Keuangan

Investasi atau Dana Darurat, Mana yang Prioritas?

OlehIlham Anugrah

featured image
Unsplash

Banyak orang yang bingung ketika menyusun prioritas keuangan, apakah dana darurat atau investasi. Pada dasarnya keduanya sangat penting, sehingga perlu dipersiapkan. Perlu jadi catatan definisi dana darurat adalah dana yang dicadangkan, di luar pos-pos pengeluaran dan tabungan. Dana darurat hanya akan dikeluarkan untuk kebutuhan mendesak, misalnya jika salah satu anggota keluarga mengalami Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) saat pandemi, maka dana daruratlah yang akan digunakan. Sedangkan investasi adalah dana yang ditanamkan dalam jangka panjang untuk kebutuhan masa depan.

Adapun mana yang lebih dahulu, dana darurat atau investasi, berikut ini tips bagaimana mempersiapkannya.

Cicil Pelan-pelan

Tejasari dari Tatadana Consulting menjelaskan, jika ditanya mana dahulu, investasi atau dana darurat. Secara teori, dana darurat lebih penting dipersiapkan terlebih dahulu ketimbang investasi.

Menurut Teja, tidak semua orang bisa mengumpulkan dana darurat, dalam kurun waktu cepat. Biasanya budget dana darurat bisa berkali-kali lipat dari biaya bulanan.

Baca Juga : Bisakah Investasi Saham Dengan Modal Rp500 Ribu?

“Ini artinya bila biaya bulanan adalah Rp3 juta, berarti ia harus menyiapkan Rp15 juta untuk dana darurat,” katanya saat dihubungi Asumsi.co, Minggu (20/6/2021).

Senada dengan Tejasari,  Perencana Keuangan Gita Bagia Romadhoni mengatakan, bahwa dana darurat harus dipersiapkan terlebih dahulu ketimbang investasi. Ia mengatakan biasanya untuk mereka yang belum berkeluarga harus menyiapkan dana darurat sebesar 6-12 kali biaya bulanan.

“Kalau untuk yang sudah bekeluarga, bisa enam kali sampai 12 kali biaya bulanan,” Katanya.

Investasi dan Dana Darurat Berbarengan

Sebagian orang, mungkin ada keinginan untuk menyiapkan dana darurat dan investasi secara bersamaan. Menurut Teja, itu tidak masalah asal bisa mengalokasikan pendapatannya dengan dana darurat dan investasi. Ia menyarankan apabila ingin berinvestasi tidak ditaruh di tempat yang agresif (pendapatan banyak tapi resiko besar), seperti saham atau kripto.

“Terkadang ada orang yang punya keinginan untuk investasi, sambil mengalokasikan dana darurat. Dengan cara ini bisa dilakukan berbarengan, tapi memang untuk investasinya jangan sektor yang fluktuaitf.  Kalau memilih saham, nanti takut ruginya besar. Pilihlah yang moderat, seperti reksadana pasar uang atau pendapatan tetap,” beber dia.

Buat Rekening Berbeda atau Deposito

Menurut Teja, sebetulnya tidak harus membuat dua rekening. Namun, agar dana darurat itu tidak terpakai, memang dikhususkan untuk darurat, ia menyarankan untuk membuat dua rekening.

“Satu untuk tabungan reguler, satu lagi dana darurat. Itu memang harus terpisah supaya tidak terpakai,” katanya.

Baca Juga : Asal Main Saham Dosanya Sama Kayak Judi

Sedangkan Gita Bagia menganjurkan untuk menaruh dana darurat di instrumen keuangan yang liquid seperti tabungan, deposito.

“Bukan di tempat-tempat yang kalau kita mau cairin, mengurangi pokok kayak di saham. Itu terlalu beresiko,” katanya.

Sedangkan Dhoni mengatakan, terkait seberapa besar alokasinya bisa disederhanakan dengan tabungan dahulu dari satu kali pengeluaran.

“Kalau sudah bisa mengalokasikan lebih, bisa ke deposito, bisa ke emas. Karena kita kan menghadapi resiko, nilai mata uang turun. Dengan menaruh di beberapa tempat itu, untuk mengurangi resiko nilai mata uang turun,” katanya.

Berapa Persentase Dana Darurat dan Investasi

Menurut Teja, persentase untuk dana darurat maupun investasi bisa diambil dari gaji dengan minimal 10 persen atau lebih. Ia mencontohkan, bila gaji pekerja Rp3 juta berarti minimal untuk investasi dan dana darurat adalah 50:50. Namun, ia menyarankan untuk melebihi porsi persentasenya, menjadi 20 persen.

“Nah kalau kita ingin kita punya dana darurat juga, investasi juga, maka ditambah Rp1 juta,” katanya.

Ia menyarankan dalam menyiapkan dana darurat dan investasi tidak boleh berutang. Kalau bisa dikumpulkan sedikit demi sedikit.

“Jangan ngutang untuk dana darurat. Kondisi darurat kita nggak tahu, jadi tidak disarankan untuk hutang. Kalau bisa dikumpulkan sedikit demi sedikit. Kalau hutang kan berbunga, tetap nabung pelan-pelan daripada dengan hutang,” katanya.

Sedangkan Dhoni menganjurkan bahwa ketika kita menyiapkan dana darurat, berarti kita sudah menyiapkan apa yang akan terjadi nanti di beberapa bulan ke depan. misalnya hal yang terbutuk malah terjadi yaitu, PHK.

“Seberapa besar kita yakin, bisa mendapatkan gaji yang sama dengan sekarang. Kalau kita yakin, setahun lagi, berarti kita butuh 12 kali dana darurat,” katanya.

Share: Investasi atau Dana Darurat, Mana yang Prioritas?