post

Current Affairs

Erdogan vs Macron, Ada Apa?

MM Ridho, 27 Oktober 2020

Foto: Ludovic Marin/AFP

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dikecam. Komentarnya tentang tindakan Presiden Emmanuel Macron terhadap masyarakat muslim di Prancis dianggap tidak patut.

Dalam pertemuan Partai Keadilan dan Pembangunan di Kayseri, ia mempertanyakan apa sebenarnya masalah Macron terhadap Islam dan masyarakat muslim.

"Macron membutuhkan penanganan kesehatan mental,” kata Erdogan. “Apa lagi yang bisa dikatakan tentang seorang kepala negara yang tidak percaya pada kebebasan beragama dan berperilaku seperti ini terhadap jutaan orang dari berbagai agama yang tinggal di negaranya sendiri?"

Otoritas Prancis bereaksi dengan menegur Erdogan serta memanggil duta besarnya di Ankara, Turki, untuk “mengevaluasi” situasi yang sedang berlangsung.

"Berlebihan dan kasar bukanlah cara yang tepat. Kami menuntut agar Erdogan mengubah arah kebijakannya karena berbahaya dalam segala hal. Kami tidak [ingin] terlibat ke dalam polemik yang tidak perlu dan tidak menerima penghinaan," ujar juru bicara Istana Kepresidenan Prancis Elysée kepada CNN.

Ia juga menambahkan, alih-alih menyampaikan belasungkawa kepada keluarga Samuel Paty, Erdogan justru menyerukan boikot terhadap produk-produk Prancis.

Komentar keras Erdogan tersebut dipicu oleh sikap Macron yang berniat menindak "Islamisme radikal" di Prancis, setelah negara itu digemparkan oleh pembunuhan Samuel Paty pada 16 Oktober lalu.

Paty adalah seorang guru SMP di Prancis, ia dibunuh setelah menunjukkan karikatur kontroversial Nabi Muhammad dari tabloid Charlie Hebdo dalam kelas kebebasan berekspresi yang diampunya.

Pembunuhan oleh tersangka yang diduga terhubung dengan jaringan ekstremis di Suriah itu menghidupkan kembali ketegangan horizontal di Prancis. Polisi Prancis juga mendatangi lusinan kelompok Islam yang diduga ekstremis dengan dalih membendung fundamentalisme agama.

Dilansir dari The Guardian, Macron mengatakan kepada jajaran menterinya: “Ketakutan akan berpindah sisi. Para Islamis tidak boleh dibiarkan tidur nyenyak di negara kita.”

Sebelumnya, perseteruan Erdogan dan Macron pernah beberapa kali terjadi. Di antaranya terkait kasus kegiatan eksplorasi hidrokarbon Turki di Mediterania Timur; dukungan Turki terhadap operasi militer Azerbaijan di Nagorno-Karabakh; serta Turki yang menginisiasi pengiriman tentara Suriah ke Tripoli, Libya, setelah menganggap Uni Eropa membiarkan kota itu jatuh ke tangan musuh Ikhwanul Muslimin.