Internasional

Biden Akan Akui Genosida Armenia, Bagaimana Rumitnya Pengakuan Ini?

OlehIrfan Muhammad

featured image
Medium/Joe Biden

Presiden Amerika Serikat Joe Biden diperkirakan akan secara resmi mengakui pembantaian orang-orang Armenia oleh Kekaisaran Ottoman selama Perang Dunia Pertama sebagai tindakan genosida. Terjadi pada 1915 sampai 1917, isu pembantaian tersebut selama ini jadi perdebatan dan hanya diterima oleh sedikit negara saja.

Karena isunya yang kontroversial, keputusan Biden mengakui pembantaian orang Armenia kemungkinan besar akan membuat Turki, sebagai negara yang berasal dari Kekaisaran Ottoman, marah. Dikutip dari Reuters, pengakuan ini juga akan melanjutkan ketegangan antara Ankara dan Washington yang dalam beberapa waktu terakhir sudah berselisih tentang serangkaian masalah.

saya berjanji untuk mendukung resolusi yang mengakui Genosida Armenia – Joe Biden

Informasi terkait pengakuan ini berlangsung seiring peringatan tahunan yang digelar oleh bangsa Armenia setiap 24 April sejak 1919. Namun, sumber yang dikutip Reuters juga memperingatkan bahwa hubungan bilateral dengan Turki tetaplah penting sehingga Biden mungkin masih memilih untuk tidak menggunakan istilah genosida pada menit-menit terakhir.

Baca juga: Kenapa WNI Diimbau Tidak Jadi ART di Turki? | Asumsi

Pengakuan atas genosida Armenia buat Biden bukan hal baru. Isu ini bahkan menjadi satu hal yang disampaikan olehnya saat masih menjadi calon Presiden AS tahun lalu. Pada hari peringatan di tahun 2020, Biden, melalui akun Twitter-nya, menyebut akan menjadikan hak asasi manusia universal sebagai prioritas utama.

"Hari ini, kami mengingat kekejaman yang dihadapi oleh orang-orang Armenia di Metz Yeghern - Genosida Armenia. Jika terpilih, saya berjanji untuk mendukung resolusi yang mengakui Genosida Armenia dan akan menjadikan hak asasi manusia universal sebagai prioritas utama,” cuit Biden.

Turki selama ini memang tak menyangkal ada orang Armenia yang tewas dalam bentrokan dengan pasukan Ottoman selama Perang Dunia Pertama. Tapi, Turki membantah angka yang disebut Armenia dan menyangkal bahwa pembunuhan itu diatur secara sistematis dan merupakan pembantaian etnis.

Armenia sendiri meyakini sekitar satu juta lebih orang, baik laki-laki, perempuan, dan anak, meninggal dalam kejadian itu.

Selama beberapa dekade, upaya pengakuan genosida Armenia terhenti di Kongres AS dan presiden AS telah menahan diri untuk tidak menyebut kejadian itu sebagai genosida. Alasannya dipicu oleh kekhawatiran tentang hubungan dengan Turki dan lobi yang intens oleh Ankara.

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan memang menjalin ikatan erat dengan mantan Presiden AS Donald Trump, tetapi dia belum berbicara dengan Biden sejak Biden menjadi presiden pada 20 Januari 2021 lalu. Sementara pemerintahan Biden telah meningkatkan tekanan terhadap Turki dengan sering mengungkapkan ketidakpuasannya atas rekam jejak hak asasi manusia Ankara dan kesenjangan antara kedua belah pihak terkait sejumlah masalah, termasuk pembelian senjata Rusia oleh Turki dan perbedaan sistem dan kebijakan di Suriah.

Pengakuan Internasional

Pengakuan genosida atas etnis Armenia oleh Kekaisaran Ottoman sudah diajukan berkali-kali oleh kongres AS. Pada 2007, mengutip laman DW.com, Bush juga didesak untuk menyatakan pengakuan genosida. Namun dia menolaknya. Pada 2019, Senat AS lebih dulu secara resmi mengeluarkan resolusi yang mengakui terjadinya genosida Armenia yang dilakukan Kekaisaran Ottoman pada 1914 hingga 1923. Jumlah korban tercatat mencapai 1,5 juta orang.

Dari banyak negara di dunia, pembantaian ini baru diakui sebagai genosida oleh 29 negara, termasuk Armenia. Pengakuan pertama disampaikan oleh Paraguay pada 1965 yang kemudian diikuti secara bertahap oleh negara-negara Amerika Latin lainnya, seperti Argentina, Bolivia, Brasil, Chili, Uruguay, dan Venezuela. Sementara di kawasan Eropa, negara yang mengakui di antaranya adalah Austria, Belanda, Belgia, Ceko, Italia, Jerman, Lithuania, Luksemburg, Prancis, Polandia, Rusia, Slowakia, Swedia, Swiss, Vatikan, Yunani.

Baca juga: Erdogan vs Macron, Ada Apa? | Asumsi

Empat negara lain yang juga menyebut pembantaian itu sebagai genosida adalah Kanada, Lebanon, Suriah, dan Siprus.

Sementara banyak negara lain enggan terlalu jauh mengambil posisi dalam peristiwa pembantaian ini demi menjaga hubungan diplomatik dengan Turki yang dianggap lebih penting.

