Isu Terkini

Akal-akalan Babi Ngepet di Depok, Apa yang Bikin Orang Percaya?

OlehIrfan Muhammad

featured image
Unsplash/Annie Spratt

Geger kabar babi ngepet di Depok seketika runtuh oleh pernyataan Polisi yang menyebut kalau kejadian itu hoaks belaka. Dikutip dari Kumparan, Kamis (29/4/2021), Kapolres Metro Depok Kombes Imran Edwin Siregar menyatakan jika isu babi ngepet adalah rekayasa seorang warga bernama Adam Ibrahim (44).

Adam, kata Imran, sengaja mengembuskan kabar bohong itu sekaligus membuat cerita soal kehilangan uang agar warga yakin akan keberadaan babi jadi-jadian.

Mengutip Kompas, Adam bekerja sama dengan kurang lebih delapan orang lainnya dan menyusun skenario rapi. Babinya sendiri dipesan secara online oleh Adam dan dibeli dengan harga Rp 900.000.

Baca juga: Babi Ngepet di Depok Cuma Tipu-tipu, Polisi Sudah Tetapkan Tersangkanya | Asumsi

Setelah tiba, babi itu dilepas di dekat rumahnya, sebelum kemudian mereka tangkap lagi. Orang yang membunuh dan mengubur babi itu juga sudah termasuk dalam skenario, termasuk upaya memviralkannya

Ketika kabar makin menyeruak, cerita bohong lainnya makin berkembang di masyarakat. Mulai dari ditangkap dengan kondisi penangkap harus bugil, adanya tasbih dan ikatan kepala di babi tersebut, hingga tuduhan babi ngepet itu adalah praktik yang dilakukan oleh seorang warga yang mendamba kekayaan.

Namun, berdasarkan penelusuran Asumsi.co, tak ada satu pun kabar-kabar tersebut yang bisa dibuktikan. Bahkan, seorang perempuan yang mengaku mengetahui siapa warga yang menjelma menjadi babi ngepet itu terakhir malah meminta maaf atas perkataan sesumbarnya.

Adam saat ini sudah ditangkap. Polisi menjeratnya dengan Pasal 10 ayat 1 atau 2 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana. AI terancam kurungan 10 tahun penjara. Sementara itu, delapan rekan Adam saat ini masih diproses polisi.

Berulang

Di Depok sendiri, klaim masyarakat atas penemuan seekor babi yang dinyatakan sebagai babi jadi-jadian bukan cuma sekali. Dalam catatan Asumsi.co, selama lima tahun terakhir saja ada dua kejadian serupa, yakni pada 2008 dan 2020 lalu. Padahal, klaim-klaim itu tak bisa dibuktikan.

Baca: Mitos Babi Ngepet, Ini yang Membuatnya Identik dengan Ilmu Hitam | Asumsi

Dirjen Bimbingan Masyarakat (Bimas) Islam, Kementerian Agama (Kemenag) Kamaruddin Amin dalam keterangannya, Kamis (29/4/2021) menyebut bahwa fenomena babi ngepet hanyalah sebuah mitos. Menanggapi hal ini, masyarakat pun diimbau untuk berpikir realistis dan rasional.

"Sebaiknya masyarakat tidak mudah percaya terhadap hal-hal mistis, asumsi terkait babi ngepet tidak bisa dibuktikan secara ilmiah, bahkan mitos yang sebaiknya dihindari agar tidak meresahkan dan membuat kegaduhan di masyarakat," kata Kamaruddin.

Kamaruddin menilai fenomena babi ngepet kerap kali muncul di masyarakat di bulan Ramadan. Sebab, intensitas ritual keagamaan umat di bulan ini sangat tinggi.

"Spiritualitas sangat terasa sehingga hal mistis atau mitos dalam hal tersebut," kata dia.

Senada, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) juga menegaskan kalau tidak ada yang namanya babi ngepet. Peneliti Pusat Penelitian Biologi LIPI, Profesor Gono Semiadi, mengutip detik saat mengomentari penemuan babi aneh di Sumatera Selatan tahun lalu berujar, secara keilmuan babi ngepet tidak ada.

"Babi ngepet memang nilai budaya yang banyak dipercaya di banyak wilayah Indonesia. Tetapi secara keilmuan ya tidak ada apalagi dikaitkan dengan hilangnya uang," kata Prof. Gono.

Peneliti bidang zoologi dari Pusat Penelitian Biologi LIPI, Taufiq Purna Nugraha, meyakini babi yang ditangkap warga adalah babi hutan. Namun ia tak mengetahui apakah babi tersebut kabur dari lingkungan sekitar.

"Secara wujud sih babi, babi kecil, babi pradewasa. Babi hutan, itu bukan jenis yang diternakkan," kata Taufiq.

Lalu Kenapa Terus Dipercaya?

Dalam arsip Liputan6, pakar kebudayaan dan mitologi Jawa asal Universitas Indonesia (UI), Prapto Yuwono menyebut fenomena dunia lain atau gaib seperti babi ngepet, santet, dan lainnya bakal selalu muncul jika kondisi ekonomi, sosial kemasyarakatan, termasuk politik, mengalami kemunduran. Terutama, bagi masyarakat yang berubah menjadi irasional lantaran tak bisa mencari penyelesaian masalah kehidupannya.

Dikutip dari BBC, para psikolog menilai bahwa beberapa manusia memang tidak dapat melepaskan diri dari takhayul dan cerita rakyat lama. Saat manusia memercayai hal semacam itu, timbul perasaan yang menguntungkan dan seseorang memiliki cukup alasan untuk memahami suatu kejadian.

Ini selaras dengan kebutuhan otak manusia yang selalu berusaha mencari jawaban dan makna di balik peristiwa. Kepercayaan pada paranormal ini diyakini menjadi semacam perisai untuk mencari jawaban, misalnya saja saat terjadi kematian, kehilangan pekerjaan, bencana alam, dan sebagainya

Share: Akal-akalan Babi Ngepet di Depok, Apa yang Bikin Orang Percaya?