Sains

Ada Samudera ke Lima, Greenpeace Ingatkan Perlindungan Ekosistem Samudera Selatan

OlehRay

featured image
Foto: Phil Christie/IODP

Selama ini kita tahu ada empat samudera di Bumi, yaitu Samudera Atlantik, Samudera Pasifik, Samudera Hindia, dan Samudera Arktik. Terkini, Bumi diketahui kalau ternyata punya samudera kelima, namanya Samudera Selatan.

Diumumkan National Geographic

Keberadaan Samudera Selatan ini diumumkan secara resmi oleh National Geographic melalui artikel di situsnya. Mereka menjelaskan alasan dinamakan Samudera Selatan karena badan kawasan perairannya yang mengelilingi Antartika.  

Ahli geografi National Geographic Alex Tait menjelaskan, diumumkannya Samudera Selatan, merupakan inisiatif National Geographic untuk menginformasikan, menginspirasi, dan mensosialisasikan kepada umat manusia agar lebih menjaga lingkungan hidup.

Ia mengungkapkan, sebelum mengumumkan samudera biasanya pihaknya menginformasikan perubahan peta dunia. "Lautan Kelima adalah contoh langka dari pembuat peta yang berupaya mengubah planet ini," ujarnya.

Tait menjelaskan alasan pentingnya konvensi penamaan samudera. Ia mengatakan, sebagai bagian dari pemetaan dunia digunakannya nama Samudera Selatan karena sejumlah pertimbangan, selain aspek geopolitik. 

"Lautan adalah salah satunya, jadi kami ingin melacak bagaimana ilmuwan, pelancong, penulis, orang menggunakan nama tempat itu," ujarnya.

Baca Juga: Benda Mirip iPhone di Lukisan Kuno, Benarkah Manusia Bisa Time Travel?

Meski National Geographic baru mengumumkan penamaan Samudera Selatan ini ke publik. Namun, sebenarnya wilayah fisik lautan di sekitar Antartika sudah lama disebut Samudera Selatan.

"Secara tradisional ada empat, Atlantik, Pasifik, India, dan Arktik. Tetapi selama bertahun-tahun, para ilmuwan dan lainnya telah menggunakan istilah Samudra Selatan untuk menggambarkan wilayah fisik lautan di sekitar Antartika," terangnya.

Suhu Lebih Dingin

Tait menggambarkan suhu di sekitar Samudera Selatan terasa lebih dingin dibandingkan 4 perairan lainnya, yakni Samudera Atlantik, Pasifik, dan Hindia.  Ilmuwan kelautan di National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) dan Explorer dari National Geographic, Seth Sykora-Bodie mengamini hal tersebut.

Tak hanya lebih dingin, ia menyebut situasi alamnya lebih mencekam dibandingkan samudera lainnya yang ada di Bumi. "Gletser di sana lebih biru, udaranya lebih dingin, pegunungannya lebih menakutkan, dan pemandangannya lebih menawan daripada tempat lain yang bisa Anda kunjungi," ungkapnya.

Ahli biologi kelautan National Geographic, Sylvia Earle menimpali kalau kawasan samudera ini dikelilingi oleh arus Lingkar Antarktika yang sangat cepat.

"Ini adalah satu-satunya samudera yang menyentuh 3 samudera lainnya dan yang sepenuhnya memeluk sebuah benua ketimbang dipeluk oleh mereka," jelas Earle.

Banyak Fauna Unik 

Alex Tait menyebut banyak fauna endemik yang terdapat di sana. Bahkan, fauna yang hidup di sana dapat dikatakan unik, mulai dari paus bungkuk, hingga beberapa jenis anjing laut."Penguin, ikan, dan kehidupan burung yang melimpah di Samudera Selatan berdasarkan faktor lingkungan tersebut," ujarnya.

National Geographic, lanjut dia secara resmi menggunakan 60 derajat lintang selatan untuk menggambarkan batasan perairan Samudera Selatan.

Meski demikian, Australia menganggap segala sesuatu di selatan negaranya sebagai Samudra Selatan. Perubahan iklim juga dianggap berperan dalam penentuan perbatasannya.

Sylvia Earle mengapresiasi pembaruan kartografi atau pembaharuan pemetaan tersebut dengan mengakui adanya samudera baru di muka bumi. "Bravo! Karena secara resmi mengakui perairan di sekitar Antarktika sebagai Samudera Selatan," ungkapnya.​

Legal & Campaign Greenpeace Indonesia, Arifsyah Nasution mengamini pernyataan Alex Tait kalau kawasan samudera ini sudah lama disebut sebagai Samudera Selatan, terutama oleh peneliti kelautan.

"Kalau disebut penemuan baru mungkin kurang tepat tapi penetapan dari  penamaan samudera oleh National Geographic. Jadi nanti ketika mereka bikin artikel atau tulisan ilmiah soal kawasan ini, mereka punya nama penyebutannya," kata Arifsyah kepada Asumsi.co melalui sambungan telepon, Jumat (25/6/21).

Perlu Kampanye Perlindungan Samudera Selatan

Arifsyah menilai alasan National Geographic mantap menamakan kawasan perairan ini Samudera Selatan karana hasil kajian berdasarkan akurasi geografis. 

"Kalau dalam pandangan saya sebenarnya cukup wajar karena ini hasil identifikasi para ilmuwan sebenarnya. Hasil penelitian kalau secara geografis memang akurasinya dekat dengan kawasan Antartika. Istilah Samudera Selatan sudah lama ada, tapi baru diangkat sekarang sebetulnya," jelas dia.

Selain pertimbangan geografis, ia mengatakan secara ekosistem kawasan Samudera Selatan cukup mewakili untuk mendapatkan penamaan kawasan baru. 

"Dalam pandangan kami, ini sebetulnya secara ekologi sah-sah saja disebut Samudera Baru karena ada fauna unik dan kondisi suhunya berbeda," terangnya.

Baca Juga: Ilmuwan Sebut Alien Bisa Mata-matai Bumi dari 29 Planet Ini

Namun menurutnya, penamaan Samudera Selatan untuk disahkan secara hukum sebagai nama perairan internasional perlu melalui dipertimbangjan secara matang.

"Kalau secara legal, hukum internasional wilayah ini dikelola berbagai negara pastinya akan dikaji lebih lanjut sepetti apa dampak legalnya. Misalnya, saat disahkan namanya lalu jadi banyak dikunjungi untuk melakukan penangkapan ikan. Dikhawatirkan, negara yang memiliki perlengkapan armada jarak jauh seperti Tiongkok melalukan penangkapan ikan besar-besaran," tuturnya.

Maka, ia mengharapkan dengan adanya inisiatif National Geographic menamakan Samudera Selatan, mereka juga bisa mengkampanyekan Samudera Selatan sebagai kawasan perairan yang harus dilindungi ekosistemnya.

"Perlu dikampanyekan juga oleh National Geographic untuk melindungi alam dan habitat fauna yang ada di sana. Dengan demikian, bisa menguatkan konserrvasi kawasan tersebut. Supaya keanekaragaman hayati yang ada di sama tidak hilang," tandasnya.

Share: Ada Samudera ke Lima, Greenpeace Ingatkan Perlindungan Ekosistem Samudera Selatan