Covid-19

Vaksinasi Dipercepat, Efektifkah di Tengah Lonjakan Covid-19?

Irfan Muhammad– Asumsi.co

featured image
Unsplash.com

Kasus Covid-19 melonjak tajam. Selaras dengan perkiraan epidemiolog saat musim lebaran kemarin, peningkatan kasusnya pun hampir merata di seluruh wilayah. Jawa Timur, misalnya, sampai menutup akses Jembatan Suramadu karena peningkatan kasus di Madura. Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil, juga menerapkan siaga satu untuk Bandung Raya. Ia meminta tak ada orang luar masuk ke Bandung. Sementara di Wisma Atlet, antrean pasien mengular, bahkan sampai ada pasien yang duduk di lantai.

Berdasarkan data BNPB per 15 Juni 2021, angka Covid-19 melonjak 8.161 menjadi 1.927.708 kasus. Di tengah situasi yang mengkhawatirkan ini, sejumlah upaya disiapkan. Salah satunya melalui akselerasi pemberian vaksin. Presiden Joko Widodo, misalnya, meminta target vaksinasi jadi satu juta per hari mulai Juli nanti.

Ketua Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPC-PEN) Airlangga Hartarto dalam rapat Kabinet, Senin (14/6/2021), menjelaskan, langkah lain yang akan dilakukan adalah menyiapkan tambahan penampungan ruang isolasi di rumah sakit di kabupaten dan kota yang masuk di zona merah corona Covid-19.

"Menyikapi kenaikan di Jawa Barat, Jawa Tengah, dan DKI Jakarta, beberapa langkah perlu dilakukan pemerintah. Untuk meningkatkan fasilitas rumah sakit menjadi 40% (untuk isolasi pasien covid-19), terutama kabupaten zona merah dan kota zona merah, juga menyediakan RS rujukan, seperti di Semarang dan Surabaya untuk Kudus dan Bangkalan," kata Airlangga dikutip dari Kontan.

Baca juga: Masyarakat Mulai Tak Ragu Vaksinasi, Ini Alasannya! | Asumsi

Tes Lebih Utama

Menanggapi hal ini, Epidemiolog Griffith University Australia, Dicky Budiman menilai, perlu perubahan paradigma dalam penanganan Covid-19. Upaya 3T atau tindakan melakukan tes Covid-19 (testing), penelusuran kontak erat (tracing), dan tindak lanjut berupa perawatan pada pasien (treatment) mestinya menjadi cara utama dalam melacak dan menangani pandemi ini.

"Sementara pemerintah pusat masih melihat testing sendiri tidak dalam konteks yang benar. Misalnya, Jakarta dengan kapasitas testing dianggap paling bermasalah. Padahal yang bermasalah adalah daerah yang kapasitas testingnya buruk," kata Dicky kepada Asumsi.co, Rabu (16/6/2021).

​Menurut Dicky, pemahaman yang salah kaprah ini bisa fatal. Sebab, ketidakpahaman dalam membaca situasi dan mempersiapkan strategi yang benar akhirnya akan membuat ledakan Covid-19 lebih buruk. "Jadi ini harus dimulai dengan melihat lebih dulu masalahnya secara benar. Baru strateginya juga benar," ucap dia.

​Dicky tak memungkiri kalau lonjakan kasus belakangan disebabkan oleh tidak tegasnya pemerintah dalam mencegah mobilitas saat lebaran kemarin. Namun, lain dari itu, saat ini juga bisa dilihat puncak dari satu tahun perjalanan Covid-19.

"Itulah sebabnya 3T-nya harus benar-benar. Testing, tracing ini harus ditingkatkan. Dengan 3T yang terjaga, kita bisa mencegah orang yang membawa virus berkeliaran," ucap dia.

​Adapun mengenai upaya percepatan vaksinasi dalam mencegah lonjakan kasus, Dicky menyebut hal ini memang perlu diakselerasi. Meski terbilang mepet, vaksin sebagai salah satu proteksi harus bisa dilakukan dengan baik dan seluas-luasnya.

​"Efektivitasnya tentu ada. Setidaknya untuk menjaga diri kita dari virus ini," ujar Dicky.

Baca juga: Mahalnya Harga Vaksin Gotong Royong, Bisa Jadi Celah Perusahaan Nakal? | Asumsi

Mungkinkah PSBB Lagi?
Pemerintah dan publik tentu akan sulit untuk mengkondisikan diri kembali dalam situasi Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) seperti tahun lalu. Namun, dalam kondisi yang buruk seperti sekarang, semua hal sangat mungkin terjadi. Dicky menyebut, di waktu dekat bisa jadi pemerintah terpaksa memberlakukan kembali PSBB sambil vaksinasi dan 3T.

"Ini perlu disiapkan sebagai opsi skenario terburuk. Untuk mencegah harus ada perubahan pemahaman dalam strategi tadi," ucap dia.

Dicky mengatakan, saat ini kondisinya memang membuat Indonesia kepepet. Karena strategi yang tidak tepat dan cepat di awal, tak heran kalau pekerjaan rumahnya sekarang menumpuk. Ia pun memprediksi setidaknya PSBB akan dilakukan di Jawa.

"Besar kemungkinan akan terjadi, setidaknya di Pulau Jawa, meskipun mungkin tidak akan terlalu lama dengan kombinasi vaksin dan 3T tadi," ujar dia.

Baca juga: Jokowi: Vaksin Gotong Royong Baru Tersedia 420 Ribu Dosis

Stok Vaksin Aman
​Mengutip CNN Indonesia, PT Bio Farma (Persero) memastikan stok vaksin Indonesia aman. Menurutnya, Indonesia bisa dapat hampir 400 juta dosis vaksin Covid-19 berbagai merek pada akhir tahun ini.

Juru Bicara Pemerintah untuk Vaksinasi dari Bio Farma Bambang Heriyanto menyebut jumlah vaksin tersebut berasal dari Sinovax, Covax, AstraZeneca, dan Novavax. Secara rinci, Sinovax berkomitmen mendistribusikan 260 juta dosis, 50 juta dosis dari AstraZeneca, 50 juta dari Novavax. Dari ketiga merek tersebut, jumlah vaksin mencapai 360 juta dosis.

Covax juga akan memberi sebanyak 11,7 juta vaksin. Angka tersebut bisa ditambah menjadi setara 20 persen dari total populasi atau 54 juta dosis lewat negosiasi bilateral. Bila negosiasi berhasil, maka total vaksin dari keempat merek tersebut mencapai 414 juta dosis.

​Sebagai informasi, untuk mengejar herd immunity, dibutuhkan setidaknya 363 juta dosis vaksin untuk 181,5 juta orang. Angka tersebut di luar dari vaksin program Gotong Royong, yaitu Sinopharm sebesar 7,5 juta dosis dengan opsi bisa ditambahkan lagi sebesar 7,5 juta dosis dan vaksin dari Cansino sebanyak 5 juta dosis.

Share: Vaksinasi Dipercepat, Efektifkah di Tengah Lonjakan Covid-19?