featured

Foto: Unsplash

Vaksin Covid-19

12 Mei 2021

Masyarakat Mulai Tak Ragu Vaksinasi, Ini Alasannya!

Ray

Kabar baik! Keraguan masyarakat Indonesia terhadap vaksin Covid-19 terus menurun. Hal ini diketahui berdasarkan COVID-19 Symptom Survey Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) yang dijalankan University of Maryland, dengan kemitraan bersama Facebook. 

80,8 Persen Masyarakat Indonesia Bersedia Divaksin 

Kepala Kebijakan Publik untuk Facebook di Indonesia, Ruben Hattari mengatakan, survei dilakukan pada 10 Januari hingga 31 Maret 2021. Data survei dikumpulkan dan diolah oleh University of Maryland, dengan mengedepankan privasi semua responden. 

Laporan survei ini menganalisis data dari 178.988 responden dalam periode 10 Januari hingga 31 Maret 2021. Hasil survei menyebutkan, keraguan masyarakat untuk mendapatkan vaksin telah menurun dari 28,6% menjadi 19,2%, selama periode Januari-Maret 2021. Artinya, sebanyak 80,8% bersedia menerima vaksin Covid-19. 

Baca juga: Intervensi DPR di Vaksin Nusantara Ganggu Sistem Pengawasan Obat dan Makanan | Asumsi

"Saya berharap laporan survei ini, yang dimana tanggapannya dikirim ke para peneliti langsung dan tidak dapat diakses oleh Facebook, dapat membantu mengurangi dampak negatif yang disebabkan oleh pandemi. Saya juga berharap agar kami dapat terus bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Tidak hanya di tahun ini, namun seterusnya,” ujar Kepala Kebijakan Publik Facebook Indonesia, Ruben Hattari

Sekretaris Jenderal Kemenkes RI, Oscar Primadi pun menyambut baik hasil survei ini. Menurutnya, data yang akurat sangat penting dalam upaya penanggulangan Covid-19 dan formulasi kebijakan yang tepat untuk vaksin Covid-19. 

"Kami senang melihat laporan yang positif dari COVID-19 Symptom Survey. Hasil survei menunjukkan keberhasilan program Kemenkes RI untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terkait pentingnya vaksin ini,” ujarnya. 

Keraguan Vaksinasi dan Perilaku Berisiko Masyarakat

Dari sisi alasan keragu-raguan, survei memperlihatkan bahwa sebanyak 49,2% orang dewasa ragu-ragu terhadap vaksin karena khawatir efek sampingnya. Lalu 34,9% ragu-ragu karena ingin menunggu dan melihat situasi dulu.

Dari kelompok demografis utama, keragu-raguan vaksin di Indonesia paling banyak dari kelompok muda, dengan rentang usia 18 hingga 24 tahun sebesar 20,9% dan usia 25 sampai 34 tahun sebesar 21,4%.

Jika dibandingkan antar provinsi, Riau dan Sumatera Selatan memiliki keragu-raguan vaksin tertinggi di antara kelompok usia 18 sampai 24 tahun, masing-masing sebesar 32,1% dan 31,7%. Sedangkan Banten dan Bali memiliki keragu-raguan vaksin yang paling rendah di antara kelompok usia ini. Masing-masing sebesar 14,8% dan 13,3%.

Selain itu, disampaikan pula adanya perilaku berisiko yang dilakukan masyarakat pada bulan Maret. Sebanyak 86% orang Indonesia yang disurvei melaporkan selalu atau sebagian besar mengenakan masker saat berada di depan umum. Survei mencatat, penggunaan masker tertinggi di Bali sebesar 92% dan terendah Aceh sebanyak 72%.

Pada bulan Maret juga ada temuan dimana lebih banyak orang Indonesia melaporkan kontak langsung dengan orang yang tidak tinggal bersama mereka, dibandingkan dengan bulan Februari. Persentasenya, yakni dari 36% menjadi 38%. Peningkatan kontak langsung paling disoroti adalah Nusa Tenggara Barat, Kepulauan Riau, dan Sulawesi Selatan.

Vaksin Sinovac Dinilai Ampuh

Vaksin Covid-19 yang saat ini tersedia di Indonesia diketahui baru ada buatan Sinovac dan AstraZeneca. Dikaitkan dengan hasil survei ini, laporan Bloomberg melaporkan, Sinovac menjadi vaksin yang dianggap ampuh untuk melindungi masyarakat dari paparan Covid-19. 

