentang ahli bedah atau klinik yang baik.

"Sekarang saya telah pulih sepenuhnya dari operasi bangsawan. Saya benar-benar berpikir untuk mendapatkan facelift baru sebelum pandemi selesai," katanya.

Obsesi Fisik

Korea Selatan memiliki jumlah ahli bedah plastik tertinggi kelima di dunia, dengan lebih dari 2.500 pada tahun 2019, menurut International Society of Aesthetic Plastic Surgery. Lee Eun-hee, seorang profesor studi konsumen di Universitas Inha, Incheon, mengatakan, tingginya permintaan bedah plastik di Korea Selatan mencerminkan obsesi negara terhadap penampilan fisik. 

“Gadis-gadis saat ini tumbuh dengan melihat bintang K-pop yang terlihat seperti boneka hidup, dan iklan operasi plastik menargetkan perempuan muda remaja,” katanya.

Dalam masyarakat yang sangat kompetitif di Korea Selatan, katanya, perempuan menghadapi begitu banyak tekanan untuk tampil baik sehingga seolah-olah mereka berada dalam kontes kecantikan berskala nasional.

"Perempuan Korea menemukan bahwa ketampanan memberi mereka pengaruh yang menentukan, tidak hanya di pasar kencan dan pernikahan, tetapi juga di pasar kerja," katanya.

Selain itu, katanya, orang-orang saat ini menebus peluang perjalanan yang hilang dengan mengeluarkan uang untuk hal-hal yang dapat dilakukan di rumah. Dan operasi plastik adalah item "puncak" yang bisa dilakukan.

Permintaan bedah plastik dari warga Korea Selatan biasanya banyak dilakukan pada musim liburan, seperti musim panas dan musim dingin, serta sebelum dimulainya tahun akademik perguruan tinggi. Namun selama pandemi, permintaan menyebar sepanjang tahun.

Share: Bedah Plastik di Korsel Meningkat Meski Pandemi, Terobsesi Penampilan Fisik?