General

Dari Inggris Sampai AS, Ini Kasus Pencucian Uang Bitcoin yang Perlu Kamu Tahu

OlehRay

featured image
Foto: The Verge

Kejahatan tindak pidana pencucian uang (TPPU) menggunakan Bitcoin kian menjadi masalah hukum baru di dunia internasional. Nilai kasusnya yang fantastis bikin perkara ini mencuri perhatian publik. Ini dia deretan kasus pencucian menggunakan bitcoin yang bikin geger yang perlu kamu tahu!

Pencucian Bitcoin Senilai Rp2 Triliun di Inggris

Baru-baru ini, pihak Kepolisian Metropolitan London melalui Komando Kejahatan Ekonomi Scotland Yard menyita Bitcoin senilai 114 juta poundsterling atau sekitar Rp 2,2 triliun. 

Melansir Daily Mail, penyitaan dilakukan oleh mereka usai menerima laporan intelijen soal transfer aset kriminal dan investigasi terkait kasus TPPU. Penyitaan Bitcoin itu disebut terbesar dalam sejarah Inggris.

Pihak kepolisian menyatakan, Bitcoin yang berhasil disita berjumlah dua kali lipat dari uang tunai yang telah disita tahun lalu dalam kasus pencucian uang ini.

"Scotland Yard dunia telah melakukan penyitaan Bitcoin terbesar dalam sejarah Inggris, menemukan £ 114 juta yang mengejutkan dalam akun tersangka kemarin," demikian disampaikan laporan berita.

Scotland Yard memastikan penyelidikan oleh penyelidik keuangan spesialis akan terus berlanjut sampai pelakunya dibawa ke pengadilan.

Baca juga: Indonesia Sumbang 1% Transaksi Bitcoin Dunia, Mulai Diminati? | Asumsi

Wakil Asisten Komisaris Graham McNulty mengatakan terungkapnya pencucian yang menggunakan Bitcoin dengan nominal yang mengejutkan ini, berawal saat polisi sedang mengusut kasus seorang kriminal yang berniat membawa kabur uang lebih dari 5 juta poundsterling pada Mei tahun ini.

"Polisi mengumumkan bahwa mereka telah melakukan penyitaan uang tunai terbesar setelah seorang kriminal yang dijuluki 'kantong uang'. Lebih dari £ 5 juta poundsterling ditemukan di bawah kasur, di lemari dan ditumpuk di lantai sebuah flat di London Barat," tuturnya.

Serejgs Teresko yang diduga merupakan pelaku, memiliki rekam jejak kriminal dipenjara selama sembilan tahun karena pencucian uang dan pelanggaran narkoba yang berkaitan dengan pabrik ganja besar di Virginia Water.

Berdasarkan barang bukti yang ditemukan, diduga pelaku merupakan bagian dari geng pencucian uang. Penyitaan Bitcoin bernilai besar ini bahkan sampai bikin detektif setempat kehabisan kata-kata. "Tidak seperti mata uang konvensional, Bitcoin sebagian besar ada secara online," ucap detektif.

Penyitaan Bitcoin USD 1 Miliar oleh Pemerintah AS

Kasus lainnya yang juga menggemparkan adalah penyitaan 1 miliar Dolar Amerika atau sekitar Rp14 triliun oleh pemerintah Amerika Serikat dari Silk Road, pasar kriminal daring pada November 2020.

Bila kasus di London adalah penyitaan Bitcoin terbesar di Inggris, The Verge melaporkan, Departemen Kehakiman AS menyebut penyitaan Bitcoin ini merupakan nominal terbesar dalam sejarah dunia.

Baca juga: Daftar Negara yang Menolak dan Menerima Transaksi Kripto | Asumsi

Pengacara AS David Anderson dari Distrik Utara California mengatakan Silk Road adalah pasar kriminal daring paling terkenal di masanya yang telah ditutup aksesnya saat ini.

Silk Road dikenal sebagai pasar jual beli obat-obatan serta barang ilegal yang transaksinya biasanya dilakukan secara anonim menggunakan mata uang kripto Bitcoin.

Pengungkapan kasus ini, berawal dari kerja sama  antara pemerintah dengan bantuan seorang peretas yang dijuluki "si X". Namun tak diungkapkan lebih lanjut soal kemungkinan "si X" terlibat dalam perkara ini dan ditahan polisi.

Bitcoin Dieksploitasi Para Pelaku Pencucian Uang

Melalui keterangan pers yang tertulis di situs Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) menyatakan menaruh perhatian terhadap penggunaan Bitcoun dalam kasus pencucian uang.