Ketua Tim Peneliti Survey Efektivitas Vaksin Kemenkes, Panji Dewantara mengatakan, dari 128.290 tenaga kesehatan yang divaksin (menggunakan Sinovac) di Jakarta dalam periode Januari hingga Maret 2021, ditemukan bahwa vaksin melindungi 98% di antaranya dari kematian dan 96% dari rawat inap. Hal ini diketahui setelah usai penyuntikan vaksin dosis kedua. Kemenkes RI juga menyatakan, 94% pekerja terlindungi dari penularan virus Corona tanpa gejala.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyebut terjadi penurunan yang sangat drastis dalam kasus rawat inap dan kematian di kalangan pekerja medis. Dengan demikian, disimpulkan bahwa penggunaan vaksin Sinovac ampuh untuk melawan virus Corona.

Baca juga: Mahalnya Harga Vaksin Gotong Royong, Bisa Jadi Celah Perusahaan Nakal? | Asumsi

Dalam wawancara terpisah dengan Bloomberg, Selasa (11/5/2021), Kepala Eksekutif Sinovac Yin Weidong mengatakan, ini menjadi bukti bahwa vaksin CoronaVac buatan mereka ampuh saat diterapkan di dunia nyata.

Menyikapi hal ini, Dokter Spesialis Paru RS Persahabatan dr. Erlina Burhan mengatakan, klaim vaksin buatan Sinovac ampuh melawan Covid-19 tak terlepas dari ketersediaannya yang paling banyak.

"Vaksin kita sekarang kan memang cuma dua. AstraZeneca sekarang cuma ada 1 juta dosis. Jumlah ini paling cuma buat 500.000 orang. Kalau Sinovac kan ada puluhan juta dosis," kata Erlina saat dihubungi Asumsi.co, Rabu (12/5/21).

Selain itu, ia menilai, masyarakat perlu diedukasi soal kabar ada yang meninggal dunia usai divaksin AstraZeneca. Menurutnya, hal tersebut belum tentu terbukti. "Berita-berita tentang hal ini jangan sampai nanti memengaruhi orang jadi enggak mau divaksin lagi. Bisa saja kejadian itu coincidence, kebetulan terjadi. Masyarakat harus diedukasi lebih lanjut soal ini," terangnya.

Kesadaran Vaksinasi Meningkat di Masyarakat Perkotaan

Sementara itu, soal semakin banyak masyarakat Indonesia yang menyatakan bersedia divaksin, seperti hasil survei yang disampaikan Kemenkes RI, menurutnya, kemungkinan karena kesadaran masyarakat yang tinggal di perkotaan, terutama di Ibu Kota, untuk melakukan vaksinasi meningkat. 

"Sepertinya di kota besar meningkat banyak kesadaran mereka terhadap vaksin. Mereka yang kategori pegawai kantoran, usia muda menunggu divaksin, tapi sekarang vaksinnya belum ke mereka targetnya, masih lansia. Sekarang, tinggal bagaimana dari pemerintah daerah setempat mengedukasi dan memastikan prosesnya berjalan lancar dan nyaman," tuturnya. 

Pakar epidemiologi asal Universitas Airlangga (Unair), Windhu Purnomo menimpali, ada sejumlah faktor yang memungkinkan kesadaran masyarakat Indonesia untuk divaksinasi meningkat.

Pertama, komunikasi publik yang dilakukan pemerintah, khususnya di Kementerian Kesehatan, sudah lebih baik dibandingkan sebelumnya.

"Mungkin yang tadinya belum bagus, saat ini jadi lebih baik. Hoaks soal vaksin juga belakangan berkurang," ucapnya.

Kemungkinan lainnya karena peran para tokoh masyarakat yang berpengaruh, mulai dari pejabat publik, tokoh agama, sampai influencer dalam melakukan vaksinasi. 

"Hal ini bikin masyarakat jadi kepingin dan percaya. Selain itu juga setelah melihat keluarga atau rekan terdekat yang divaksin, ternyata terlindungi. Ini juga bisa jadi penyebabnya," kata dia.

Share: Masyarakat Mulai Tak Ragu Vaksinasi, Ini Alasannya!