Peristiwa 1915 Dari Sisi Armenia

Bagi orang Armenia dan negara yang mengakui pembantaian tersebut sebagai genosida, peristiwa ini dianggap sebagai genosida pertama di zaman modern. Lebih jauh lagi, kejadian ini disebut-sebut mengilhami Adolf Hitler untuk melakukan pembantaian terhadap kaum Yahudi.

Holocaust Encyclopedia menyebut, kata genosida bahkan digagas oleh pengacara Raphael Lemkin karena kejadian ini. Lemkin berulang kali menyatakan bahwa paparan awal cerita di surat kabar tentang kejahatan Ottoman terhadap orang Armenia adalah kunci keyakinannya tentang perlunya perlindungan hukum kelompok yang kemudian menjadi elemen inti dalam Konvensi Genosida PBB tahun 1948.

Bagi pihak yang mengakui genosida 1915, Otoritas Ottoman, didukung oleh pasukan tambahan dan terkadang oleh warga sipil, melakukan sebagian besar penganiayaan dan pembunuhan massal pada orang Armenia sejak 24 April 1915.

Orang Armenia yang hidup di teritori Ottoman sebagai minoritas Kristen saat itu memang kerap mendapat diskriminasi. Namun ketika Perang Dunia 1 pecah, Turki yang kalah dari Rusia menumpahkan kekesalannya pada orang Armenia yang dianggap pro-Rusia.

Baca juga: Kalau Dua Negara Kecil ini Perang, Imbasnya Bisa Panjang | Asumsi

​Merasa terancam, pada April 1915, orang-orang Armenia di Kota Van membarikade diri dari serangan Ottoman. Sayangnya, barikade ini justru jadi legitimasi Ottoman untuk bersikap lebih keras pada Armenia. Tanggal 24 April 1915, lantas menandai penangkapan sekitar 250 intelektual dan politikus Armenia di Istanbul, termasuk beberapa deputi yang duduk di parlemen atas perintah Mehmet Talat Pasa, Menteri Dalam Negeri Kekaisaran Ottoman.

Tidak berhenti sampai di situ, Ottoman juga melanjutkan kebijakan dengan mendeportasi seluruh warga Armenia keluar dari wilayahnya. Orang Armenia yang dideportasi lantas dituntun keluar dari kampung halaman menyusuri lembah dan gunung menuju kamp konsentrasi di gurun Suriah dekat Deir ez-Zor.

Dalam perjalanan yang diawasi langsung oleh pejabat sipil dan militer Ottoman, tak sedikit orang Armenia yang dianiaya, dirampok, diculik dan dibunuh oleh para tentara dan beberapa orang-orang Kurdi serta orang Sirkasia. Ketika tiba di kamp-kamp gurun Suriah, mereka dibiarkan hidup di lingkungan tandus sampai mati atau malah dibunuh.

Kelompok musik rock, System of A Down (SoAD) yang memang dipenggawai oleh orang-orang Armenia-Amerika mengabadikan episode pilu ini dalam lagu mereka "Holy Mountains". Pengalaman penyintas yang dikisahkan kakek gitar SoAD, Daron Malakian juga digubah menjadi lagu bertajuk "Lonely Day" yang punya bagian akhir mendalam: "It's a day that I'm glad I survived".

Peristiwa 1915 Dari Sisi Turki

Sementara Turki, tetap kukuh pada pendapat kalau peristiwa ini merupakan kerusuhan berdarah di tengah Perang Dunia pertama. Yang tewas, menurut Turki, bukan cuma kaum Kristen Armenia, namun juga kaum Muslim Turki

Mengutip Republika, Asosiasi Mahasiswa Turki di Universitas Stanford di situs web.stanford.edu, mengisahkan ketika Perang Dunia I dimulai, Armenia membentuk milisi untuk membantu pasukan Rusia masuk ke Anatolia. Pemberontakan besar-besaran di berbagai belahan Anatolia, terutama kota Van, menciptakan kepanikan di barisan tentara Turki. Pada Februari 1915, populasi Muslim dan lokal Armenia di negara itu juga sedang terlibat konflik komunal yang sengit.

Baca juga: Syamsuri Dipeluk Presiden Turki Karena Pandai Mengaji | Asumsi

Pada April 1915, Ottoman menarik pasukannya dari timur dan Armenia menguasai beberapa provinsi tertentu di wilayah itu. Pada akhir April, Ottoman memerintahkan relokasi warga Armenia. Bulan-bulan selanjutnya warga Armenia mengalami penderitaan kala diangkut ke provinsi kekaisaran Suriah. Mereka banyak diserang oleh kelompok lokal, geng, menderita kelaparan dan terkena epidemi. Kesulitan melalui wilayah pegunungan dan gurun juga membuat mereka menderita.

Relokasi warga Armenia dimulai setelah tentara Rusia dan Armenia bergerak ke Anatolia. Sebagian relokasi terbatas pada wilayah-wilayah di sekitar garis pertempuran. Tapi kekejaman juga terjadi di provinsi-provinsi yang berada di bawah kontrol Armenia. Kekejaman skala yang sama berlangsung dan populasi Muslim banyak yang melarikan diri untuk menyelamatkan kehidupan mereka.

Sejarawan terkemuka, Bernard Lewis dan Stanford Shaw menyatakan, tak ada kebijakan resmi pemerintah terkait perintah genosida. Klaim ini didasarkan pada arsip Utsmani yang komprehensif dimana di dalamnya menyatakan tak ada dokumen yang menunjukkan adanya rencana untuk hal itu.

Share: Biden Akan Akui Genosida Armenia, Bagaimana Rumitnya Pengakuan Ini?