"Penggunaan Bitcoin bersifat desentralisasi, atau dapat digunakan tanpa otorisasi bank sentral di setiap negara. Bitcoin pun dapat menjadi alat transaksi, karena nilainya yang sangat diperhitungkan dalam dunia siber dalam jenis pembayaran barang legal hingga ilegal," demikian keterangan tertulis dari PPATK.

PPATK menyebut, Bitcoin seringkali digunakan pada beberapa situs ilegal dan aksesibilitas yang hanya bisa diakses melalui deep web hingga dark web

Hal ini, menurut mereka sangat mengancam bagi stabilitas serta perbankan legal yang ada di setiap negara. "Kesulitan tentu muncul pada saat dilakukannya pemeriksaan terhadap transaksi yang menggunakan bitcoin. Dengan dasar dunia cyber sebagai tempat bagi bitcoin, maka ancaman akan muncul bagi lembaga-lembaga pemeriksa transaksi keuangan," imbuhnya.

Baca juga: Tak Melulu dari Luar Negeri, Ini Uang Kripto Asal Indonesia | Asumsi

Bitcoin sebagai mata uang digital, tetap dapat disinggung di dalam penjelasan mengenai transaksi keuangan dalam Pasal 1 angka 4 UU No. 8 Tahun 2010, yaitu merujuk pada penerimaan, pentransferan, penyetoran, penarikan, pemindahbukuan, pembayaran, hibah, sumbangan, penitipan, dan/atau penukaran atas sejumlah uang atau tindakan dan/atau kegiatan lain yang berhubungan dengan uang. 

"MakaBitcoin seharusnya tetap dapat dipidanakan jika terkait dengan transaksi yang dilakukan," kata PPATK.

Meski demikian, belum terdapat regulasi yang secara sah mengatur tentang penggunaan Bitcoin sebagai mata uang virtual di Indonesia. Sebaliknya, kegiatan yang dapat dilakukan secara legal melalui Bitcoin hanya dalam bentuk investasi sehingga rentan terjadi tindakan pencucian uang di dalamnya. 

"Dalam konteks pencucian uang, teknologi dengan lanskap finansial seperti bitcoin dapat memfasilitasi tindakan tersebut," lanjut PPATK.

Perpindahan uang ke perbankan online dan teknologi yang memungkinkan adanya remote-desktop membuat manuver dan transfer dana dari akun ke akun jauh lebih populer bagi para pencuci uang. 

Dengan demikian, menurut mereka, Bitcoin bisa dapat dieksploitasi untuk memfasilitasi kejahatan dunia maya dan membantu para pelaku kejahatan lebih aman mencuci hasil kejahatannya. 

"Bitcoin adalah contoh mata uang kripto yang telah dieksploitasi karena anonimitas, keamanan, irreversibilitas, dan desentralisasi. Pada akhirnya, Bitcoin dapat berisiko dalam membentuk lingkaran dimana pelaku dan entitas kejahatan memiliki aliran dana yang konstan," ungkapnya.

Gimana Sih Bisa Ada Pencucian Uang Pakai Bitcoin?

Pakar Keuangan dari Tatadana Consulting, Tejasari Assad menilai aksi pencucian uang menggunakan Bitcoin belakangan memang semakin memprihatinkan.

"Aset kripto seperti Bitcoin ini digunakan untuk pencucian uang memang semakjn sering terjadi. Makanya ada negara seperti Tiongkok yang sangat protektif melarang transaksi warganya dengan mata uang kripto," katanya kepada Asumsi.co melalui sambungan telepon, Sabtu (26/6/21).

Ia menerangkan, biasanya pelaku pencucian uang dengan Bitcoin menggunakan berbagai cara, seperti menukarkannya dengan Altcoin, yaitu mata uang kripto yang cuma bisa dibeli dengan  Bitcoin. Altcoin yang menawarkan anonimitas dan biasanya digunakan untuk transaksi ilegal, seperti pencucian uang. 

“Kerahasiaan transaksinya in bisa menghilangkan jejak audit dalam buku besar blockchain. Jadi pelacakannya susah dilakukan," terangnya.

Namun saat ini, cara mendeteksi pecucian uang dengan menggunakan Bitcoin sudah diketahui banyak orang, bahkan pihak kepolisian. "Saya rasa polisi sudah tahu. Dan ini ke depan harus terus dicegah terjadinya pencucian uang memanfaatkan Bitcoin," kata dia. 

Share: Dari Inggris Sampai AS, Ini Kasus Pencucian Uang Bitcoin yang Perlu Kamu Tahu